Pagi tadi, jalanan tersendat di lokasi yang tak biasa. Kekhawatiran akan ketinggalan kereta sempat ada. Tapi ada rasa khawatir lain, jangan-jangan ada kecelakaan dan korbannya masih ada di tengah jalan dan belum dievakuasi makanya jalanan jadi macet. Kalo kondisi ini yang terjadi, lebih baik saya lewat jalan lain saja daripada melihat tubuh tergeletak begitu. Tak lama, ujung kemacetan pun mulai nampak. Ternyata ada 2 unit truk tronton yang parkir di lajur kiri di jalanan yang hanya 2 lajur itu. Kita tentu kembali mampu menduga kesalahan atas kondisi ini disebabkan oleh siapa.
Awal Agustus lalu ada pemadaman listrik mendadak dari PLN. Semua aktifitas saya terganggu karena sudah berlangsung beberapa jam. Menjelang malam, kekhawatiran bertambah, karena tak biasanya pemadaman PLN lebih dari 3 jam seperti ini. Saat malam tiba, warung-warung dan mini market kehabisan stok lilin. Toko ritel yang agak besar bahkan kehabisan stok Emergency Light dan Genset. Semakin malam, kekhawatiran akan kondisi keamanan lingkungan rumah kian bertambah namun mata pun sudah tak kuasa menahan kantuk. Setelah 12 jam lebih, listrik pun menyala. Dan saya bisa tidur dengan tenang. Hingga sekitar jam 3 pagi terasa panas. Ternyata listrik padam lagi. Keesokan harinya, Presiden memanggil Direksi PLN hingga ada insiden Presiden Walk Out dari ruang rapat itu. Sampai sini, kita sudah semakin kuat menduga siapa yang patut dipersalahkan atas pemadaman yang sangat lama ini.
Kita bisa saja benar, tapi...
Bilamana kita di posisi pemain Timnas yang harus mengakui Thailand dan Malaysia. Sudah malu di hadapan pemain lawan dan penonton GBK. Boro-boro buka sosmed buat 'memantau' TL, mungkin telepon dari Keluarga pun rasanya berat untuk diangkat. Saya suka membayangkan, bagaimana mungkin bisa berdiri tegak menghadapi cercaan orang-orang yang merasa kecewa dengan performa mereka di lapangan ya?
Saya kurang paham dengan penyebab parkiranya 2 truk tronton pagi itu. Apakah mogok atau memang sengaja parkir? Dugaan terkuat saya, pastinya mereka terlambat dalam mengantarkan paket di dalam Box tersebut. Bisa jadi akan dikurangi uang honornya. Atau bahkan harus menanggung penderekan Truk ke bengkel tertentu dengan biaya sendiri. Kita tak pernah benar-benar mengetahuinya.
Tentang PLN yang 'dihujat' oleh semua masyarakat (termasuk saya), bagaimana mungkin mereka bisa kembali bekerja? Bisa jadi petugas PLN yang dihujat adalah keluarga dekat kita. Tetangga kita. Yang secara tak sengaja kita menghujat dan mereka mendengarnya. Bisa jadi, 12 jam itu adalah masa-masa ter-lama dalam hidup mereka untuk sekedar mengharapkan "Cepatlah berlalu..."
Kita bisa saja benar, kawan. Tapi, apakah kita terbiasa menyelidiki apa yang terjadi pada mereka yang kita persalahkan???
.
.
.
.
Jawabnya: "Bukan urusan saya."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar