Hey, Team!!!
Mungkin yang pertama layak kusampaikan adalah sesi perkenalan
diriku. Aku adalah Isnendi, seorang biasa yang secara tidak sengaja masuk dalam
lingkungan yang penuh dengan sebuah ketidakbiasaan, berada di lingkungan para
calon Abdi Negara.
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, atau
yang lebih famous dikenal dengan
STAN. Banyak sekali orang tua dan para siswa/i SMA atau se-derajat yang
menginginkan masuk ke tempat ini karena dianggap dapat memberikan kepastian
masa depan seseorang. Ya! Siapa pun tahu, karena setiap apapun yang berakhiran
dengan ‘Negara’ pastinya akan dijamin hidupnya, bahkan sampai lanjut usia pun
tetap disediakan Tunjangan Pensiun meskipun sebenarnya tidak semua para
pensiunan pernah mengabdi sedemikian besarnya pada negara. Dan dalam setiap
aktivitas yang berkaitan dengan Keuangan Negara selalu menyebutkan bahwasanya
Belanja Pegawai adalah bersifat mengikat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Jujur saja, aku sebenarnya bukan orang yang
secara penuh mendukung pemerintahan dalam kepemimpinan apa pun. Aku pernah
dengar sebutan mengenai Pemerintahan Reformasi yang Demokratis yang katanya itu
sangat berpihak pada rakyat dikarenakan suara rakyat dapat menentukan jalannya
pembangunan negara. Tapi mana pembangunannya? Di sana-sini banyak korupsi,
apalagi yang bersifat nepotisme, bukan hal aneh lagi dalam hidupku. Masuk
TNI/POLRI harus ada ‘orang dalam’, mau jadi PNS harus dengan ‘uang pelicin’,
dan mungkin masih banyak lagi hal lain yang tak tersebut dalam tulisanku ini.
Namun setitik asa sempat tumbuh
dalam bathin kenegaraanku. Aku dinyatakan lulus dalam Ujian Saringan Masuk
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (USM STAN) yang memang menjadi mimpi semua
pelajar SMA (setidaknya seperti itulah di Sekolahku dulu). Aku lahir dan hidup
dalam ‘Keluarga Swasta’. Aku menyebutkan demikian karena ayahku bekerja sebagai
karyawan swasta di pabrikan motor asal Jepang. Dari kedua hal ini saja sudah
sangat jelas bahwa aku berhasil masuk ke Sekolah para calon Birokrat ini dengan
fair tanpa ada bantuan dalam bentuk
titipan orang dalam, apalagi uang pelicin agar aku masuk dalam sekolah ini. Hal
inilah yang kemudian membuatku kembali percaya pada pemerintahan ini bahwasanya
masih ada kalangan yang bersih dalam pemerintahan ini.
Bahagianya orang tuaku saat pertama
kali kukabarkan tentang kelulusan ini jangan ditanya lagi, mungkin adalah
kebahagiaan terbesar yang pernah kuberikan pada mereka. Membayangkan selama 3
tahun ke depan aku tidak akan lagi membebani mereka dengan pengeluaran biaya
kuliah per semester saja hampir membuatku menangis saat itu, apalagi mengenai
mimpi akan dipekerjakan setelah 3 tahun menjalani pendidikan Diploma III di
Instansi bernama Kementerian Keuangan yang saat itu dipimpin oleh Ibu menteri
kebanggaanku, Ibu Sri Mulyani Indrawati. Sebatas lalu saja, Ibu Sri ini secara
tidak langsung pernah ‘menyelamatkan’ keluarga kami dari ancaman Krisis pada
tahun 2008, di mana saat itu semua pabrik terancam PHK besar-besaran, termasuk
perusahaan pabrikan motor asal Jepang tempat ayahku bekerja. Entah apa yang
telah diperbuat oleh Ibu Sri ini, pabrik yang sempat memangkas hari produksi
dari 7 hari ke 5 hari itu akhirnya pun kembali berproduksi selama 7 hari secara
sehat. Aku sangat berterima kasih pada Ibu Sri Mulyani hingga sekarang.
Hari-hari pertamaku setelah mendapat
kabar kelulusan ini sungguh menyenangkan. Maklum, saat itu adalah hari-hari
pertama kuliah, saat dimana kawan-kawanku sudah hijrah ke kota lain untuk
kuliah atau baru sekedar melalui masa orientasi mahasiswa baru, sedangkan aku
yang baru 2 minggu hijrah ke Depok akhirnya harus kembali ke pelukan orang
tuaku di Bekasi. Senangnya....
Hari Registrasi Ulang pun datang,
bapakku menyempatkan untuk cuti 1 hari saja (karena bapak jarang sekali cuti)
demi menemaniku ke Kampus Birokrat karena aku memang tidak tahu lokasi kampus
ini sebelumnya. Kembali pengorbanan orang tua sangat kurasakan di sini, beliau
menunggu di luar ruangan selama lebih dari 5 jam di tengah keadaan Puasa
Ramadhan saat itu.
Banyak pengalaman baru? Tentu saja! Namun tidak perlu kutuangkan
di sini rasanya, karena pasti kalian pun tahu kualitas kalian masing-masing.
Hehe..
Bapak sudah Deal dengan
sebuah rumah kost-kost-an bernama Pondokan Keisha saat aku masih di dalam
ruangan Registrasi. Agak merasa bersalah juga karena ternyata harga sewa
per-kamarnya mencapai 4.5 juta rupiah per tahun! Ini sih sama saja dengan biaya
per semesterku di Perguruan Tinggi sebelumnya. Tapi bapak bilang karena aku
akan 3 Tahun di sini, ya tidak masalah bagi beliau. Aku pun positive thinking saja, mungkin ini
hadiah yang ingin bapak serahkan atas kebahagiaan yang telah kuberikan untuknya
ini.
Masa orientasi pun datang, dengan segala tugas yang telah
kuselesaikan sebelumnya. Aku berkenalan dengan para penghuni Keisha yang
ternyata mayoritas adalah Medan! Bukan hal mudah bagiku pertama kali harus
hidup seatap dengan mereka, karena di lingkunganku sebelumnya mengidentikkan
Medan itu adalah berisik dan sangar. Tapi itulah hidup, setelah sempat habis
suaraku akibat berbicara keras-keras karena tak terbiasa akhirnya pun aku
menganggap Keisha adalah keluarga pertamaku di kampus ini.

keep Post!
BalasHapusinsya Allah..
BalasHapus:)