Hai kawan!
Lama juga ya saya tak berbagi di blog ini. Maklum lah, kemarin-kemarin ini saya sedang menikmati liburan akhir tahun. Hehehe..
Baik, hari ini saya mencoba untuk menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang cukup dekat dengan saya di masa lalu. Sebut saja namanya Yakis.
Yakis tumbuh dalam sebuah lingkungan yang biasa-biasa saja, tak begitu berlimpah harta, serta sangat memiliki pemikiran sederhana dalam menyikapi berbagai hal dalam hidupnya. Ayahnya hanyalah seorang buruh pabrik yang harus kerja siang dan malam dan terkadang harus mengisi senggang waktu kerjanya dengan bekerja sebagai tukang ojek. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki usaha sampingan untuk membantu suaminya dalam menambah nafkah untuk membiayai keperluan 3 jagoan ciliknya. Yakis adalah anak kedua dari tiga bersaudara laki-laki itu. Satu catatanku tentang keluarga kecil mereka adalah, tak pernah sekalipun mereka meminjam uang kepada sanak keluarga, Bank, apalagi rentenir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejauh yang ku tahu, tak pernah sekali pun Yakis serta dua saudaranya yang lain menunggak pembayaran SPP di sekolah kami. Dan mereka bertiga pun tumbuh sehat, tak terlalu gemuk layaknya para anak-anak orang kaya, namun juga tak pernah kudengar salah satu dari mereka sakit hingga dirawat di rumah sakit. Salut bagiku untuk mereka.
Beranjak dari usia Balita, Yakis tumbuh menjadi seorang anak yang pintar. Setahuku, ia sudah mahir membaca sejak usia 3 tahun dan sudah mampu membaca Al Quran sebelum masuk TK. Tak heran jika saat itu ayah Yakis sempat menjanjikan untuk langsung memasukkan Yakis ke SD tanpa melalui TK terlebih dahulu. Itu yang pernah ia ceritakan kepadaku.
Di tahun selanjutnya aku justru bingung, karena aku melihat Yakis masuk sekolah depan rumahku, sebuah Taman Kanak-Kanak. Lalu mana janji ayah Yakis setahun yang lalu? Yakis hanya menjawab ini kepadaku saat itu,
“Abang baru masuk SD tahun lalu. Kalau tahun ini aku masuk SD juga, nanti biayanya jadi dobel dong. Hehehe...”
Saat Yakis mengatakan hal itu usiaku masih 4 tahun, tapi entah mengapa masih terekam jelas hingga sekarang.
Salutku selanjutnya adalah, sebenarnya ketika Yakis masuk TK, saat itu usianya sudah 1 tahun lebih tua dari teman-teman sebayanya. Tapi Yakis tidak pernah mengeluh, itu setahuku.
Yakis masuk SD tahun ini. Ketika itu aku bahkan baru masuk TK nol kecil.
Dua tahun kemudian aku masuk SD yang sama dengan Yakis. Lama tak bermain bersama membuatku penasaran lalu kemudian menghampirinya di lapangan voli sekolah.
A: “Lagi ngapain, Yak? Gak jajan?”
Y: “Gak de, kamu gak jajan? Wah.. uang lima ribuan kamu jatuh tuh. Ntar abang ambil lho. Hehehe..”
Setelah intermezzo siang itu, aku makin penasaran karena tak pernah melihat Yakis jajan di setiap jam istirahat. Akhirnya aku coba iseng bertanya kepada temanku yang memliki kakak sekelas dengan Yakis. Yang aku tahu dari temanku itu, Yakis hanya membawa uang dua ribu rupiah untuk jajan sehari-harinya di sekolah. Kali ini bukan salut yang kudapat, tapi kaget bercampur bingung. Bagaimana mungkin anak kelas tiga seperti yakis hanya membawa uang saku dua ribu rupiah sedangkan aku yang anak kelas satu sudah membawa uang lima ribu rupiah? Hufh.. Yakis ini memang selalu membuatku bingung.
Lewat satu hari dari itu aku coba bertanya ke Yakis secara langsung.
A: “Lo gak jajan Yak? Gak ada duit ya? Nih pake duit gw aja. Haha..”
Y: “Gak de. Duit saya buat di rumah aja. Kan tadi pagi udah dibikinin sarapan sama ibu. Jadi gak perlu jajan lagi.”
Dengan senyum khasnya itu Yakis menjelaskan hal yang menurutku masih cukup tabu. Ketika aku saja sudah sedemikian boros dengan uang lima ribuanku, ia malah masih bisa menyimpan uang dua ribuannya itu. Salut buatmu Yak...
Masuk masa SMP, aku kembali kehilangan kontak dengannya, mungkin karena jarak SMP itu cukup jauh dari rumah kami. Hanya sesekali kulihat ia mengendarai sepeda untuk berangkat sekolah. Sempat juga aku melihat ia menitipkan sepedanya di dekat pangkalan angkot menuju sekolahnya.
Karena cukup penasaran, aku yang ternyata berhasil masuk ke SMP yang sama dengan Yakis mencoba curi-curi waktu untuk mengobrol lagi dengannya. Tidak cukup sulit menemukan Yakis di sekolah ini, karena memang ia salah satu pengurus OSIS di sini.
Kami pun bertemu, dan berbincang cukup lama. Singkatnya aku menanyakan kenapa ia menitipkan sepedanya, padahal kalau mau hemat sekalian ‘kan bisa aja sepeda itu dipakainya sampai sekolah. Dan Cuma ini jawabannya..
“Gak boleh sama bapak. Daripada nanti jadi sakit karena kecapekan. Lagipula masih terjangkau kok untuk ukuran saya. Angkot lima ratus rupiah sekali jalan, bolak balik jadi Cuma seribu. Penitipan sepeda juga cuma lima ratus. Hitung-hitung membantu pemilik penitipan sepeda itu juga lah. Hehehe..”
Aku mencoba berhitung, ternyata dalam sehari ia menghabiskan uangnya hanya seribu lima ratus rupiah saja. Lalu aku berpikir, dengan statusnya yang sudah menjadi anak SMP pastilah uang sakunya sudah tidak dua ribu rupiah lagi. Mungkin sepuluh ribu sepertiku. Hanya bedanya, aku diantar-jemput dengan mobil jemputan sekolah, jadi tak ada ongkos yang kukeluarkan selain untuk jajan.
Tapi lagi-lagi aku salah. Pagi itu ketika mobil jemputanku melewati rumah Yakis, secara tidak sengaja aku melihat ibunya Yakis memberikan uang empat ribu rupiah sebelum Yakis mengeluarkan sepedanya. Cuma empat ribu rupiah? Berarti dikurangi ongkos seribu lima ratus rupiah, sisanya Cuma dua ribu lima ratus rupiah? Ya Tuhan.... itu seperempat uang jajanku bahkan. Sejahat itukah orang tuanya pada Yakis?
Memasuki usia SMA, rasa salutku padanya mulai memudar, menjadi sebuah keanehan. Ada apa dengan Yakis. Hal ini membuatku makin penasaran. Beruntung bagiku bisa masuk ke SMA favorit tempat Yakis bersekolah ini.
Di sekolah ini Yakis tak begitu ‘terlihat’ layaknya waktu SMP dulu. Mungkin dia agak menarik diri dari kehidupan yang cukup borju ini.
Yakis sekarang bersekolah dengan mengendarai motor. Sepengetahuanku alasannya karena motor ini adalah hadiah untuknya dari ayahnya karena ia berhasil masuk ke sekolah favorit ini. Hmm... kupikir mungkin dia sekarang sudah tak terlalu ‘mengikat ikat pinggang terlalu kencang’. Hehehe...
Dengan pergaulanku yang cukup luas ketika di SMA, aku pun kenal dengan teman-teman Yakis. Pernah aku iseng mengobrol dan mendapatkan sebuah perkataan yang lagi-lagi membuatku tercengang. Seorang teman dalam candanya bilang..
“Yakis kan gila, masa seminggu cuma megang duit lima puluh ribu. Buat bensin aja udah abis sepuluh ribu. Makanya jarang jajan kan dia. Hahaha...”
Setahuku si kawan ini memang cukup dekat dengan Yakis, jadi dengan memberanikan diri kucoba bertanya lebih lanjut akan hal ini. Jawabnya kali ini cukup serius..
“Setahu gw sih dia Cuma bawa uang segitu seminggu. Pagi sarapan di rumah sih katanya. Kalo siang ya seadanya aja yang dia ada duitnya.”
Tak lama pun ia melanjutkan perkataannya,
“Iya tuh, waktu presentasi ekonomi di kelas, dia ambil bahan tentang Pola Hidup Hemat. Ampe ngerinci gitu pengeluaran-pengeluaran yang layak buat anak SMA segini, trus juga jangan lupa nabung segini, ya gitu lah kurang lebih.”
Hmmmm... ternyata yang selama ini aku salutkan benar. Ia tidak menyiksa dirinya sendiri dengan terbatasnya uang jajan. Malah justru belajar untuk menabung. Dan jangan lupa, untuk menghargai masakan ibunya di rumah. Nice Yak...
Enam bulan yang lalu aku bertemu dengan Yakis di sebuah masjid daerah Jakarta Timur. Kami berbincang cukup lama. Dengan usianya yang dua tahun di atasku, sekarang ia sudah menjadi seorang sarjana ekonomi dari sebuah perguruan tinggi populer di Jakarta. Banyak hal yang kucatat dari pertemuan itu, karena aku memang sengaja menceritakan semua kebingunganku yang sudah kujelaskan sejak tadi padanya. Kira-kira ini catatan yang bisa kurangkum.
“Sejak kecil saya gak dimanja dengan uang, tapi dengan kasih sayang dan perhatian. Jadi dengan uang jajan SD yang Cuma 2.000 saya masih bisa menabung, kan paginya empat sarapan di rumah, siangnya pun makan siang di rumah. Kalo haus ya saya juga bawa minuman tuh, apalagi kalo pas lagi ada mata pelajaran olahraga, saya bisa ampe bawa dua botol air putih hehehe...”
“Hmm masa-masa SMP sebenernya saya pengen banget bawa sepeda sampe sekolah, tapi bapak ngelarang karena takutnya saya kecapekan dan memang jalan menuju sekolah cukup ramai dan berbahaya. Yaa biarpun saya sibuk di OSIS, masih sempetlah buat sarapan sepagi mungkin di rumah, dan bawa sedikit bekal untuk makan siang. Uang saku ditabung buat jaga-jaga kalo anak OSIS lagi ngajak maen aja, kan ga enak mereka makan, masa saya nggak. Hahaha...”
“Ya, di SMA saya emang lebih aktif ketika kelas satu saja, sempat masuk OSIS juga, tapi begitu masuk kelas dua saya menarik diri karena mendengar saya akan dicalonkan jadi ketos (ketua OSIS), tapi saya rasa bukan saatnya untuk berpolitik di sini. Siapa bilang uang lima puluh ribu itu kurang? Dari empat puluh ribu setelah dikurangi bensin itu masih bisa saya tabung kok, malah enaknya ketika di sekolah lagi sangat lapar, begitu pulang jadi makin kangen masakan ibu. Hehehe...”
“Selama saya kuliah juga masih begitu kok. Uang bulanan saya selama di kost sangat jauh dari teman-teman yang lain, tapi nyatanya saya masih bisa hidup dan selalu sempat menabung. Hehe.. bukan mau sombong lho. Lagipula ya, di Jakarta ini apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang? WC umum aja 1.000, dua kali dari harga aqua gelas kan. Haha... Ya Cuma prinsip hidup sederhana lah yang gak bisa dibeli dengan uang. Karena sederhana itu sangat menghargai uang dan memunculkan manfaat lain, seperti jadi selalu kangen dengan masakan ibu, dan lebih menghargai pekerjaan bapak tentunya. Karena sederhana sangat mahal untuk dikerjakan. Karena sederhana membutuhkan mental untuk mengerjakannya.”
Agak sulit diterima akal sehatku hingga sekarang memang, tapi itulah Yakis yang selama ini membuatku salut sembari aneh dengan kelakuannya. Bahasanya yang masih cukup baku itu tidak kurekayasa, karena itulah gaya bahasa Yakis.
Untuk menghangatkan suasana, iseng kutanya tentang pacar kepadanya, dan ini jawabnya..
“Pacar ya. Hmm.. kalo saya mau pacaran mungkin dari dulu sudah beberapa kali pacaran. Tapi saya selalu takut akan dua hal sih... saya takut saya mengecewakan wanita itu, dan saya masih belum cukup lihai untuk membuat wanita tidak bosan dengan hidup saya. Wkwkwkwkwwk....”
Hahaha, baru kali ini aku melihat Yakis tertawa begitu lepasnya. Dengan filosofinya yang begitu mendalam tentang wanita, dia mampu menahan diri untuk tidak pacaran, karena daripada wanita itu kecewa atau bosan dengan dirinya. Lebih memilih untuk menyempurnakan prbadinya sebelum keluar kata kecewa atau bosan dari lisan wanita yang disayanginya.
NICE YAKZ!!!
Cerita ini kudedikasikan untuk Yakis. Seseorang yang sangat menginspirasiku.
Yang tak lagi bisa kuajak berbincang. Yang kini telah tiada.
Semoga selalu tenang di sana.
(Oleh :Isnendi Yakub – STAN ‘09)

jempol.. :P
BalasHapusblognya udah ku ikutin..
BalasHapusikut balik ya :)
http://sirubahngedumel.blogspot.com/