Mari bercerita kawan...
Apakah yang ada dalam benak kawan, ketika kawan
melihat seorang anak kecil nan pintar lagi cerdas, namun sangat sering terlihat
murung di tengah bergelimangnya mainan yang selalu ia mainkan?
Mungkin sedikit cerita ini bisa memberi jawaban...
* * *
Senyumnya tak pernah semanis kawan-kawan seusianya.
Bahkan bisa kukatakan, senyumnya biasa saja. Tak ada yang menarik perhatianku
sama sekali.
Beberapa kali aku melihatnya bermain di taman dekat
Taman Bermain (Playgroup) ‘Nur Cahya’
dekat sekolahku. Di antara anak-anak seusianya, mungkin hanya Vino (nama anak
kecil itu-pen.) yang tak terlalu kuperhatikan. Vino lebih sering terlihat
bermain sendiri dengan mainannya sendiri dibanding bergabung dengan kawannya
yang lain. Hingga suatu hari ia menghampiriku dan mengajak bermain.
“Ayo, kak main sama aku!” senyuman itu pertama kali
kulihat dari si kecil Vino ketika ia menyambangiku yang tengah duduk di pinggir
taman sambil melihat-lihat banyaknya anak kecil yang bermain di taman itu.
“Mau main apa? Memangnya kamu gak main sama teman-teman
kamu?” aku menjawab sekenanya saja.
“Maunya main sama kakak aja,” ia menjawab dengan nada
yang tegas.
“Baiklah, ayo kita main.”
Hal tersebut terjadi nyaris tiap hari, atau
setidaknya tiap aku menyempatkan diri duduk-duduk di pinggir taman sambil
melepaskan penat perkuliahan. Vino selalu menghampiriku tiap aku datang. Dan
terkesan, ia memang menungguku datang.
Dengan senyumnya yang tak terlalu manis itu, ia selalu menghampiriku dan
mengajakku bermain dengannya. Ya, sekadar bermain kejar-kejaran layaknya anak
kecil seusianya, atau bermain balap-balapan dengan mobil-mobilan kesukaannya. Dan
ternyata aku pun menikmatinya. Bermain dengan si kecil Vino, yang lebih sering
terlihat murung itu.
Jujur saja, awal aku menerima tawarannya untuk
bermain hanyalah untuk melepas penatku saja. Namun lama kelamaan, ternyata Vino
telah berhasil meningkatkan itu. Ya, seringnya aku duduk-duduk di taman yang
hanya sekadar melepas penat, kini terasa ‘butuh’ dengan suasana ketika kami
bermain bersama. Lebih dari itu, ternyata aku menjadi begitu peduli pada Vino.
Seperti seorang ibu yang menghampiriku sore itu dan berkata, “Mas, terima kasih
ya sudah mau mengajak Vino bermain akhir-akhir ini. Sebenarnya ia anak yang
pintar di kelas, tapi ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian ketika di
luar kelas. Dan sejak mas mau diajaknya bermain, kini Vino sangat sering
tersenyum ketika sedang bermain dengan teman-temannya,” jelas ibu yang ternyata
adalah guru kelas sekaligus wali kelas Vino di sekolah.
Suatu sore, Vino datang kepadaku bukan untuk meminta
bermain bersama. Ia justru bercerita.
V : “Kak, Vino kemarin dimarahi sama Ryan dan Adi, gara-gara Vino mainin mobil-mobilan mereka.”
A : “Memang kenapa kamu memainkan mobil-mobilan
mereka? ‘kan kamu sudah punya
mobil-mobilan kesayangan kamu yang jago ngebut
itu.”
V : “Iya, habis aku mau aja mainin mobil-mobilan mereka aja. Sebatas itu kok, lagian aku kan tidak merusaknya. Hanya sekadar bermain saja.”
A : “Vino, kamu kan sudah punya mobil-mobilan
sendiri, jadi mainkan saja mobil-mobilanmu. Jangan malah kamu mainkan mobil-mobilan Ryan atau Adi. Gak baik lho.. Coba kalau mobil-mobilan
Vino yang dimainkan sama teman-teman
Vino padahal Vino gak suka, gimana coba?”
V : “Hehehe.. iya ya kak. Ya sudah, aku gak mau mainin mobil-mobilan orang lagi ah..”
Senyumnya kembali menutup perbincangan singkatku
dengan Vino sore itu. Dan kembali kami bermain bersama. Sebuah perbincangan
yang cukup menarik perhatianku. Ternyata dalam kesendiriannya, ia mempunyai
keinginan terpendam, sekadar ingin bermain dengan mainan orang yang padahal ia
pun sudah memiliki mainan semacam itu.
Sejak saat itu, perhatianku benar-benar tersita
olehnya. Beberapa kali ia mencariku hingga ke rumah untuk sekadar mengajak
bermain bersama. Tentu aku tak bisa menolaknya, karena aku memang melihat
perubahan besar di raut wajahnya ketika sedang bermain denganku, seperti yang
dikatakan ibu wali kelasnya itu. Untungnya rumahku tak jauh dari taman itu
sehingga ia dapat dengan mudah mencari rumahku dengan bertanya pada warga
sekitar.
Selama beberapa tahun, karena waktu kuliahku yang
sedang begitu padat, aku pun membuat ‘perjanjian
kecil’ bersama Vino tentang aku yang tak bisa lagi bermain dengannya setiap
hari. Dan rupanya, ia mengerti hal itu, dan menjawabnya dengan senyuman itu.
Senyuman yang selalu membuatku tenang melihatnya. Terkadang terharu bila
mengingat masa-masa awalku melihatnya di taman ketika itu.
Vino pun tumbuh besar, kini sedang menjalani
bulan-bulan terakhirnya sebagai anak Taman Kanak-kanak (TK-pen.) selepas awal
perkenalanku dengannya yang masih di Playgroup.
Senyumnya kini tak lagi malu-malu merekah ketika bermain dengan kawan-kawan
sebayanya. Masa-masa murungnya perlahan sirna. Beberapa kali ia bercerita
tentang kawan-kawannya yang memamerkan mainan terupdate mereka kepadanya, tapi hal itu sudah tak lagi menarik
baginya sejak ia bertemu denganku sebagai teman bermainnya, meskipun dengan
mainan yang itu-itu saja. Dan aku tetap teguh pada perjanjian kami, selalu
bermain bersama.
Kini Vino telah masuk SD. Satu jenjang lebih tinggi
dari TK tentunya. Bertemu banyak kawan baru dengan suasana baru pula. Sering
dengan polosnya ia mengeluhkan tentang berkurangnya waktu bermain dia dengan
mainan-mainan kesukaannya. Atau sekadar datang ke taman dan mengajakku bermain
seperti biasa. Karena masa awal di SD cukup membuatnya kelelahan dan tertidur
sehingga tak sempat menemuiku di taman.
Beberapa kali Vino tak datang, akhirnya kucoba
mendatangi sekolahnya. Tidak terlalu berlebihan memang, karena guru-guru di
sekolahnya kini mengetahui aku adalah kakak teman bermainnya selama ini. Dan
memang benar, kini Vino sudah cukup sibuk dengan pelajaran membaca, menulis,
serta berhitung di sekolahnya. Salah seorang guru bercerita kepadaku, bahwa
Vino kini mewakili sekolahnya dalam mengikuti perlombaan CALISTUNG di tingkat
kota. Betapa bangganya aku.. Tapi sepertinya itu sedikit mengubah semua perjanjian
kecil kami. Karena tak pernah lagi ia sempat untuk pergi ke taman, dan bermain
bersamaku.
Sekali waktu aku coba datang lagi ke sekolah Vino
untuk sekadar melihat perkembangannya. Dan beberapa kali kulihat ia sedang
sibuk dengan kawan-kawannya di ruangan guru, mungkin belajar bersama untuk
menghadapi lomba. Hingga seorang bapak menepuk punggungku di siang itu..
“Nak, kamu kakaknya Vino ya?” tanya Pak Supendi, yang
sepertinya adalah kepala sekolah di sana.
“Maaf, bukan pak. Saya hanya tetangganya yang kebetulan
sering bermain bersama Vino di taman dekat Playgroup
itu.”
“Ohhh, jadi kamu ya yang sering diceritakan para wali
murid itu.” terang Pak Kepsek padaku yang kemudian dilanjutkan, “Nak, sekarang
Vino sudah tak seperti dulu lagi. Ia tak pernah terlihat murung lagi. Prestasi
di sekolahnya pun baik, bahkan ia menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan
CALISTUNG.”
“Jadi begitu ya pak, baiklah. Saya pulang dulu ya
pak.” antara sedih dan senang akan perubahan Vino, aku pun pamit pulang pada
Pak Kepsek itu. Dan sebelum aku pulang, seorang ibu yang ternyata adalah wali
kelas Vino ketika di Playgroup dan
juga seorang wali murid salah satu teman Vino di SD berkata demikian,
“Nak, kamu sudah menemani Vino selama ini. Saya
sebagai mantan wali kelasnya di Playgroup
sangat senang melihat perubahan Vino. Dia sudah makin pintar sekarang, dan
sudah tak pernah lagi terlihat murung saat di kelas ataupun di waktu
istirahat.”
Mendengar perkataan ibu itu, aku hanya tersenyum dan
mengucapkan terima kasih atas wejangannya. Aku pun pulang ke rumah, dan
melanjutkan aktivitasku di kampus seperti biasanya, dan kini tak perlu lagi
meluangkan waktu untuk bermain dengan Vino di taman seperti dulu.
Sebuah kabar terakhir yang ku dengar dari cerita
orang-orang, kini Vino sedang belajar memperbaiki sebuah mainan yang rusak.
Sebuah mobil-mobilan yang kondisinya tak sebaik mobil-mobilan kesayangannya
dahulu. Sebuah pekerjaan bermain yang ia sukai kini, memperbaiki kerusakan
mainan agar dapat dipakai untuk bermain. Tak hanya mengajak orang lain untuk
bermain bersama, tapi juga memperbaiki mainan kawannya agar kawannya dapat
bermain lagi.
Bersama teman-teman barunya di SD, ia kini sering
terlihat bermain di halaman sekolah dan tak pernah lagi terlihat murung
sendirian. Tak pernah pula aku melihatnya bermain di taman itu lagi. Dan entah,
apa ia masih ingat denganku atau tidak.
***
Ketika menceritakan cerita ini, mata kawanku sempat
berlinang. Satu perkataan yang menggambarkan perasaannya ketika ia bercerita
hanyalah ini.
“Aku datang untuk menemaninya bermain agar tak murung
lagi.
Sekarang ia sudah menemukan bentuk permainannya yang
baru.
Dan aku dapat tersenyum bahagia tiap kulihat ia
bermain dengan kawan serta mainannya yang baru itu.
Setidaknya, tak ada lagi mainan kawannya yang ia
mainkan dan menimbulkan kemarahan kawannya.
Bermain dengannya memang selalu membahagiakan, tapi
lebih bahagia bagiku melihatnya tersenyum tanpa perlu ada kehadiranku.”
Tulisan kali ini
kudedikasikan untuk seorang kawan,
Kawan yang
selalu ingin memberi manfaat kepada orang lain,
Dan selalu ingin
menghadirkan senyum kebahagiaan bagi orang lain,
Diceritakan
kembali oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09


