Di suatu pagi, saya sedang ingin sekali berkendara motor ke kantor. Berangkat lah saya pukul 5.30. Perkiraan waktu perjalanan 60-75 menit sampai kantor. Di perjalanan agak sepi. Terbesit pikiran untuk sedikit tancap gas supaya bisa tiba lebih cepat dan bisa tidur pagi di kantor. Tiba-tiba terdengar suara BRAKKKKKK!!! TREZZSS!!!. Sekilas kuintip di kaca spion, sepertinya sebuah motor menabrak Alphard dan terpental. Tak jelas nasibnya, tapi dari suaranya, sepertinya lumayan parah kecelakaan itu. Saya tak berani berhenti untuk melihat TKP. Tapi laju motor jadi melambat, hingga sampai kantor ternyata tetap butuh waktu 75 menit.
Saya adalah pengguna ojek online. Terutama di pagi dan sore hari untuk transportasi Stasiun-Kantor-Stasiun. Dan pagi itu terasa beda. Bapak drivernya lambat banget. Kesal? Banget! Lalu sayup-sayup saya dengar Bapaknya seakan ngajak ngobrol, "Mas, di Lapangan Banteng lagi ada Flona ya?". Saya diamkan karena kesal. Saya perhatikan, setiap melewati pohon yang rindang Bapak ini selalu melihat ke arah pohon itu sembari melambatkan laju motor. Mungkin sedang kangen kampung halaman yang masih penuh dengan pepohonan rindang, pikirku.
Lalu di pertigaan Hotel Borobudur agak macet. Si Bapak malah langsung tancap gas dan ambil jalur di antara mobil-mobil. "Kenapa gak daritadi aja pak?" Gumamku dalam hati. Ternyata di ujung kemacetan ada kecelakaan motor vs Bus. Ada korban tewas yang masih tergeletak belum sempat dipindahkan warga. Kemudian saya berpikir, 2-3 menit saja si Bapak mempercepat laju motornya tadi, bisa jadi Kami lah korban kecelakaan itu. Atau minimal, menjadi saksi mata kejadian tersebut. Pfiuhhh....
Awal menikah dulu, saya selalu berkeinginan naik gunung. Tak usah tinggi-tinggi. Asal naik gunung saja. Gunung pertama yang berhasil saya daki adalah Gunung Bromo. What? Itu mah bukan Gunung! Hahaha...
Lalu beberapa target gunung dibuat. Jadwal coba disusun. Buyar karena ternyata istri hamil muda. Dan setelah itu, coba-coba susun jadwal baru. Terdekat adalah coba-coba trekking cantik ke Kawah Ijen. Rencana sudah rapi. Cuti sudah disetujui. Packingan sudah lengkap. Mental insya Allah siap. Berangkat jam 5 dari Serpong supaya tak bersamaan dengan Anker Pekerja. Sampai di subuh hari pagi itu pukul 4.30 si Aji telepon. Jarang-jarang adik saya ini telepon. Dengan teriak dan terisak. "Lo dimana?! Bapak sekarat! Pulang sini!!!" Gak terpikir hal lain selain ambil wudhu untuk subuhan dan langsung cabut ke Bekasi. Shalat subuh saat itu, bahkan menjadi tak bersuara membaca Al Fatihah, sampai Istri saya bersuara "Subhanallah" menyadarkan saya. Memasuki rakaat kedua, handphone bunyi lagi. Panggilan masuk dari Taksi pikirku. Seusai shalat, segera saya lihat handphone. Ternyata telepon dari Aa. Saya telepon balik bermaksud mengabari tadi sedang shalat. Tapi kata Aa, "Yaudah gapapa. Santai aja. Ke Bekasi ya. Gausah buru-buru. Bapak udah gak ada... Hati-hati aja di jalan..." Sejak hari itu, banyak hal berubah. Rencana Trekking ke Kawah Ijen buyar. Hingga pendakian pertama saya ke Gunung Merbabu pertengahan Agustus 2015, air mata ini menetes ketika menginjak puncak. Seakan ingin mengulangi perbincangan dengan Bapak, "Pak, boleh naik gunung kan?" Dan membayangkan penolakan beliau seperti yang sudah-sudah dahulu. Padahal Bapak sudah, giliran saya kapan???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar