Selasa, 31 Januari 2012

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN


Mari bercerita kawan...

Apakah yang ada dalam benak kawan, ketika kawan melihat seorang anak kecil nan pintar lagi cerdas, namun sangat sering terlihat murung di tengah bergelimangnya mainan yang selalu ia mainkan?
Mungkin sedikit cerita ini bisa memberi jawaban...

* * *
Senyumnya tak pernah semanis kawan-kawan seusianya. Bahkan bisa kukatakan, senyumnya biasa saja. Tak ada yang menarik perhatianku sama sekali.
Beberapa kali aku melihatnya bermain di taman dekat Taman Bermain (Playgroup) ‘Nur Cahya’ dekat sekolahku. Di antara anak-anak seusianya, mungkin hanya Vino (nama anak kecil itu-pen.) yang tak terlalu kuperhatikan. Vino lebih sering terlihat bermain sendiri dengan mainannya sendiri dibanding bergabung dengan kawannya yang lain. Hingga suatu hari ia menghampiriku dan mengajak bermain.
“Ayo, kak main sama aku!” senyuman itu pertama kali kulihat dari si kecil Vino ketika ia menyambangiku yang tengah duduk di pinggir taman sambil melihat-lihat banyaknya anak kecil yang bermain di taman itu.
“Mau main apa? Memangnya kamu gak main sama teman-teman kamu?” aku menjawab sekenanya saja.
“Maunya main sama kakak aja,” ia menjawab dengan nada yang tegas.
“Baiklah, ayo kita main.”
Hal tersebut terjadi nyaris tiap hari, atau setidaknya tiap aku menyempatkan diri duduk-duduk di pinggir taman sambil melepaskan penat perkuliahan. Vino selalu menghampiriku tiap aku datang. Dan terkesan, ia memang menungguku datang.  Dengan senyumnya yang tak terlalu manis itu, ia selalu menghampiriku dan mengajakku bermain dengannya. Ya, sekadar bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil seusianya, atau bermain balap-balapan dengan mobil-mobilan kesukaannya. Dan ternyata aku pun menikmatinya. Bermain dengan si kecil Vino, yang lebih sering terlihat murung itu.
Jujur saja, awal aku menerima tawarannya untuk bermain hanyalah untuk melepas penatku saja. Namun lama kelamaan, ternyata Vino telah berhasil meningkatkan itu. Ya, seringnya aku duduk-duduk di taman yang hanya sekadar melepas penat, kini terasa ‘butuh’ dengan suasana ketika kami bermain bersama. Lebih dari itu, ternyata aku menjadi begitu peduli pada Vino. Seperti seorang ibu yang menghampiriku sore itu dan berkata, “Mas, terima kasih ya sudah mau mengajak Vino bermain akhir-akhir ini. Sebenarnya ia anak yang pintar di kelas, tapi ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian ketika di luar kelas. Dan sejak mas mau diajaknya bermain, kini Vino sangat sering tersenyum ketika sedang bermain dengan teman-temannya,” jelas ibu yang ternyata adalah guru kelas sekaligus wali kelas Vino di sekolah.
Suatu sore, Vino datang kepadaku bukan untuk meminta bermain bersama. Ia justru bercerita.
V : “Kak, Vino kemarin dimarahi sama Ryan dan Adi, gara-gara Vino mainin mobil-mobilan mereka.”
A : “Memang kenapa kamu memainkan mobil-mobilan mereka? ‘kan kamu sudah punya mobil-mobilan kesayangan kamu yang jago ngebut itu.”
V : “Iya, habis aku mau aja mainin mobil-mobilan mereka aja. Sebatas itu kok, lagian aku kan tidak merusaknya. Hanya sekadar bermain saja.”
A : “Vino, kamu kan sudah punya mobil-mobilan sendiri, jadi mainkan saja mobil-mobilanmu. Jangan malah kamu mainkan mobil-mobilan Ryan atau Adi. Gak baik lho.. Coba kalau mobil-mobilan Vino yang dimainkan sama teman-teman Vino padahal Vino gak suka, gimana coba?”
V : “Hehehe.. iya ya kak. Ya sudah, aku gak mau mainin mobil-mobilan orang lagi ah..”
Senyumnya kembali menutup perbincangan singkatku dengan Vino sore itu. Dan kembali kami bermain bersama. Sebuah perbincangan yang cukup menarik perhatianku. Ternyata dalam kesendiriannya, ia mempunyai keinginan terpendam, sekadar ingin bermain dengan mainan orang yang padahal ia pun sudah memiliki mainan semacam itu.
Sejak saat itu, perhatianku benar-benar tersita olehnya. Beberapa kali ia mencariku hingga ke rumah untuk sekadar mengajak bermain bersama. Tentu aku tak bisa menolaknya, karena aku memang melihat perubahan besar di raut wajahnya ketika sedang bermain denganku, seperti yang dikatakan ibu wali kelasnya itu. Untungnya rumahku tak jauh dari taman itu sehingga ia dapat dengan mudah mencari rumahku dengan bertanya pada warga sekitar.
Selama beberapa tahun, karena waktu kuliahku yang sedang begitu padat, aku pun membuat ‘perjanjian kecil’ bersama Vino tentang aku yang tak bisa lagi bermain dengannya setiap hari. Dan rupanya, ia mengerti hal itu, dan menjawabnya dengan senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatku tenang melihatnya. Terkadang terharu bila mengingat masa-masa awalku melihatnya di taman ketika itu.
Vino pun tumbuh besar, kini sedang menjalani bulan-bulan terakhirnya sebagai anak Taman Kanak-kanak (TK-pen.) selepas awal perkenalanku dengannya yang masih di Playgroup. Senyumnya kini tak lagi malu-malu merekah ketika bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Masa-masa murungnya perlahan sirna. Beberapa kali ia bercerita tentang kawan-kawannya yang memamerkan mainan terupdate mereka kepadanya, tapi hal itu sudah tak lagi menarik baginya sejak ia bertemu denganku sebagai teman bermainnya, meskipun dengan mainan yang itu-itu saja. Dan aku tetap teguh pada perjanjian kami, selalu bermain bersama.
Kini Vino telah masuk SD. Satu jenjang lebih tinggi dari TK tentunya. Bertemu banyak kawan baru dengan suasana baru pula. Sering dengan polosnya ia mengeluhkan tentang berkurangnya waktu bermain dia dengan mainan-mainan kesukaannya. Atau sekadar datang ke taman dan mengajakku bermain seperti biasa. Karena masa awal di SD cukup membuatnya kelelahan dan tertidur sehingga tak sempat menemuiku di taman.
Beberapa kali Vino tak datang, akhirnya kucoba mendatangi sekolahnya. Tidak terlalu berlebihan memang, karena guru-guru di sekolahnya kini mengetahui aku adalah kakak teman bermainnya selama ini. Dan memang benar, kini Vino sudah cukup sibuk dengan pelajaran membaca, menulis, serta berhitung di sekolahnya. Salah seorang guru bercerita kepadaku, bahwa Vino kini mewakili sekolahnya dalam mengikuti perlombaan CALISTUNG di tingkat kota. Betapa bangganya aku.. Tapi sepertinya itu sedikit mengubah semua perjanjian kecil kami. Karena tak pernah lagi ia sempat untuk pergi ke taman, dan bermain bersamaku.
Sekali waktu aku coba datang lagi ke sekolah Vino untuk sekadar melihat perkembangannya. Dan beberapa kali kulihat ia sedang sibuk dengan kawan-kawannya di ruangan guru, mungkin belajar bersama untuk menghadapi lomba. Hingga seorang bapak menepuk punggungku di siang itu..
“Nak, kamu kakaknya Vino ya?” tanya Pak Supendi, yang sepertinya adalah kepala sekolah di sana.
“Maaf, bukan pak. Saya hanya tetangganya yang kebetulan sering bermain bersama Vino di taman dekat Playgroup itu.”
“Ohhh, jadi kamu ya yang sering diceritakan para wali murid itu.” terang Pak Kepsek padaku yang kemudian dilanjutkan, “Nak, sekarang Vino sudah tak seperti dulu lagi. Ia tak pernah terlihat murung lagi. Prestasi di sekolahnya pun baik, bahkan ia menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan CALISTUNG.”
“Jadi begitu ya pak, baiklah. Saya pulang dulu ya pak.” antara sedih dan senang akan perubahan Vino, aku pun pamit pulang pada Pak Kepsek itu. Dan sebelum aku pulang, seorang ibu yang ternyata adalah wali kelas Vino ketika di Playgroup dan juga seorang wali murid salah satu teman Vino di SD berkata demikian,
“Nak, kamu sudah menemani Vino selama ini. Saya sebagai mantan wali kelasnya di Playgroup sangat senang melihat perubahan Vino. Dia sudah makin pintar sekarang, dan sudah tak pernah lagi terlihat murung saat di kelas ataupun di waktu istirahat.”
Mendengar perkataan ibu itu, aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas wejangannya. Aku pun pulang ke rumah, dan melanjutkan aktivitasku di kampus seperti biasanya, dan kini tak perlu lagi meluangkan waktu untuk bermain dengan Vino di taman seperti dulu.
Sebuah kabar terakhir yang ku dengar dari cerita orang-orang, kini Vino sedang belajar memperbaiki sebuah mainan yang rusak. Sebuah mobil-mobilan yang kondisinya tak sebaik mobil-mobilan kesayangannya dahulu. Sebuah pekerjaan bermain yang ia sukai kini, memperbaiki kerusakan mainan agar dapat dipakai untuk bermain. Tak hanya mengajak orang lain untuk bermain bersama, tapi juga memperbaiki mainan kawannya agar kawannya dapat bermain lagi.
Bersama teman-teman barunya di SD, ia kini sering terlihat bermain di halaman sekolah dan tak pernah lagi terlihat murung sendirian. Tak pernah pula aku melihatnya bermain di taman itu lagi. Dan entah, apa ia masih ingat denganku atau tidak.

***
Ketika menceritakan cerita ini, mata kawanku sempat berlinang. Satu perkataan yang menggambarkan perasaannya ketika ia bercerita hanyalah ini.
“Aku datang untuk menemaninya bermain agar tak murung lagi.
Sekarang ia sudah menemukan bentuk permainannya yang baru.
Dan aku dapat tersenyum bahagia tiap kulihat ia bermain dengan kawan serta mainannya yang baru itu.
Setidaknya, tak ada lagi mainan kawannya yang ia mainkan dan menimbulkan kemarahan kawannya.
Bermain dengannya memang selalu membahagiakan, tapi lebih bahagia bagiku melihatnya tersenyum tanpa perlu ada kehadiranku.”


Tulisan kali ini kudedikasikan untuk seorang kawan,
Kawan yang selalu ingin memberi manfaat kepada orang lain,
Dan selalu ingin menghadirkan senyum kebahagiaan bagi orang lain,

Diceritakan kembali oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar