Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09
Ada kesalahan mendasar yang selalu diulang-ulang oleh para generasi muda dalam proses perekrutan anggota baru mereka. Niat awal untuk regenerasi pengurus demi kelanjutannya kehidupan suatu organisasi kemahasiswaan justru diawali dengan kesalahan mendasar. Namun hal ini seringkali dikatakan sebagai hal sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan.
Semoga tulisan ini bisa mencerahkan, bukan justru membingungkan, apalagi menimbulkan hujatan. Hehe..
Sebagai mahasiswa tentu saya juga pernah mengalami masa-masa orientasi awal kampus dengan berbagai macam nama yang berbeda-beda, namun intinya sama, yaitu pengenalan kehidupan kampus beserta berbagai macam organisasi di dalamnya. Dan bagi saya ini adalah hal yang menarik, karena inilah cita-cita UUD 1945 untuk mewujudkan kebebasan berpendapat bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya mahasiswa sebagai generasi muda yang akan melanjutkan cita-cita bangsa. Dan di beberapa kampus yang pernah saya datangi atau sekadar lewat saja, selalu ada spanduk besar yang dengan bangganya mengucapkan selamat datang kepada generasi penerus bangsa. Ups, Generasi Penerus? Apa yang diteruskan?
Baik, kita mulai membahas hal ini.
Sadarkah kita apa arti dari ‘Generasi Penerus’ itu? Jika kita telusuri dari segi bahasa, Generasi dapat diartikan sebagai kaum yang hidup di masa/waktu yang sama, dan Penerus adalah berasal dari kata ‘Terus’ yang dapat diartikan sebagai yang melanjutkan. Dari hal ini dapat saya simpulkan bahwa Mahasiswa sebagai Generasi Penerus adalah kaum muda yang disiapkan untuk melanjutkan yang sudah ada, entah itu aturan-aturan yang ada, ataupun birokrasi yang sudah ada. Kata ‘melanjutkan’ di sini berarti juga adanya kelemahan untuk bisa melawan aturan-aturan dan birokrasi yang ada tersebut. Kasarnya, mahasiswa hanya disiapkan untuk menjalankan yang sudah ada saja. Padahal seharusnya, dengan idealisme mahasiswa, kita semua harus bisa memperbaiki yang sudah ada, bukan cuma melanjutkannya saja.
Sebagai generasi muda, pastilah ada ketidakpuasan dalam diri kita terhadap lingkungan yang menurut kita terlalu banyak kesalahan dan harus segera diperbaiki. Nah dengan itulah kita sebagai mahasiswa tidak bisa dikatakan sebagai generasi penerus. Untuk apa kita berkoar-koar dalam berbagai media bahwa ada kesalahan di sana sini dari para penguasa, toh kita juga nantinya cuma melanjutkan saja?
Kita pun tidak bisa dengan begitu mudahnya mengatakan bahwa kita adalah generasi muda, yang tentu memiliki inovasi-inovasi yang lebih baik untuk lingkungan kita, dan karena alasan tersebut kita menjadi pihak yang selalu menyalahkan kaum tua yang sudah lebih dulu hidup dan menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam pemerintahan ataupun lingkungan kita. Bukankah para kaum tua itu juga pernah muda?
Secara dewasa, kita pun harus mengakui bahwa kaum tua pasti memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih banyak daripada kita, generasi muda. Tentu mereka pun telah menerapkan idealisme mereka demi terpenuhinya hasrat mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di bidang yang mereka geluti. Namun, mereka juga manusia yang pernah berbuat salah, lantas apa kita akan melanjutkan kesalahan mereka dengan cap kita sebagai ‘Generasi Penerus’? Tentu tidak, kawan!
Untuk itulah, apakah kita mau selalu di-cap sebagai Generasi Penerus?
Panggilan untuk mahasiswa sebagai generasi penerus mungkin sudah lama digunakan oleh berbagai kaum mahasiswa. Mungkin sengaja dibuat demikian untuk melemahkan posisi mahasiswa. Atau bahkan, memang sudah dicita-citakan bahwa mahasiswa hanya berhak untuk melanjutkan yang sudah ada saja. Melanjutkan kebobrokan organisasi, melanjutkan nilai negatif pemerintah di mata rakyat, hingga melanjutkan tren korupsi yang tak hanya melibatkan aparat pemerintah namun juga swasta.
Kawan, saya katakan di sini bahwa mahasiswa punya berbagai potensi besar untuk memperbaiki segala aspek kehidupan. Dengan semakin membaiknya fasilitas yang menunjang proses perkuliahan kita, seharusnya kita tidak hanya sekadar generasi penerus, tapi juga generasi pelurus.
Generasi Pelurus yang tidak asal bicara tentang pemerintahan tanpa mengetahui sebab-akibat bobroknya birokrasi. Generasi Pelurus yang tak hanya bisa menyalahkan kaum tua. Generasi Pelurus yang mampu meluruskan kekeliruan yang ada.
Sudah saatnya kita mengubah perkataan yang salah tentang mahasiswa.
Sambutlah adik-adik kita sebagai Generasi Pelurus kesalahan-kesalahan kita dalam organisasi!
Tanamkan dalam hati, bahwa kita adalah Generasi Pelurus! Bukan hanya Generasi Penerus!
Di tangan para pemuda lah semua kekeliruan itu akan diluruskan!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar