Dear Nendi,
Kemarilah..
saya ingin bercerita…
Cerita ini
tak beralur. Tak pula menyediakan detil yang lengkap. Tapi kamu baca saja ya.
Hari ini
saya kembali berjalan ke sudut itu.
Tak ada yang
baru di sudut itu. Masih sama. Cenderung memburuk. Kembali tak sesuai dengan
impian saya. Tapi saya tetap harus kembali ke situ.
Kenapa? Saya
juga tak begitu paham. Yang saya pahami, saya harus ke sudut itu.
Kemudian,
saya bertemu orang itu. Sosok yang memberi saya sedikit pencerahan. Saya tak
pernah berharap sambutannya berubah. Biar saja seperti itu. Saya cuma memahami
bahwa saya harus bertemu dengannya.
Tahukah
kamu, Nendi?
Akhir-akhir
ini saya selalu menikmati masa-masa menyendiri.
Semacam
menjaga diri agar tak terlalu banyak bersentuhan dengan jiwa lain. Menurut
saya, sebagian besar mereka hanya membawa raganya saja. Jiwanya mereka
tinggalkan di tempat lain. Mungkin saya juga sama. Hanya membawa raga tanpa
jiwa. Yang saya pahami, saya sudah tak lagi mengijinkan jiwa saya disentuh oleh
raga-raga tak berjiwa itu.
Sekali waktu
saya merasakan jiwa ini ternyata kembali mampu bersentuhan dengan jiwa lain.
Ada keterikatan yang sulit dijelaskan. Belakangan saya sadari itu adalah sebuah
kesalahan. Jiwa ini baiknya memang tak lagi bersentuhan dengan yang lain. Yang
saya pahami, jiwa ini tak layak lagi bersentuhan dengan mereka. Ternyata bukan
mereka raga tak berjiwa itu. Tapi itu adalah saya.
Kamu juga
mungkin sudah tahu ini Nendi,
Selama ini
kita memahami bahwa kita hidup dengan impian dan harapan. Naif memang. Karena
sebagian dari jiwa yang sempat bersentuhan dengan saya berkata, jangankan
impian, harapan saja sudah sulit ditemukan-diperjuangkan saat ini.
Sekali waktu
saya sempatkan berjalan di sudut lain. Disana saya temukan seorang yang membawa
raga dan jiwanya secara penuh dan tegas. Raganya sungguh tak elok. Miris
melihatnya. Tapi jiwa yang dibawanya mampu menghentak dan meruntuhkan imajinasi
ini saat lisannya kutemukan bergumam:
“Nanti
pasti Engkau berikan bagianku, kan?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar