Oleh : Isnendi Yakub (STAN ‘09)
Malam pergantian tahun kali ini cukup membekas bagiku, dan karena itulah aku coba menuangkannya dalam tulisan ketigaku ini.
Malam tahun baru-an? Entah apa artinya bagiku. Bukan karena fanatik. Tapi lebih karena realistis saja.
Realistis bagaimana? Begini kawan, biar kuceritakan.
Pernah beberapa tahun lalu aku memiliki rasa penasaran tentang arti ‘malam tahun baru’. Ketika itu sebuah stasiun televisi swasta pertama di negeri ini menayangkan tentang “Duet Maut Raja & Ratu Dangdut”. Di malam itu aku yang masih cukup kecil (sekitar usia SD) tidak begit mengerti kenapa ada ‘Raja’ dan ‘Ratu’ dalam dunia musik yang cukup membumi di bumi pertiwi ini. Yah, tapi bukan ini yang akan kuceritakan, kawan.
Malam tahun baru kali itu aku definisikan sebagai perubahan sesuatu yang amat sangat. Ya, mungkin seperti ada perubahan warna langit malam di tepat pukul 00.00, atau ada sedikit ‘getaran’ di bumi, tapi bukan gempa. Dan ketika 00.00 itu datang, di mana semua itu? Tak ada sama sekali perbedaannya, karena aku sudah tertidur sebelum tiba tengah malam itu. Ngokk... haha,
Hal ini terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun. Tiap jam dinding menunjukkan jam 10 atau jam 11 malam, entah kenapa aku selalu tertidur begitu saja dan baru bangun lagi ketika suara-suara petasan itu bersautan tengah malam. Ya, hanya saut-sautan ledakan petasan dan raungan terompet yang berisik itulah yang terjadi di setiap malam pergantian tahun yang kualami. Tak ada perubahan warna langit, ‘getaran’ bumi, atau mungkin sekadar hujan yang turun dari langit secara serempak dan mematikan seluruh petasan itu. Hehehe..
Coba sebentar kita amati, setidaknya ada dua jenis bunyi yang menggelegar di malam tahun baru tiap tahunnya. Ya, itu adalah suara petasan dan terompet. Mereka berdua seolah adalah asesoris wajib di malam tahun baru. Mungkin bagiku hanya ada satu pertanyaan bagi masing-masing benda tersebut.
- Berapa harga petasan itu?
- Sudah siap mendengar ‘terompet’ sangkakala ya?
Silakan dijawab dan tafsirkan sendiri kawan.. J
Jadi, sudah sangat jelaslah yaa kenapa malam tahun baru tak pernah berarti bagiku. J
:: setiap orang berhak berfikir sesuai apa yang diinginkannya ::
Bagaimana dengan malam pergantian tahun 2011-2012 ini? Hmm.. kita kembali ke judul tulisan ini ya kawan.
Berbagai acara disajikan televisi-televisi swasta yang tujuannya adalah ‘memanjakan’ para pemirsa yang mungkin tak sempat keluar rumah sepertiku ini. Hehe.. Yuk kita rangkum satu-per-satu..
1. Sebuah ‘pertarungan’ antara dua stasiun televisi swasta yang biasanya bertarung di bidang persinetronan dan acara musik di pagi hari, yang kali ini menampilkan “Manusia Beton” dan “Manusia Semen”. Kedua acara utama ini disuguhkan di satu tempat yang berada di utara Jakarta, ya, Pantai Karnaval dan Pantai Festival Ancol.
2. Sebuah tontonan menarik berupa penayangan film bioskop yang ‘Pertama tayang’ di TV.
3. Ada juga yang masih setia menayangkan laga Barclays Premier League.
Well.. cukup menarik lah bagi yang tak sempat keluar rumah. Kalaupun sempat keluar rumah, mungkin ada baiknya jika pergi ke Tugu Monas untuk mengikuti Tabligh Akbar menyambut Tahun Baru 2012. What? Tabligh Akbar untuk menyambut tahun baru masehi? Hmm.. silakan berpendapat masing-masing yaa. J
Aku sendiri malam itu ada keperluan untuk mengantarkan sesuatu ke rumah seorang kawan. Ya, rencana awalnya memang hanya sebentar saja, hanya mampir. Tapi ternyata sampai pukul 22.15 aku baru pulang. Hmm.. mungkin terbawa suasana malam liburan jadi kelamaan berbincang. Hehehe,,
Yang aku cukup terkejut dengan malam itu adalah, ketika aku berangkat segera setelah maghrib ternyata di perjalanan aku tak menemui kemacetan yang amat berarti. Tak seperti biasanya ketika aku keluar malam minggu yang sudah terjebak macet sejak 1.5 Km keluar dari rumah.
Ada apa ya? Mungkin karena orang-orang lebih tertarik keluar rumah di atas jam 9 malam, begitu pikirku.
Mungkin karena perasaan itu juga akhirnya aku terlalu lama mengobrol sampai selarut itu.
Oke, sudah waktunya pulang.
Perjalanan keluar rumah kawan itu pun tak macet seperti yang kupikirkan. Alhasil, timbullah rasa dalam bathinku tentang ‘Ah, tahun baru tetap saja sepi begini, hahaha..’. Dan, tak sampai 1 Km dari rumah kawanku itu, ternyata jalanan arah pulang ditutup, perboden kalau kata orang betawi. Jadilah aku harus memutar ke pusat perbelanjaan. Dan berujung pada sebuah pertigaan yang kedua arahnya menuju ke satu arah. Arah kiri bagiku, dan arah kanan bagi yang berseberangan arah dariku.
Kurang lebih satu jam kendaraanku tak bergerak. Untung sudah sejak awal macet tadi kumatikan mesin motorku.
Sambil ‘berhenti’ itu aku memandangi sekitar. Betapa para orang tua muda mengajak serta anak balita, bahkan bayinya untuk bermalam tahun baruan. Apa anak-anak itu tidak mengantuk ya? Sudah jam 11 malam lho ini.
Beberapa yang lain terlihat bergerombol dalam rombongan. Ah, kalau saja aku jalan kaki saat itu, mungkin aku tak akan ‘terdiam’ seperti ini pikirku.
Singkat cerita, di tengah kerumunan manusia beserta suara motor yang masih menyala itu, suara-suara petasan pun sudah mulai diledakkan. Padahal masih jam 11 malam.
Setelah sejam-an aku terdiam dalam macet, akhirnya lima belas menit kemudian aku telah sampai di rumah. Huh, perjalanan yang biasanya hanya lima belas menit kok bisa jadi 1 jam lebih dua puluh menit begini yaa..
Okelah, yang penting sudah di rumah.
Tak lama tengah malam pergantian tahun baru itu pun tiba. Letupan petasan dan raungan terompet tahun baru bergemuruh di lingkungan rumahku yang berlangsung sampai jam setengah satu malam. Hey, di perumahan saja seperti ini ya gemuruhnya.
Karena terlalu berisiknya suara gemuruh itu, aku yang belum bisa tidur justru membuka laman social network yang cukup sering kubuka. Dan apa yang terjadi? Hmmmm... bermacam-macam status dibagikan seolah menggambarkan suasana hati mereka malam ini. Banyak yang mengucapkan ‘Ha**y N*w Ye*r’ dengan segala harapannya, ada juga yang tetap menggalau dengan membagikan resolusi yang tak tersampaikan di 2011 untuk digapai di 2012. Banyak juga yang menghujat karena menganggap malam ini tak ada bedanya dengan malam lain, dan ada sebuah status yang cukup menarik perhatianku.
‘Udah kayak di jalur gaza aja nih, banyak ledakan’
Hmmm.. aku tak bisa berkomentar untuk hal yang satu ini. Tapi status ini cukup membuatku terdiam semalaman.
Ya, inilah arti malam tahun baru bagiku. Yang lalu, dan yang malam itu kurasakan.
Semoga semuanya tidak hanya sekadar menghambur-hamburkan uang.
Semoga selalu ada ketakutan kita pada suara sangkakala kelak.
Semoga semuanya makin membaik dan makin menyenangkan selanjutnya.
tadi aku pikir ceritanya apa..dari raja dan ratu dangdut..ternyata endingnya tentang filosofi tahun baru ya..hehehe :D
BalasHapusGood... selalu menulis... :)
oya, don't forget kunjungi my little blog :
http://yuristiary.blogspot.com