Selasa, 31 Januari 2012

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN


Mari bercerita kawan...

Apakah yang ada dalam benak kawan, ketika kawan melihat seorang anak kecil nan pintar lagi cerdas, namun sangat sering terlihat murung di tengah bergelimangnya mainan yang selalu ia mainkan?
Mungkin sedikit cerita ini bisa memberi jawaban...

* * *
Senyumnya tak pernah semanis kawan-kawan seusianya. Bahkan bisa kukatakan, senyumnya biasa saja. Tak ada yang menarik perhatianku sama sekali.
Beberapa kali aku melihatnya bermain di taman dekat Taman Bermain (Playgroup) ‘Nur Cahya’ dekat sekolahku. Di antara anak-anak seusianya, mungkin hanya Vino (nama anak kecil itu-pen.) yang tak terlalu kuperhatikan. Vino lebih sering terlihat bermain sendiri dengan mainannya sendiri dibanding bergabung dengan kawannya yang lain. Hingga suatu hari ia menghampiriku dan mengajak bermain.
“Ayo, kak main sama aku!” senyuman itu pertama kali kulihat dari si kecil Vino ketika ia menyambangiku yang tengah duduk di pinggir taman sambil melihat-lihat banyaknya anak kecil yang bermain di taman itu.
“Mau main apa? Memangnya kamu gak main sama teman-teman kamu?” aku menjawab sekenanya saja.
“Maunya main sama kakak aja,” ia menjawab dengan nada yang tegas.
“Baiklah, ayo kita main.”
Hal tersebut terjadi nyaris tiap hari, atau setidaknya tiap aku menyempatkan diri duduk-duduk di pinggir taman sambil melepaskan penat perkuliahan. Vino selalu menghampiriku tiap aku datang. Dan terkesan, ia memang menungguku datang.  Dengan senyumnya yang tak terlalu manis itu, ia selalu menghampiriku dan mengajakku bermain dengannya. Ya, sekadar bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil seusianya, atau bermain balap-balapan dengan mobil-mobilan kesukaannya. Dan ternyata aku pun menikmatinya. Bermain dengan si kecil Vino, yang lebih sering terlihat murung itu.
Jujur saja, awal aku menerima tawarannya untuk bermain hanyalah untuk melepas penatku saja. Namun lama kelamaan, ternyata Vino telah berhasil meningkatkan itu. Ya, seringnya aku duduk-duduk di taman yang hanya sekadar melepas penat, kini terasa ‘butuh’ dengan suasana ketika kami bermain bersama. Lebih dari itu, ternyata aku menjadi begitu peduli pada Vino. Seperti seorang ibu yang menghampiriku sore itu dan berkata, “Mas, terima kasih ya sudah mau mengajak Vino bermain akhir-akhir ini. Sebenarnya ia anak yang pintar di kelas, tapi ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian ketika di luar kelas. Dan sejak mas mau diajaknya bermain, kini Vino sangat sering tersenyum ketika sedang bermain dengan teman-temannya,” jelas ibu yang ternyata adalah guru kelas sekaligus wali kelas Vino di sekolah.
Suatu sore, Vino datang kepadaku bukan untuk meminta bermain bersama. Ia justru bercerita.
V : “Kak, Vino kemarin dimarahi sama Ryan dan Adi, gara-gara Vino mainin mobil-mobilan mereka.”
A : “Memang kenapa kamu memainkan mobil-mobilan mereka? ‘kan kamu sudah punya mobil-mobilan kesayangan kamu yang jago ngebut itu.”
V : “Iya, habis aku mau aja mainin mobil-mobilan mereka aja. Sebatas itu kok, lagian aku kan tidak merusaknya. Hanya sekadar bermain saja.”
A : “Vino, kamu kan sudah punya mobil-mobilan sendiri, jadi mainkan saja mobil-mobilanmu. Jangan malah kamu mainkan mobil-mobilan Ryan atau Adi. Gak baik lho.. Coba kalau mobil-mobilan Vino yang dimainkan sama teman-teman Vino padahal Vino gak suka, gimana coba?”
V : “Hehehe.. iya ya kak. Ya sudah, aku gak mau mainin mobil-mobilan orang lagi ah..”
Senyumnya kembali menutup perbincangan singkatku dengan Vino sore itu. Dan kembali kami bermain bersama. Sebuah perbincangan yang cukup menarik perhatianku. Ternyata dalam kesendiriannya, ia mempunyai keinginan terpendam, sekadar ingin bermain dengan mainan orang yang padahal ia pun sudah memiliki mainan semacam itu.
Sejak saat itu, perhatianku benar-benar tersita olehnya. Beberapa kali ia mencariku hingga ke rumah untuk sekadar mengajak bermain bersama. Tentu aku tak bisa menolaknya, karena aku memang melihat perubahan besar di raut wajahnya ketika sedang bermain denganku, seperti yang dikatakan ibu wali kelasnya itu. Untungnya rumahku tak jauh dari taman itu sehingga ia dapat dengan mudah mencari rumahku dengan bertanya pada warga sekitar.
Selama beberapa tahun, karena waktu kuliahku yang sedang begitu padat, aku pun membuat ‘perjanjian kecil’ bersama Vino tentang aku yang tak bisa lagi bermain dengannya setiap hari. Dan rupanya, ia mengerti hal itu, dan menjawabnya dengan senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatku tenang melihatnya. Terkadang terharu bila mengingat masa-masa awalku melihatnya di taman ketika itu.
Vino pun tumbuh besar, kini sedang menjalani bulan-bulan terakhirnya sebagai anak Taman Kanak-kanak (TK-pen.) selepas awal perkenalanku dengannya yang masih di Playgroup. Senyumnya kini tak lagi malu-malu merekah ketika bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Masa-masa murungnya perlahan sirna. Beberapa kali ia bercerita tentang kawan-kawannya yang memamerkan mainan terupdate mereka kepadanya, tapi hal itu sudah tak lagi menarik baginya sejak ia bertemu denganku sebagai teman bermainnya, meskipun dengan mainan yang itu-itu saja. Dan aku tetap teguh pada perjanjian kami, selalu bermain bersama.
Kini Vino telah masuk SD. Satu jenjang lebih tinggi dari TK tentunya. Bertemu banyak kawan baru dengan suasana baru pula. Sering dengan polosnya ia mengeluhkan tentang berkurangnya waktu bermain dia dengan mainan-mainan kesukaannya. Atau sekadar datang ke taman dan mengajakku bermain seperti biasa. Karena masa awal di SD cukup membuatnya kelelahan dan tertidur sehingga tak sempat menemuiku di taman.
Beberapa kali Vino tak datang, akhirnya kucoba mendatangi sekolahnya. Tidak terlalu berlebihan memang, karena guru-guru di sekolahnya kini mengetahui aku adalah kakak teman bermainnya selama ini. Dan memang benar, kini Vino sudah cukup sibuk dengan pelajaran membaca, menulis, serta berhitung di sekolahnya. Salah seorang guru bercerita kepadaku, bahwa Vino kini mewakili sekolahnya dalam mengikuti perlombaan CALISTUNG di tingkat kota. Betapa bangganya aku.. Tapi sepertinya itu sedikit mengubah semua perjanjian kecil kami. Karena tak pernah lagi ia sempat untuk pergi ke taman, dan bermain bersamaku.
Sekali waktu aku coba datang lagi ke sekolah Vino untuk sekadar melihat perkembangannya. Dan beberapa kali kulihat ia sedang sibuk dengan kawan-kawannya di ruangan guru, mungkin belajar bersama untuk menghadapi lomba. Hingga seorang bapak menepuk punggungku di siang itu..
“Nak, kamu kakaknya Vino ya?” tanya Pak Supendi, yang sepertinya adalah kepala sekolah di sana.
“Maaf, bukan pak. Saya hanya tetangganya yang kebetulan sering bermain bersama Vino di taman dekat Playgroup itu.”
“Ohhh, jadi kamu ya yang sering diceritakan para wali murid itu.” terang Pak Kepsek padaku yang kemudian dilanjutkan, “Nak, sekarang Vino sudah tak seperti dulu lagi. Ia tak pernah terlihat murung lagi. Prestasi di sekolahnya pun baik, bahkan ia menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan CALISTUNG.”
“Jadi begitu ya pak, baiklah. Saya pulang dulu ya pak.” antara sedih dan senang akan perubahan Vino, aku pun pamit pulang pada Pak Kepsek itu. Dan sebelum aku pulang, seorang ibu yang ternyata adalah wali kelas Vino ketika di Playgroup dan juga seorang wali murid salah satu teman Vino di SD berkata demikian,
“Nak, kamu sudah menemani Vino selama ini. Saya sebagai mantan wali kelasnya di Playgroup sangat senang melihat perubahan Vino. Dia sudah makin pintar sekarang, dan sudah tak pernah lagi terlihat murung saat di kelas ataupun di waktu istirahat.”
Mendengar perkataan ibu itu, aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas wejangannya. Aku pun pulang ke rumah, dan melanjutkan aktivitasku di kampus seperti biasanya, dan kini tak perlu lagi meluangkan waktu untuk bermain dengan Vino di taman seperti dulu.
Sebuah kabar terakhir yang ku dengar dari cerita orang-orang, kini Vino sedang belajar memperbaiki sebuah mainan yang rusak. Sebuah mobil-mobilan yang kondisinya tak sebaik mobil-mobilan kesayangannya dahulu. Sebuah pekerjaan bermain yang ia sukai kini, memperbaiki kerusakan mainan agar dapat dipakai untuk bermain. Tak hanya mengajak orang lain untuk bermain bersama, tapi juga memperbaiki mainan kawannya agar kawannya dapat bermain lagi.
Bersama teman-teman barunya di SD, ia kini sering terlihat bermain di halaman sekolah dan tak pernah lagi terlihat murung sendirian. Tak pernah pula aku melihatnya bermain di taman itu lagi. Dan entah, apa ia masih ingat denganku atau tidak.

***
Ketika menceritakan cerita ini, mata kawanku sempat berlinang. Satu perkataan yang menggambarkan perasaannya ketika ia bercerita hanyalah ini.
“Aku datang untuk menemaninya bermain agar tak murung lagi.
Sekarang ia sudah menemukan bentuk permainannya yang baru.
Dan aku dapat tersenyum bahagia tiap kulihat ia bermain dengan kawan serta mainannya yang baru itu.
Setidaknya, tak ada lagi mainan kawannya yang ia mainkan dan menimbulkan kemarahan kawannya.
Bermain dengannya memang selalu membahagiakan, tapi lebih bahagia bagiku melihatnya tersenyum tanpa perlu ada kehadiranku.”


Tulisan kali ini kudedikasikan untuk seorang kawan,
Kawan yang selalu ingin memberi manfaat kepada orang lain,
Dan selalu ingin menghadirkan senyum kebahagiaan bagi orang lain,

Diceritakan kembali oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Selasa, 24 Januari 2012

Kata Di Balik Nada


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Dia tak pernah tahu...
Oh Bunga, tolong beri tahu aku apa yang mengganggumu
Karena aku tak mau melihatmu seperti ini
..
Tak pernah kubayangkan
Tempati sisi hatimu yang kosong
Jadi yang paling bahagia
Dapati cinta itu
Perlahan duka pun pergi
Jauh tenggelam tinggalkan gundah
Bertahun ku coba sendiri
Berteman caci maki

Takkan kulepas lagi
Kehadiranmu oh anugerah

Sepanjang usia
Kita trus bersama
Mengarungi hidup dengan cinta
Turut kehendak-Nya
Sepanjang usia
Ku tak mau terpisah
Memberikan hatiku seutuhnya
Hanya kepada dirimu
...
Jalanku trus berjalan
...
Bila kau rindukan aku putri
Coba kau pandangi langit malam ini
Bila itu tak cukup mengganti
Cobalah kau hirup udara pagi
Aku di situ

Mungkin dengan perpisahan
Kita ‘kan mengerti arti pertemuan
Putri percaya padaku
Ini hanya likuan hidup
Dan pasti berakhir
...
Ku menatap langit yang tenang
Dan takkan menangisi malam
Tuk tetap berdiri ku melawan hari
Ku akan berarti, ku takkan mati

Mungkin masaku tlah berlalu
Mungkin hatiku tak berbentuk lagi
Rasa ini takkan terobati
Tetapi mati takkan mengobati
Ku menatap langit
...
Sebait nada-nadaku Bercak cinta tulus suciku
Kupersembahkan hanya untukmu
Selamat ulang tahun 
Dandani hadirnya masa remaja 
Semoga panjang umur 
Beri arti jejak langkah mudamu
...
Tak ada yang akan bisa melunturkan niatku
Tuk bertemu memeluk dan memanggil
Meski surya membenamkan tubuhku di lautan
Ku tunggu sampai samudera mengering
Ku tunggu sampai samudera...

Kamis, 19 Januari 2012

MAHASISWA BUKAN (LAGI) GENERASI PENERUS!




Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Ada kesalahan mendasar yang selalu diulang-ulang oleh para generasi muda dalam proses perekrutan anggota baru mereka. Niat awal untuk regenerasi pengurus demi kelanjutannya kehidupan suatu organisasi kemahasiswaan justru diawali dengan kesalahan mendasar. Namun hal ini seringkali dikatakan sebagai hal sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Semoga tulisan ini bisa mencerahkan, bukan justru membingungkan, apalagi menimbulkan hujatan. Hehe..

Sebagai mahasiswa tentu saya juga pernah mengalami masa-masa orientasi awal kampus dengan berbagai macam nama yang berbeda-beda, namun intinya sama, yaitu pengenalan kehidupan kampus beserta berbagai macam organisasi di dalamnya. Dan bagi saya ini adalah hal yang menarik, karena inilah cita-cita UUD 1945 untuk mewujudkan kebebasan berpendapat bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya mahasiswa sebagai generasi muda yang akan melanjutkan cita-cita bangsa. Dan di beberapa kampus yang pernah saya datangi atau sekadar lewat saja, selalu ada spanduk besar yang dengan bangganya mengucapkan selamat datang kepada generasi penerus bangsa. Ups, Generasi Penerus? Apa yang diteruskan?

Baik, kita mulai membahas hal ini.

Sadarkah kita apa arti dari ‘Generasi Penerus’ itu? Jika kita telusuri dari segi bahasa, Generasi dapat diartikan sebagai kaum yang hidup di masa/waktu yang sama, dan Penerus adalah berasal dari kata ‘Terus’ yang dapat diartikan sebagai yang melanjutkan. Dari hal ini dapat saya simpulkan bahwa Mahasiswa sebagai Generasi Penerus adalah kaum muda yang disiapkan untuk melanjutkan yang sudah ada, entah itu aturan-aturan yang ada, ataupun birokrasi yang sudah ada. Kata ‘melanjutkan’ di sini berarti juga adanya kelemahan untuk bisa melawan aturan-aturan dan birokrasi yang ada tersebut. Kasarnya, mahasiswa hanya disiapkan untuk menjalankan yang sudah ada saja. Padahal seharusnya, dengan idealisme mahasiswa, kita semua harus bisa memperbaiki yang sudah ada, bukan cuma melanjutkannya saja.

Sebagai generasi muda, pastilah ada ketidakpuasan dalam diri kita terhadap lingkungan yang menurut kita terlalu banyak kesalahan dan harus segera diperbaiki. Nah dengan itulah kita sebagai mahasiswa tidak bisa dikatakan sebagai generasi penerus. Untuk apa kita berkoar-koar dalam berbagai media bahwa ada kesalahan di sana sini dari para penguasa, toh kita juga nantinya cuma melanjutkan saja?
Kita pun tidak bisa dengan begitu mudahnya mengatakan bahwa kita adalah generasi muda, yang tentu memiliki inovasi-inovasi  yang lebih baik untuk lingkungan kita, dan karena alasan tersebut kita menjadi pihak yang selalu menyalahkan kaum tua yang sudah lebih dulu hidup dan menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam pemerintahan ataupun lingkungan kita. Bukankah para kaum tua itu juga pernah muda?

Secara dewasa, kita pun harus mengakui bahwa kaum tua pasti memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih banyak daripada kita, generasi muda. Tentu mereka pun telah menerapkan idealisme mereka demi terpenuhinya hasrat mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di bidang yang mereka geluti. Namun, mereka juga manusia yang pernah berbuat salah, lantas apa kita akan melanjutkan kesalahan mereka dengan cap kita sebagai ‘Generasi Penerus’? Tentu tidak, kawan!

Untuk itulah, apakah kita mau selalu di-cap sebagai Generasi Penerus?

Panggilan untuk mahasiswa sebagai generasi penerus mungkin sudah lama digunakan oleh berbagai kaum mahasiswa. Mungkin sengaja dibuat demikian untuk melemahkan posisi mahasiswa. Atau bahkan, memang sudah dicita-citakan bahwa mahasiswa hanya berhak untuk melanjutkan yang sudah ada saja. Melanjutkan kebobrokan organisasi, melanjutkan nilai negatif pemerintah di mata rakyat, hingga melanjutkan tren korupsi yang tak hanya melibatkan aparat pemerintah namun juga swasta.

Kawan, saya katakan di sini bahwa mahasiswa punya berbagai potensi besar untuk memperbaiki segala aspek kehidupan. Dengan semakin membaiknya fasilitas yang menunjang proses perkuliahan kita, seharusnya kita tidak hanya sekadar generasi penerus, tapi juga generasi pelurus.

Generasi Pelurus yang tidak asal bicara tentang pemerintahan tanpa mengetahui sebab-akibat bobroknya birokrasi. Generasi Pelurus yang tak hanya bisa menyalahkan kaum tua. Generasi Pelurus yang mampu meluruskan kekeliruan yang ada.
Sudah saatnya kita mengubah perkataan yang salah tentang mahasiswa.

Sambutlah adik-adik kita sebagai Generasi Pelurus kesalahan-kesalahan kita dalam organisasi!

Tanamkan dalam hati, bahwa kita adalah Generasi Pelurus! Bukan hanya Generasi Penerus!

Di tangan para pemuda lah semua kekeliruan itu akan diluruskan!


Senin, 09 Januari 2012

KEMAHALAN SEBUAH KESEDERHANAAN




















Hai kawan!
Lama juga ya saya tak berbagi di blog ini. Maklum lah, kemarin-kemarin ini saya sedang menikmati liburan akhir tahun. Hehehe..
Baik, hari ini saya mencoba untuk menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang cukup dekat dengan saya di masa lalu. Sebut saja namanya Yakis.

Yakis tumbuh dalam sebuah lingkungan yang biasa-biasa saja, tak begitu berlimpah harta, serta sangat memiliki pemikiran sederhana dalam menyikapi berbagai hal dalam hidupnya. Ayahnya hanyalah seorang buruh pabrik yang harus kerja siang dan malam dan terkadang harus mengisi senggang waktu kerjanya dengan bekerja sebagai tukang ojek. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki usaha sampingan untuk membantu suaminya dalam menambah nafkah untuk membiayai keperluan 3 jagoan ciliknya. Yakis adalah anak kedua dari tiga bersaudara laki-laki itu. Satu catatanku tentang keluarga kecil mereka adalah, tak pernah sekalipun mereka meminjam uang kepada sanak keluarga, Bank, apalagi rentenir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejauh yang ku tahu, tak pernah sekali pun Yakis serta dua saudaranya yang lain menunggak pembayaran SPP di sekolah kami. Dan mereka bertiga pun tumbuh sehat, tak terlalu gemuk layaknya para anak-anak orang kaya, namun juga tak pernah kudengar salah satu dari mereka sakit hingga dirawat di rumah sakit. Salut bagiku untuk mereka.
Beranjak dari usia Balita, Yakis tumbuh menjadi seorang anak yang pintar. Setahuku, ia sudah mahir membaca sejak usia 3 tahun dan sudah mampu membaca Al Quran sebelum masuk TK. Tak heran jika saat itu ayah Yakis sempat menjanjikan untuk langsung memasukkan Yakis ke SD tanpa melalui TK terlebih dahulu. Itu yang pernah ia ceritakan kepadaku.
Di tahun selanjutnya aku justru bingung, karena aku melihat Yakis masuk sekolah depan rumahku, sebuah Taman Kanak-Kanak. Lalu mana janji ayah Yakis setahun yang lalu? Yakis hanya menjawab ini kepadaku saat itu,
“Abang baru masuk SD tahun lalu. Kalau tahun ini aku masuk SD juga, nanti biayanya jadi dobel dong. Hehehe...”
Saat Yakis mengatakan hal itu usiaku masih 4 tahun, tapi entah mengapa masih terekam jelas hingga sekarang.
Salutku selanjutnya adalah, sebenarnya ketika Yakis masuk TK, saat itu usianya sudah 1 tahun lebih tua dari teman-teman sebayanya. Tapi Yakis tidak pernah mengeluh, itu setahuku.
Yakis masuk SD tahun ini. Ketika itu aku bahkan baru masuk TK nol kecil.
Dua tahun kemudian aku masuk SD yang sama dengan Yakis. Lama tak bermain bersama membuatku penasaran lalu kemudian menghampirinya di lapangan voli sekolah.
A: “Lagi ngapain, Yak? Gak jajan?”
Y: “Gak de, kamu gak jajan? Wah.. uang lima ribuan kamu jatuh tuh. Ntar abang ambil lho. Hehehe..”
Setelah intermezzo siang itu, aku makin penasaran karena tak pernah melihat Yakis jajan di setiap jam istirahat. Akhirnya aku coba iseng bertanya kepada temanku yang memliki kakak sekelas dengan Yakis. Yang aku tahu dari temanku itu, Yakis hanya membawa uang dua ribu rupiah untuk jajan sehari-harinya di sekolah. Kali ini bukan salut yang kudapat, tapi kaget bercampur bingung. Bagaimana mungkin anak kelas tiga seperti yakis hanya membawa uang saku dua ribu rupiah sedangkan aku yang anak kelas satu sudah membawa uang lima ribu rupiah? Hufh.. Yakis ini memang selalu membuatku bingung.
Lewat satu hari dari itu aku coba bertanya ke Yakis secara langsung.
A: “Lo gak jajan Yak? Gak ada duit ya? Nih pake duit gw aja. Haha..”
Y: “Gak de. Duit saya buat di rumah aja. Kan tadi pagi udah dibikinin sarapan sama ibu. Jadi gak perlu jajan lagi.”
Dengan senyum khasnya itu Yakis menjelaskan hal yang menurutku masih cukup tabu. Ketika aku saja sudah sedemikian boros dengan uang lima ribuanku, ia malah masih bisa menyimpan uang dua ribuannya itu. Salut buatmu Yak...

Masuk masa SMP, aku kembali kehilangan kontak dengannya, mungkin karena jarak SMP itu cukup jauh dari rumah kami. Hanya sesekali kulihat ia mengendarai sepeda untuk berangkat sekolah. Sempat juga aku melihat ia menitipkan sepedanya di dekat pangkalan angkot menuju sekolahnya.
Karena cukup penasaran, aku yang ternyata berhasil masuk ke SMP yang sama dengan Yakis mencoba curi-curi waktu untuk mengobrol lagi dengannya. Tidak cukup sulit menemukan Yakis di sekolah ini, karena memang ia salah satu pengurus OSIS di sini.
Kami pun bertemu, dan berbincang cukup lama. Singkatnya aku menanyakan kenapa ia menitipkan sepedanya, padahal kalau mau hemat sekalian ‘kan bisa aja sepeda itu dipakainya sampai sekolah. Dan Cuma ini jawabannya..
“Gak boleh sama bapak. Daripada nanti jadi sakit karena kecapekan. Lagipula masih terjangkau kok untuk ukuran saya. Angkot lima ratus rupiah sekali jalan, bolak balik jadi Cuma seribu. Penitipan sepeda juga cuma lima ratus. Hitung-hitung membantu pemilik penitipan sepeda itu juga lah. Hehehe..”
Aku mencoba berhitung, ternyata dalam sehari ia menghabiskan uangnya hanya seribu lima ratus rupiah saja. Lalu aku berpikir, dengan statusnya yang sudah menjadi anak SMP pastilah uang sakunya sudah tidak dua ribu rupiah lagi. Mungkin sepuluh ribu sepertiku. Hanya bedanya, aku diantar-jemput dengan mobil jemputan sekolah, jadi tak ada ongkos yang kukeluarkan selain untuk jajan.
Tapi lagi-lagi aku salah. Pagi itu ketika mobil jemputanku melewati rumah Yakis, secara tidak sengaja aku melihat ibunya Yakis memberikan uang empat ribu rupiah sebelum Yakis mengeluarkan sepedanya. Cuma empat ribu rupiah? Berarti dikurangi ongkos seribu lima ratus rupiah, sisanya Cuma dua ribu lima ratus rupiah? Ya Tuhan.... itu seperempat uang jajanku bahkan. Sejahat itukah orang tuanya pada Yakis?

Memasuki usia SMA, rasa salutku padanya mulai memudar, menjadi sebuah keanehan. Ada apa dengan Yakis. Hal ini membuatku makin penasaran. Beruntung bagiku bisa masuk ke SMA favorit tempat Yakis bersekolah ini.
Di sekolah ini Yakis tak begitu ‘terlihat’ layaknya waktu SMP dulu. Mungkin dia agak menarik diri dari kehidupan yang cukup borju ini.
Yakis sekarang bersekolah dengan mengendarai motor. Sepengetahuanku alasannya karena motor ini adalah hadiah untuknya dari ayahnya karena ia berhasil masuk ke sekolah favorit ini. Hmm... kupikir mungkin dia sekarang sudah tak terlalu ‘mengikat ikat pinggang terlalu kencang’. Hehehe...
Dengan pergaulanku yang cukup luas ketika di SMA, aku pun kenal dengan teman-teman Yakis. Pernah aku iseng mengobrol dan mendapatkan sebuah perkataan yang lagi-lagi membuatku tercengang. Seorang teman dalam candanya bilang..
“Yakis kan gila, masa seminggu cuma megang duit lima puluh ribu. Buat bensin aja udah abis sepuluh ribu. Makanya jarang jajan kan dia. Hahaha...”
Setahuku si kawan ini memang cukup dekat dengan Yakis, jadi dengan memberanikan diri kucoba bertanya lebih lanjut akan hal ini. Jawabnya kali ini cukup serius..
“Setahu gw sih dia Cuma bawa uang segitu seminggu. Pagi sarapan di rumah sih katanya. Kalo siang ya seadanya aja yang dia ada duitnya.”
Tak lama pun ia melanjutkan perkataannya,
“Iya tuh, waktu presentasi ekonomi di kelas, dia ambil bahan tentang Pola Hidup Hemat. Ampe ngerinci gitu pengeluaran-pengeluaran yang layak buat anak SMA segini, trus juga jangan lupa nabung segini, ya gitu lah kurang lebih.”
Hmmmm... ternyata yang selama ini aku salutkan benar. Ia tidak menyiksa dirinya sendiri dengan terbatasnya uang jajan. Malah justru belajar untuk menabung. Dan jangan lupa, untuk menghargai masakan ibunya di rumah. Nice Yak...

Enam bulan yang lalu aku bertemu dengan Yakis di sebuah masjid daerah Jakarta Timur. Kami berbincang cukup lama. Dengan usianya yang dua tahun di atasku, sekarang ia sudah menjadi seorang sarjana ekonomi dari sebuah perguruan tinggi populer di Jakarta. Banyak hal yang kucatat dari pertemuan itu, karena aku memang sengaja menceritakan semua kebingunganku yang sudah kujelaskan sejak tadi padanya. Kira-kira ini catatan yang bisa kurangkum.
“Sejak kecil saya gak dimanja dengan uang, tapi dengan kasih sayang dan perhatian. Jadi dengan uang jajan SD yang Cuma 2.000 saya masih bisa menabung, kan paginya empat sarapan di rumah, siangnya pun makan siang di rumah. Kalo haus ya saya juga bawa minuman tuh, apalagi kalo pas lagi ada mata pelajaran olahraga, saya bisa ampe bawa dua botol air putih hehehe...”
“Hmm masa-masa SMP sebenernya saya pengen banget bawa sepeda sampe sekolah, tapi bapak ngelarang karena takutnya saya kecapekan dan memang jalan menuju sekolah cukup ramai dan berbahaya. Yaa biarpun saya sibuk di OSIS, masih sempetlah buat sarapan sepagi mungkin di rumah, dan bawa sedikit bekal untuk makan siang. Uang saku ditabung buat jaga-jaga kalo anak OSIS lagi ngajak maen aja, kan ga enak mereka makan, masa saya nggak. Hahaha...”
“Ya, di SMA saya emang lebih aktif ketika kelas satu saja, sempat masuk OSIS juga, tapi begitu masuk kelas dua saya menarik diri karena mendengar saya akan dicalonkan jadi ketos (ketua OSIS), tapi saya rasa bukan saatnya untuk berpolitik di sini. Siapa bilang uang lima puluh ribu itu kurang? Dari empat puluh ribu setelah dikurangi bensin itu masih bisa saya tabung kok, malah enaknya ketika di sekolah lagi sangat lapar, begitu pulang jadi makin kangen masakan ibu. Hehehe...”
“Selama saya kuliah juga masih begitu kok. Uang bulanan saya selama di kost sangat jauh dari teman-teman yang lain, tapi nyatanya saya masih bisa hidup dan selalu sempat menabung. Hehe.. bukan mau sombong lho. Lagipula ya, di Jakarta ini apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang? WC umum aja 1.000, dua kali dari harga aqua gelas kan. Haha... Ya Cuma prinsip hidup sederhana lah yang gak bisa dibeli dengan uang. Karena sederhana itu sangat menghargai uang dan memunculkan manfaat lain, seperti jadi selalu kangen dengan masakan ibu, dan lebih menghargai pekerjaan bapak tentunya. Karena sederhana sangat mahal untuk dikerjakan. Karena sederhana membutuhkan mental untuk mengerjakannya.”

Agak sulit diterima akal sehatku hingga sekarang memang, tapi itulah Yakis yang selama ini membuatku salut sembari aneh dengan kelakuannya. Bahasanya yang masih cukup baku itu tidak kurekayasa, karena itulah gaya bahasa Yakis.
Untuk menghangatkan suasana, iseng kutanya tentang pacar kepadanya, dan ini jawabnya..
“Pacar ya. Hmm.. kalo saya mau pacaran mungkin dari dulu sudah beberapa kali pacaran. Tapi saya selalu takut akan dua hal sih... saya takut saya mengecewakan wanita itu, dan saya masih belum cukup lihai untuk membuat wanita tidak bosan dengan hidup saya. Wkwkwkwkwwk....”

Hahaha, baru kali ini aku melihat Yakis tertawa begitu lepasnya. Dengan filosofinya yang begitu mendalam tentang wanita, dia mampu menahan diri untuk tidak pacaran, karena daripada wanita itu kecewa atau bosan dengan dirinya. Lebih memilih untuk menyempurnakan prbadinya sebelum keluar kata kecewa atau bosan dari lisan wanita yang disayanginya.

NICE YAKZ!!!


Cerita ini kudedikasikan untuk Yakis. Seseorang yang sangat menginspirasiku.
Yang tak lagi bisa kuajak berbincang. Yang kini telah tiada. 
 Semoga selalu tenang di sana.

(Oleh :Isnendi Yakub – STAN ‘09)