Setiap kita
pernah menjadi seorang anak.
Sebagian dari
kita mengenal orang tuanya.
Sebagian lainnya
tidak.
Hanya imajinasi.
Atau juga berupa
tokoh rekaan.
Kita hidup dan
besar bersama orang tua sungguhan maupun imajinasi yang pada akhirnya akan membentuk
karakter diri dan menjadikan kita berada di posisi sekarang ini.
Menjelang tahun
ketujuh saya memiliki pekerjaan tetap. Anggaplah begitu.
Selalu teringat
sebuah stiker pada sisi belakang sebuah motor di depan saya saat di perjalanan.
Di situ tertulis “Harga Diri Seorang Pria adalah Bekerja” disertai ilustrasi
ikonik seseorang berkendara motor. Mungkin Bapak itu adalah tukang ojek. Tak ada
informan maupun narasumber yang bisa saya tanyakan maksud stiker itu. Termasuk si
Bapak pemilik motor itu. Jadi saya mengambil kesimpulan, dengan saya tetap
bekerja saat ini, saya masih memiliki harga diri.
Seorang kawan
pernah juga berujar, kenapa jika di beberapa kantor menyebut pekerjanya sebagai
‘Karyawan’ bukan ‘Pegawai’? Yang saya tahu, Alm. Bapak saya dulu selalu menulis
isian Pekerjaan dalam dokumen-dokumen sekolah saya dengan ‘Karyawan’, karena
beliau memang Karyawan Swasta. Bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kala itu bagi
saya, sebutan ‘Pegawai’ adalah untuk PNS, sedangkan Karyawan adalah pekerja
yang tidak berstatus PNS. Sebuah penjelasan dari kawan itu cukup membuat saya
tertawa kecil. Katanya: Karyawan itu output
yang diharapkannya adalah Karya, Pegawai itu outputnya hanya bekerja. Hehehe…
Dewasa ini
saya semakin sering mendengar jargon/ajakan/kampanye tentang ‘Berbakti untuk
Negeri’. Sebuah kalimat yang bisa ditafsirkan dengan begitu banyak penafsiran
dan berbagai sudut pandang. Selalu menyenangkan bagi saya untuk sekadar
mendengarkan penafsiran yang berbeda itu. Yang paling seru, tafsiran sebagian
orang yang menganggap ‘Berbakti untuk
Negeri bisa saja dilakukan dengan Bekerja dan Berkarya di Luar Negeri dengan membawa nama Bangsa Sendiri’
melawan pendapat ‘Berbakti untuk Negeri
itu dengan Kembali ke Negeri Sendiri, dan Membuka Kesempatan sebesar-besarnya dengan
Kemampuan Sendiri’. Bersyukurlah para pembesar negeri yang memiliki masyarakat
dengan keberagaman sudut pandang seperti ini. Sementara di sudut-sudut yang tak
jauh dari kita, masih ada yang sekedar berharap mendapat pekerjaan layak dan
tetap berbakti dengan membayar pajak yang dibebankan kepadanya di tiap kegiatan
perekonomiannya.
Sebagian dari
kita mengidolakan sosok yang memiliki ‘Pengaruh’ di keseharian kita. Biasanya kita
merasa dekat dengan sosok tersebut karena kita mengikutinya sepanjang waktu. Mengenalnya
melalui karya, kemudian mencari tahu lebih jauh perjuangan hidupnya dalam
menciptakan karya, dan tak jarang yang akhirnya mencoba menduplikasi kisahnya
di kehidupan keseharian meski ada perbedaan dimensi yang cukup beragam. Seringkali
kita lupa, ada sosok-sosok terdekat yang benar-benar nyata perjuangannya dalam
mendampingi kita sejak kita masih belum bisa apa-apa hingga menjadi seperti
sekarang ini. Lucunya, kita selalu lupa memasukkan mereka ke dalam daftar tokoh
idola kita. Seperti saya yang tetap mengidamkan mampir ke sungai di Venice padahal ada Kalimalang di sini. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar