Selasa, 17 September 2019

Jadwal Menunggu Giliran...

Pernah di suatu perjalanan, saya salah pesan tiket kereta. Dikiranya berangkat malam ini pukul 23.45, ternyata tanggalnya besok pukul 23.45. Karena terlanjur ada janjian besok paginya, malam itu saya refund tiket dan beli tiket 1x transit di Cirebon dengan waktu tempuh 1.5 jam. Awalnya menjadwalkan untuk tidur di kereta direct sampai Jakarta, eh malah harus lebih menahan kantuk 1.5 jam agar tak terlewat di stasiun Cirebon. Jadwal janjian juga harus geser sedikit. Well.. kita hanya bisa menjadwalkan tanpa mampu memastikan berjalannya jadwal tersebut.

Di suatu pagi, saya sedang ingin sekali berkendara motor ke kantor. Berangkat lah saya pukul 5.30. Perkiraan waktu perjalanan 60-75 menit sampai kantor. Di perjalanan agak sepi. Terbesit pikiran untuk sedikit tancap gas supaya bisa tiba lebih cepat dan bisa tidur pagi di kantor. Tiba-tiba terdengar suara BRAKKKKKK!!! TREZZSS!!!. Sekilas kuintip di kaca spion, sepertinya sebuah motor menabrak Alphard dan terpental. Tak jelas nasibnya, tapi dari suaranya, sepertinya lumayan parah kecelakaan itu. Saya tak berani berhenti untuk melihat TKP. Tapi laju motor jadi melambat, hingga sampai kantor ternyata tetap butuh waktu 75 menit.

Saya adalah pengguna ojek online. Terutama di pagi dan sore hari untuk transportasi Stasiun-Kantor-Stasiun. Dan pagi itu terasa beda. Bapak drivernya lambat banget. Kesal? Banget! Lalu sayup-sayup saya dengar Bapaknya seakan ngajak ngobrol, "Mas, di Lapangan Banteng lagi ada Flona ya?". Saya diamkan karena kesal. Saya perhatikan, setiap melewati pohon yang rindang Bapak ini selalu melihat ke arah pohon itu sembari melambatkan laju motor. Mungkin sedang kangen kampung halaman yang masih penuh dengan pepohonan rindang, pikirku.
Lalu di pertigaan Hotel Borobudur agak macet. Si Bapak malah langsung tancap gas dan ambil jalur di antara mobil-mobil. "Kenapa gak daritadi aja pak?" Gumamku dalam hati. Ternyata di ujung kemacetan ada kecelakaan motor vs Bus. Ada korban tewas yang masih tergeletak belum sempat dipindahkan warga. Kemudian saya berpikir, 2-3 menit saja si Bapak mempercepat laju motornya tadi, bisa jadi Kami lah korban kecelakaan itu. Atau minimal, menjadi saksi mata kejadian tersebut. Pfiuhhh....

Awal menikah dulu, saya selalu berkeinginan naik gunung. Tak usah tinggi-tinggi. Asal naik gunung saja. Gunung pertama yang berhasil saya daki adalah Gunung Bromo. What? Itu mah bukan Gunung! Hahaha...
Lalu beberapa target gunung dibuat. Jadwal coba disusun. Buyar karena ternyata istri hamil muda. Dan setelah itu, coba-coba susun jadwal baru. Terdekat adalah coba-coba trekking cantik ke Kawah Ijen. Rencana sudah rapi. Cuti sudah disetujui. Packingan sudah lengkap. Mental insya Allah siap. Berangkat jam 5 dari Serpong supaya tak bersamaan dengan Anker Pekerja. Sampai di subuh hari pagi itu pukul 4.30 si Aji telepon. Jarang-jarang adik saya ini telepon. Dengan teriak dan terisak. "Lo dimana?! Bapak sekarat! Pulang sini!!!" Gak terpikir hal lain selain ambil wudhu untuk subuhan dan langsung cabut ke Bekasi. Shalat subuh saat itu, bahkan menjadi tak bersuara membaca Al Fatihah, sampai Istri saya bersuara "Subhanallah" menyadarkan saya. Memasuki rakaat kedua, handphone bunyi lagi. Panggilan masuk dari Taksi pikirku. Seusai shalat, segera saya lihat handphone. Ternyata telepon dari Aa. Saya telepon balik bermaksud mengabari tadi sedang shalat. Tapi kata Aa, "Yaudah gapapa. Santai aja. Ke Bekasi ya. Gausah buru-buru. Bapak udah gak ada... Hati-hati aja di jalan..." Sejak hari itu, banyak hal berubah. Rencana Trekking ke Kawah Ijen buyar. Hingga pendakian pertama saya ke Gunung Merbabu pertengahan Agustus 2015, air mata ini menetes ketika menginjak puncak. Seakan ingin mengulangi perbincangan dengan Bapak, "Pak, boleh naik gunung kan?" Dan membayangkan penolakan beliau seperti yang sudah-sudah dahulu. Padahal Bapak sudah, giliran saya kapan???


Jumat, 13 September 2019

Bekerja. Berkarya. Berbakti. Berjuang(?)


Setiap kita pernah menjadi seorang anak.
Sebagian dari kita mengenal orang tuanya.
Sebagian lainnya tidak.
Hanya imajinasi.
Atau juga berupa tokoh rekaan.
Kita hidup dan besar bersama orang tua sungguhan maupun imajinasi yang pada akhirnya akan membentuk karakter diri dan menjadikan kita berada di posisi sekarang ini.

Menjelang tahun ketujuh saya memiliki pekerjaan tetap. Anggaplah begitu.
Selalu teringat sebuah stiker pada sisi belakang sebuah motor di depan saya saat di perjalanan. Di situ tertulis “Harga Diri Seorang Pria adalah Bekerja” disertai ilustrasi ikonik seseorang berkendara motor. Mungkin Bapak itu adalah tukang ojek. Tak ada informan maupun narasumber yang bisa saya tanyakan maksud stiker itu. Termasuk si Bapak pemilik motor itu. Jadi saya mengambil kesimpulan, dengan saya tetap bekerja saat ini, saya masih memiliki harga diri.

Seorang kawan pernah juga berujar, kenapa jika di beberapa kantor menyebut pekerjanya sebagai ‘Karyawan’ bukan ‘Pegawai’? Yang saya tahu, Alm. Bapak saya dulu selalu menulis isian Pekerjaan dalam dokumen-dokumen sekolah saya dengan ‘Karyawan’, karena beliau memang Karyawan Swasta. Bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kala itu bagi saya, sebutan ‘Pegawai’ adalah untuk PNS, sedangkan Karyawan adalah pekerja yang tidak berstatus PNS. Sebuah penjelasan dari kawan itu cukup membuat saya tertawa kecil. Katanya: Karyawan itu output yang diharapkannya adalah Karya, Pegawai itu outputnya hanya bekerja. Hehehe…

Dewasa ini saya semakin sering mendengar jargon/ajakan/kampanye tentang ‘Berbakti untuk Negeri’. Sebuah kalimat yang bisa ditafsirkan dengan begitu banyak penafsiran dan berbagai sudut pandang. Selalu menyenangkan bagi saya untuk sekadar mendengarkan penafsiran yang berbeda itu. Yang paling seru, tafsiran sebagian orang yang menganggap ‘Berbakti untuk Negeri bisa saja dilakukan dengan Bekerja dan Berkarya di  Luar Negeri dengan membawa nama Bangsa Sendiri’ melawan pendapat ‘Berbakti untuk Negeri itu dengan Kembali ke Negeri Sendiri, dan Membuka Kesempatan sebesar-besarnya dengan Kemampuan Sendiri’. Bersyukurlah para pembesar negeri yang memiliki masyarakat dengan keberagaman sudut pandang seperti ini. Sementara di sudut-sudut yang tak jauh dari kita, masih ada yang sekedar berharap mendapat pekerjaan layak dan tetap berbakti dengan membayar pajak yang dibebankan kepadanya di tiap kegiatan perekonomiannya.

Sebagian dari kita mengidolakan sosok yang memiliki ‘Pengaruh’ di keseharian kita. Biasanya kita merasa dekat dengan sosok tersebut karena kita mengikutinya sepanjang waktu. Mengenalnya melalui karya, kemudian mencari tahu lebih jauh perjuangan hidupnya dalam menciptakan karya, dan tak jarang yang akhirnya mencoba menduplikasi kisahnya di kehidupan keseharian meski ada perbedaan dimensi yang cukup beragam. Seringkali kita lupa, ada sosok-sosok terdekat yang benar-benar nyata perjuangannya dalam mendampingi kita sejak kita masih belum bisa apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini. Lucunya, kita selalu lupa memasukkan mereka ke dalam daftar tokoh idola kita. Seperti saya yang tetap mengidamkan mampir ke sungai di Venice padahal ada Kalimalang di sini. J


Rabu, 11 September 2019

Kita bisa saja benar, tapi...

Hari ini Timnas kembali kalah. Skor akhir 0-3 atas Thailand di GBK. Sebelumnya GBK juga 'dipermalukan' dengan hasil akhir Timnas melawan Malaysia yang berujung skor 2-3. Kita tentu bisa menduga kesalahan terbesar ada dimana.

Pagi tadi, jalanan tersendat di lokasi yang tak biasa. Kekhawatiran akan ketinggalan kereta sempat ada. Tapi ada rasa khawatir lain, jangan-jangan ada kecelakaan dan korbannya masih ada di tengah jalan dan belum dievakuasi makanya jalanan jadi macet. Kalo kondisi ini yang terjadi, lebih baik saya lewat jalan lain saja daripada melihat tubuh tergeletak begitu. Tak lama, ujung kemacetan pun mulai nampak. Ternyata ada 2 unit truk tronton yang parkir di lajur kiri di jalanan yang hanya 2 lajur itu. Kita tentu kembali mampu menduga kesalahan atas kondisi ini disebabkan oleh siapa.

Awal Agustus lalu ada pemadaman listrik mendadak dari PLN. Semua aktifitas saya terganggu karena sudah berlangsung beberapa jam. Menjelang malam, kekhawatiran bertambah, karena tak biasanya pemadaman PLN lebih dari 3 jam seperti ini. Saat malam tiba, warung-warung dan mini market kehabisan stok lilin. Toko ritel yang agak besar bahkan kehabisan stok Emergency Light dan Genset. Semakin malam, kekhawatiran akan kondisi keamanan lingkungan rumah kian bertambah namun mata pun sudah tak kuasa menahan kantuk. Setelah 12 jam lebih, listrik pun menyala. Dan saya bisa tidur dengan tenang. Hingga sekitar jam 3 pagi terasa panas. Ternyata listrik padam lagi. Keesokan harinya, Presiden memanggil Direksi PLN hingga ada insiden Presiden Walk Out dari ruang rapat itu. Sampai sini, kita sudah semakin kuat menduga siapa yang patut dipersalahkan atas pemadaman yang sangat lama ini.

Kita bisa saja benar, tapi...

Bilamana kita di posisi pemain Timnas yang harus mengakui Thailand dan Malaysia. Sudah malu di hadapan pemain lawan dan penonton GBK. Boro-boro buka sosmed buat 'memantau' TL, mungkin telepon dari Keluarga pun rasanya berat untuk diangkat. Saya suka membayangkan, bagaimana mungkin bisa berdiri tegak menghadapi cercaan orang-orang yang merasa kecewa dengan performa mereka di lapangan ya?

Saya kurang paham dengan penyebab parkiranya 2 truk tronton pagi itu. Apakah mogok atau memang sengaja parkir? Dugaan terkuat saya, pastinya mereka terlambat dalam mengantarkan paket di dalam Box tersebut. Bisa jadi akan dikurangi uang honornya. Atau bahkan harus menanggung penderekan Truk ke bengkel tertentu dengan biaya sendiri. Kita tak pernah benar-benar mengetahuinya.

Tentang PLN yang 'dihujat' oleh semua masyarakat (termasuk saya), bagaimana mungkin mereka bisa kembali bekerja? Bisa jadi petugas PLN yang dihujat adalah keluarga dekat kita. Tetangga kita. Yang secara tak sengaja kita menghujat dan mereka mendengarnya. Bisa jadi, 12 jam itu adalah masa-masa ter-lama dalam hidup mereka untuk sekedar mengharapkan "Cepatlah berlalu..."

Kita bisa saja benar, kawan. Tapi, apakah kita terbiasa menyelidiki apa yang terjadi pada mereka yang kita persalahkan???

.
.
.
.
Jawabnya: "Bukan urusan saya."

Teruntuk Sebuah Jiwa…


Dear Nendi,
Kemarilah.. saya ingin bercerita…
Cerita ini tak beralur. Tak pula menyediakan detil yang lengkap. Tapi kamu baca saja ya.

Hari ini saya kembali berjalan ke sudut itu.
Tak ada yang baru di sudut itu. Masih sama. Cenderung memburuk. Kembali tak sesuai dengan impian saya. Tapi saya tetap harus kembali ke situ.
Kenapa? Saya juga tak begitu paham. Yang saya pahami, saya harus ke sudut itu.

Kemudian, saya bertemu orang itu. Sosok yang memberi saya sedikit pencerahan. Saya tak pernah berharap sambutannya berubah. Biar saja seperti itu. Saya cuma memahami bahwa saya harus bertemu dengannya.

Tahukah kamu, Nendi?
Akhir-akhir ini saya selalu menikmati masa-masa menyendiri.
Semacam menjaga diri agar tak terlalu banyak bersentuhan dengan jiwa lain. Menurut saya, sebagian besar mereka hanya membawa raganya saja. Jiwanya mereka tinggalkan di tempat lain. Mungkin saya juga sama. Hanya membawa raga tanpa jiwa. Yang saya pahami, saya sudah tak lagi mengijinkan jiwa saya disentuh oleh raga-raga tak berjiwa itu.

Sekali waktu saya merasakan jiwa ini ternyata kembali mampu bersentuhan dengan jiwa lain. Ada keterikatan yang sulit dijelaskan. Belakangan saya sadari itu adalah sebuah kesalahan. Jiwa ini baiknya memang tak lagi bersentuhan dengan yang lain. Yang saya pahami, jiwa ini tak layak lagi bersentuhan dengan mereka. Ternyata bukan mereka raga tak berjiwa itu. Tapi itu adalah saya.

Kamu juga mungkin sudah tahu ini Nendi,
Selama ini kita memahami bahwa kita hidup dengan impian dan harapan. Naif memang. Karena sebagian dari jiwa yang sempat bersentuhan dengan saya berkata, jangankan impian, harapan saja sudah sulit ditemukan-diperjuangkan saat ini.

Sekali waktu saya sempatkan berjalan di sudut lain. Disana saya temukan seorang yang membawa raga dan jiwanya secara penuh dan tegas. Raganya sungguh tak elok. Miris melihatnya. Tapi jiwa yang dibawanya mampu menghentak dan meruntuhkan imajinasi ini saat lisannya kutemukan bergumam:
Nanti pasti Engkau berikan bagianku, kan?



Rabu, 31 Juli 2019

SYAKILA ANINDITA ZAHRA





Syakila Anindita Zahra
Anak pertamaku dan Shinta
Setelah kehamilan sebelumnya, kami diminta-Nya untuk menunda sementara
Tak begitu lama, katanya. Toh masih muda juga

Lalu tiba masa kehamilan kedua
Dengan segala warna dan rasa yang diserap raga
Tuhanku menyebut ini sebagai fase pembelajaran menjadi orang tua
Ya…
Belajar...
Belajar untuk menjadi orang tua

Syakila Anindita Zahra
Sebuah inspirasi tentang nama
Syakila, sebutan Putri di Afrika
Anindita, sebutan Putri dari Sansekerta
Zahra, putri tercinta Rasul bernama Fatimah Az Zahra
Tersadur doa dalam balutan rangkaian nama
Dibumbui canda ‘Anindita’ sebagai Anak Isnendi dan Shinta
Yang kini, kami hanya memanggilmu: “Cila”

Cila…
Ini bukan tentang Ayah tempatmu belajar dan bercanda
Tapi aku yang belajar dari tiap candamu disertai tawa
Ini juga bukan tentang Ayah wajib memberimu nafkah
Tapi aku yang belajar syukur bahwa hadirmu adalah berkah
Ini tentu bukan tentang Ayah mengajarimu menjadi dewasa
Tapi aku yang membersamaimu agar bisa dewasa bersama

Cila…
Ingatkah kamu, nak?
Saat kamu berputar dan merombak seluruh rencanaku dan Bundamu
Tetaplah begitu, nak! Berdirilah di atas pendirianmu sendiri!
Sebagaimana kamu menemukan cara untuk berputar dan menemukan jalan lahirmu dahulu!
Ayah dan Bunda akan coba memahami berbagai kehendakmu untuk memutuskan

Cila…
Kini usiamu menginjak 3 tahun
Kehamilan ketiga Bundamu baru saja tertunda
Hadirnya adik bagimu juga tertunda
Tak apa, nak.. kita masih bisa bermain bertiga, kan?


Isnendi Yakub
31 Juli 2019
H-1 Ultah ke-3 Cila



Kamis, 03 Januari 2019

KEMBALI MENULIS...

Wow... sudah lama juga jemari ini tak menari-nari di atas keyboard untuk membuat coretan-coretan sebelum memastikan keyakinan diri bahwa tulisan itu siap untuk diposting di Blog ini.

Masih dengan NickName yang sama, Belajar Menulis. Sebuah penamaan yang sejujurnya melewati pemikiran diri sendiri yang cukup panjang dan lumayan berbelit. Iya, berbelit. Sama seperti saat aku kembali menulis kini.

Kukira semuanya sudah berjalan cukup lancar. Sehingga tidak diperlukan lagi tulisan sejenis seperti yang ada dalam blog ini.
Kukira semuanya sudah selesai dengan postingan sederhana berwujud status sosmed dengan tambahan ‘bumbu’ foto sebagai wujud eksistensi diri.
Kukira, menulis yang bagiku adalah sebuah proses menyendiri akan berhasil membawaku ke masa tulisan-tulisan itu kubuat sebagai pengingat diri..
Seperti dalam tulisan berjudul “SECOND CHANCE(S)” misalnya, ia mengingatkanku tentang akan adanya kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga aku perlu mensyukuri semua proses yang sudah kulewati selama ini.
Ketika kembali membaca tulisan berjudul “PKL 171”, ingatanku kembali melayang ke masa-masa dimana aku dan teman-teman dibimbing oleh para pegawai KPPN Bekasi bukan hanya tentang tugas PKL kami, tapi juga tentang bagaimana cara bekerja dan berbagi kebahagiaan dengan rekan kerja.
Beralih ke tulisan berjudul “Terima Kasih, STAN!”. Tulisan terpanjang di blog ini yang menceritakan semua kenanganku sebelum, saat, dan setelah berkuliah di STAN. (yang sampai sekarang mustahil diulang)
Dan di tulisanku terakhir yang berjudul “BAPAK-IBU (SEBUAH KISAH CINTA SEDERHANA)” yang tak’kan pernah bisa kulupakan bagaimana suasana hatiku ketika itu.

Lantas, mengapa aku tak menulis lagi? Terlalu banyak menimbang-nimbang secara berbelit dan akhirnya mencegahku untuk kembali menulis. Bahkan berupa coretan pun nyaris tidak ada dalam beberapa tahun terakhir ini.

Kini, menulis tidak selalu menyenangkan buatku.
Kini, menulis seakan terlalu menyita waktuku.
Kini, menulis bisa saja mengancam keberadaanku.

Ilustrasi Menulis Kembali...

Minggu, 24 Mei 2015

BAPAK-IBU (SEBUAH KISAH CINTA SEDERHANA)

Tak pernah sekalipun aku mendengar kata 'cinta' terucap dari bibir keduanya
Nyaris pula tak pernah kuingat kapan mereka saling berpeluk mesra di hadapanku
Tak cukup banyak ceritaku bersama mereka tentang tempat indah di luar sana
Selain di rumah..
Juga tak banyak kukecap rasa makanan luar
Selain masakan rumah..
Memang, tak cukup lama pula keduanya tampak bercengkrama di rumah
Bapak, tiada henti menggerakkan seluruh kemampuan yang dimilikinya demi kehormatan keluarga
Ibu, selalu siap memastikan segalanya berjalan baik dan menyenangkan
Namun, seketika semua itu senyap ketika mereka bersua
Semacam ingin berkata "Aku ada.."
27 tahun sudah mereka dipersatukan
Kemudian dipisahkan..
Begitu saja..
Sepengetahuanku..
Bapak tak pernah menyembunyikan apapun selain 1 hal: Kesakitan
Sepengetahuanku..
Bapak tak akan berucap 'sakit' ketika itu dirasanya masih bisa ia tahan
Sepengetahuanku..
Bapak bukan pengeluh
Sepengetahuanku..
Bapak seolah bisa segalanya
Senada dengannya, Ibu adalah wanita penjaga amanah yang kelewatan batas
Ibu tak akan berani keluar rumah untuk hal apapun sebelum mendapat restu dari Bapak
Ibu lebih suka menahan rasa ingin bercerita hingga Bapak pulang ke rumah, lalu bercerita
Ibu tanpa ragu menolak bicara ketika tersudut dalam perbincangan yang tak sehat
Ketika ibu sedih, jangan harap Bapak akan membawanya larut ke dalam perbincangan mendayu, Bapak akan dengan mudahnya berkata, "Ah, begitu doang dipikirin.."
Bapak bukanlah pria pemuji
Ibu adalah ahlinya membesarkan hati
Suatu ketika Bapak masih berkata merasa direpotkan walau aku sudah berkuliah dengan beasiswa
Tapi, seorang kawan Bapak sempat bertanya padaku, "Ini anaknya yang kuliah di STAN ya? Bapak kamu cerita banyak tentang kamu."
Ibu dengan mudahnya berkelakar, "Namanya juga Bapak. Orangnya gengsian."
Begitu kecilnya arti sebuah semangat membangun kehormatan keluarga.
Hingga banyak orang lalai, dan menjatuhkannya di sembarang tempat.
Begitu kecilnya arti sebuah pengabdian kepada keluarga, hingga banyak orang menomorduakan kerajaan kecil itu.
Cita-cita keduanya tak pernah muluk.
Bermodalkan ijazah SMA sebagai pendidikan terakhir mereka, melihat ketiga anaknya bisa memakai toga adalah impian yang selalu disebutkan sejak kami kecil.
Hal itu terjawab perlahan ketika Kakakku wisuda D3, kemudian aku D3, dan ditutup oleh Adikku yang bergelar Sarjana.
Perlahan kekhawatiran mereka terhadap kehidupan pasca-wisuda pun terhapus.
Kakakku sudah bekerja sejak sebelum wisuda D3, aku yang kini sudah berstatus PNS, dan adikku sudah 2 bulan terakhir ini bekerja.
Tak banyak hal yang bisa kuceritakan kembali tentang Bapak.
Yang kutahu, Bapak selalu bekerja keras demi keluarganya, meskipun kami bertiga sudah bisa memiliki nafkah sendiri.
Yang kutahu, Ibu selalu berusaha melayani Bapak sejak kami jarang ada di rumah ketika jam kerja.
Satu wasiat yang memang selalu dikhawatirkan Bapak semasa hidup adalah : Merepotkan orang lain.
Dan benar. Bapak wafat dalam tempo yang sangat singkat, hanya berkisar 10-20 menit saja. Tak ada biaya besar. Tak ada kekhawatiran yang berlangsung lama. Bapak pamit, dengan beberapa pekan terakhir yang selalu membuat Ibu tersenyum dengan permintaan-permintaan manjanya pada Bapak.
Dan tak lupa, tanggal 2 Mei 2015 yang lalu. Sudah lama Bapak tak memberi kami nasihat dengan detail. Hari itu, Bapak menjelaskan banyak sekali hal detail tentang kekhawatirannya itu. "Jangan pernah merepotkan orang lain."




-Mukhyidin Bin Syamsudin-
Lahir di Cirebon, 23-07-1956
Wafat di Bekasi, 13-05-2015