Jumat, 13 September 2019

Bekerja. Berkarya. Berbakti. Berjuang(?)


Setiap kita pernah menjadi seorang anak.
Sebagian dari kita mengenal orang tuanya.
Sebagian lainnya tidak.
Hanya imajinasi.
Atau juga berupa tokoh rekaan.
Kita hidup dan besar bersama orang tua sungguhan maupun imajinasi yang pada akhirnya akan membentuk karakter diri dan menjadikan kita berada di posisi sekarang ini.

Menjelang tahun ketujuh saya memiliki pekerjaan tetap. Anggaplah begitu.
Selalu teringat sebuah stiker pada sisi belakang sebuah motor di depan saya saat di perjalanan. Di situ tertulis “Harga Diri Seorang Pria adalah Bekerja” disertai ilustrasi ikonik seseorang berkendara motor. Mungkin Bapak itu adalah tukang ojek. Tak ada informan maupun narasumber yang bisa saya tanyakan maksud stiker itu. Termasuk si Bapak pemilik motor itu. Jadi saya mengambil kesimpulan, dengan saya tetap bekerja saat ini, saya masih memiliki harga diri.

Seorang kawan pernah juga berujar, kenapa jika di beberapa kantor menyebut pekerjanya sebagai ‘Karyawan’ bukan ‘Pegawai’? Yang saya tahu, Alm. Bapak saya dulu selalu menulis isian Pekerjaan dalam dokumen-dokumen sekolah saya dengan ‘Karyawan’, karena beliau memang Karyawan Swasta. Bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kala itu bagi saya, sebutan ‘Pegawai’ adalah untuk PNS, sedangkan Karyawan adalah pekerja yang tidak berstatus PNS. Sebuah penjelasan dari kawan itu cukup membuat saya tertawa kecil. Katanya: Karyawan itu output yang diharapkannya adalah Karya, Pegawai itu outputnya hanya bekerja. Hehehe…

Dewasa ini saya semakin sering mendengar jargon/ajakan/kampanye tentang ‘Berbakti untuk Negeri’. Sebuah kalimat yang bisa ditafsirkan dengan begitu banyak penafsiran dan berbagai sudut pandang. Selalu menyenangkan bagi saya untuk sekadar mendengarkan penafsiran yang berbeda itu. Yang paling seru, tafsiran sebagian orang yang menganggap ‘Berbakti untuk Negeri bisa saja dilakukan dengan Bekerja dan Berkarya di  Luar Negeri dengan membawa nama Bangsa Sendiri’ melawan pendapat ‘Berbakti untuk Negeri itu dengan Kembali ke Negeri Sendiri, dan Membuka Kesempatan sebesar-besarnya dengan Kemampuan Sendiri’. Bersyukurlah para pembesar negeri yang memiliki masyarakat dengan keberagaman sudut pandang seperti ini. Sementara di sudut-sudut yang tak jauh dari kita, masih ada yang sekedar berharap mendapat pekerjaan layak dan tetap berbakti dengan membayar pajak yang dibebankan kepadanya di tiap kegiatan perekonomiannya.

Sebagian dari kita mengidolakan sosok yang memiliki ‘Pengaruh’ di keseharian kita. Biasanya kita merasa dekat dengan sosok tersebut karena kita mengikutinya sepanjang waktu. Mengenalnya melalui karya, kemudian mencari tahu lebih jauh perjuangan hidupnya dalam menciptakan karya, dan tak jarang yang akhirnya mencoba menduplikasi kisahnya di kehidupan keseharian meski ada perbedaan dimensi yang cukup beragam. Seringkali kita lupa, ada sosok-sosok terdekat yang benar-benar nyata perjuangannya dalam mendampingi kita sejak kita masih belum bisa apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini. Lucunya, kita selalu lupa memasukkan mereka ke dalam daftar tokoh idola kita. Seperti saya yang tetap mengidamkan mampir ke sungai di Venice padahal ada Kalimalang di sini. J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar