Rabu, 29 Februari 2012

KABISATKU, KALI INI..



 Oleh : Isnendi Yakub-STAN ‘09

Hari ini, tepat empat tahun yang lalu aku telah mengecewakan mereka
Janjiku hari itu, benar-benar tak mampu kubayar
Kepada mereka yang telah menantiku di sana...
Masihkah aku mampu menjelaskan ketidakmampuanku membayar janji itu?
Oh, sungguh.. apa mungkin aku masih diperkenankan?

Kabisatku kali ini..
Sungguh kuingin ini yang terakhir kulalui dengan seperti ini
Kepada jiwa di sana yang telah tersenyum lebar...
Tahukah kamu, aku di sini tiada henti-hentinya menikmati lebam?
Sadarkah kamu, atas apa yang kamu panjatkan kepada-Nya?

Kabisatku kali ini..
Peluhku telah memudar walau tak penuh
Kepada kalian yang sedang menikmati cita-cita...
Lelahkah kalian menghapus peluhku?
Relakah kalian menunggu untuk kuhadirkan senyumku?

Kabisatku kali ini..
Rasa penasaranku yang semoga tak menyampaikan aku pada sebuah derita
Kepada Engkau yang seringkali kuingkarkan...
Yang selalu merangkulku
Yang senantiasa menaungiku
Yang mengangkatku setelah mengingatkanku

Kabisatku kali ini..
Kembali kuulangi kebodohan itu
Kepada pria yang selalu berpegang pada perkataanmu...
Bagaimana mungkin engkau bisa berkata dengan pertimbangan sedalam itu?
Bisakah aku, menjadi manusia mulia sepertimu?

Kepada tawaku,
Kepada ceriaku,
Kepada inspirasiku,
Di sinilah aku memanggil kalian kembali
Di sini, di rumah ini..
Di hati ini...
Tempat kalian berlabuh untuk nafas awal dan akhirmu

Sabtu, 04 Februari 2012

MASA-MASA AWAL



Hey, Team!!!
Mungkin yang pertama layak kusampaikan adalah sesi perkenalan diriku. Aku adalah Isnendi, seorang biasa yang secara tidak sengaja masuk dalam lingkungan yang penuh dengan sebuah ketidakbiasaan, berada di lingkungan para calon Abdi Negara.
            Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, atau yang lebih famous dikenal dengan STAN. Banyak sekali orang tua dan para siswa/i SMA atau se-derajat yang menginginkan masuk ke tempat ini karena dianggap dapat memberikan kepastian masa depan seseorang. Ya! Siapa pun tahu, karena setiap apapun yang berakhiran dengan ‘Negara’ pastinya akan dijamin hidupnya, bahkan sampai lanjut usia pun tetap disediakan Tunjangan Pensiun meskipun sebenarnya tidak semua para pensiunan pernah mengabdi sedemikian besarnya pada negara. Dan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan Keuangan Negara selalu menyebutkan bahwasanya Belanja Pegawai adalah bersifat mengikat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
             Jujur saja, aku sebenarnya bukan orang yang secara penuh mendukung pemerintahan dalam kepemimpinan apa pun. Aku pernah dengar sebutan mengenai Pemerintahan Reformasi yang Demokratis yang katanya itu sangat berpihak pada rakyat dikarenakan suara rakyat dapat menentukan jalannya pembangunan negara. Tapi mana pembangunannya? Di sana-sini banyak korupsi, apalagi yang bersifat nepotisme, bukan hal aneh lagi dalam hidupku. Masuk TNI/POLRI harus ada ‘orang dalam’, mau jadi PNS harus dengan ‘uang pelicin’, dan mungkin masih banyak lagi hal lain yang tak tersebut dalam tulisanku ini.
            Namun setitik asa sempat tumbuh dalam bathin kenegaraanku. Aku dinyatakan lulus dalam Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (USM STAN) yang memang menjadi mimpi semua pelajar SMA (setidaknya seperti itulah di Sekolahku dulu). Aku lahir dan hidup dalam ‘Keluarga Swasta’. Aku menyebutkan demikian karena ayahku bekerja sebagai karyawan swasta di pabrikan motor asal Jepang. Dari kedua hal ini saja sudah sangat jelas bahwa aku berhasil masuk ke Sekolah para calon Birokrat ini dengan fair tanpa ada bantuan dalam bentuk titipan orang dalam, apalagi uang pelicin agar aku masuk dalam sekolah ini. Hal inilah yang kemudian membuatku kembali percaya pada pemerintahan ini bahwasanya masih ada kalangan yang bersih dalam pemerintahan ini.
            Bahagianya orang tuaku saat pertama kali kukabarkan tentang kelulusan ini jangan ditanya lagi, mungkin adalah kebahagiaan terbesar yang pernah kuberikan pada mereka. Membayangkan selama 3 tahun ke depan aku tidak akan lagi membebani mereka dengan pengeluaran biaya kuliah per semester saja hampir membuatku menangis saat itu, apalagi mengenai mimpi akan dipekerjakan setelah 3 tahun menjalani pendidikan Diploma III di Instansi bernama Kementerian Keuangan yang saat itu dipimpin oleh Ibu menteri kebanggaanku, Ibu Sri Mulyani Indrawati. Sebatas lalu saja, Ibu Sri ini secara tidak langsung pernah ‘menyelamatkan’ keluarga kami dari ancaman Krisis pada tahun 2008, di mana saat itu semua pabrik terancam PHK besar-besaran, termasuk perusahaan pabrikan motor asal Jepang tempat ayahku bekerja. Entah apa yang telah diperbuat oleh Ibu Sri ini, pabrik yang sempat memangkas hari produksi dari 7 hari ke 5 hari itu akhirnya pun kembali berproduksi selama 7 hari secara sehat. Aku sangat berterima kasih pada Ibu Sri Mulyani hingga sekarang.
            Hari-hari pertamaku setelah mendapat kabar kelulusan ini sungguh menyenangkan. Maklum, saat itu adalah hari-hari pertama kuliah, saat dimana kawan-kawanku sudah hijrah ke kota lain untuk kuliah atau baru sekedar melalui masa orientasi mahasiswa baru, sedangkan aku yang baru 2 minggu hijrah ke Depok akhirnya harus kembali ke pelukan orang tuaku di Bekasi. Senangnya....
            Hari Registrasi Ulang pun datang, bapakku menyempatkan untuk cuti 1 hari saja (karena bapak jarang sekali cuti) demi menemaniku ke Kampus Birokrat karena aku memang tidak tahu lokasi kampus ini sebelumnya. Kembali pengorbanan orang tua sangat kurasakan di sini, beliau menunggu di luar ruangan selama lebih dari 5 jam di tengah keadaan Puasa Ramadhan saat itu.
Banyak pengalaman baru? Tentu saja! Namun tidak perlu kutuangkan di sini rasanya, karena pasti kalian pun tahu kualitas kalian masing-masing. Hehe..

Bapak sudah Deal dengan sebuah rumah kost-kost-an bernama Pondokan Keisha saat aku masih di dalam ruangan Registrasi. Agak merasa bersalah juga karena ternyata harga sewa per-kamarnya mencapai 4.5 juta rupiah per tahun! Ini sih sama saja dengan biaya per semesterku di Perguruan Tinggi sebelumnya. Tapi bapak bilang karena aku akan 3 Tahun di sini, ya tidak masalah bagi beliau. Aku pun positive thinking saja, mungkin ini hadiah yang ingin bapak serahkan atas kebahagiaan yang telah kuberikan untuknya ini.
Masa orientasi pun datang, dengan segala tugas yang telah kuselesaikan sebelumnya. Aku berkenalan dengan para penghuni Keisha yang ternyata mayoritas adalah Medan! Bukan hal mudah bagiku pertama kali harus hidup seatap dengan mereka, karena di lingkunganku sebelumnya mengidentikkan Medan itu adalah berisik dan sangar. Tapi itulah hidup, setelah sempat habis suaraku akibat berbicara keras-keras karena tak terbiasa akhirnya pun aku menganggap Keisha adalah keluarga pertamaku di kampus ini.

Selasa, 31 Januari 2012

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN


Mari bercerita kawan...

Apakah yang ada dalam benak kawan, ketika kawan melihat seorang anak kecil nan pintar lagi cerdas, namun sangat sering terlihat murung di tengah bergelimangnya mainan yang selalu ia mainkan?
Mungkin sedikit cerita ini bisa memberi jawaban...

* * *
Senyumnya tak pernah semanis kawan-kawan seusianya. Bahkan bisa kukatakan, senyumnya biasa saja. Tak ada yang menarik perhatianku sama sekali.
Beberapa kali aku melihatnya bermain di taman dekat Taman Bermain (Playgroup) ‘Nur Cahya’ dekat sekolahku. Di antara anak-anak seusianya, mungkin hanya Vino (nama anak kecil itu-pen.) yang tak terlalu kuperhatikan. Vino lebih sering terlihat bermain sendiri dengan mainannya sendiri dibanding bergabung dengan kawannya yang lain. Hingga suatu hari ia menghampiriku dan mengajak bermain.
“Ayo, kak main sama aku!” senyuman itu pertama kali kulihat dari si kecil Vino ketika ia menyambangiku yang tengah duduk di pinggir taman sambil melihat-lihat banyaknya anak kecil yang bermain di taman itu.
“Mau main apa? Memangnya kamu gak main sama teman-teman kamu?” aku menjawab sekenanya saja.
“Maunya main sama kakak aja,” ia menjawab dengan nada yang tegas.
“Baiklah, ayo kita main.”
Hal tersebut terjadi nyaris tiap hari, atau setidaknya tiap aku menyempatkan diri duduk-duduk di pinggir taman sambil melepaskan penat perkuliahan. Vino selalu menghampiriku tiap aku datang. Dan terkesan, ia memang menungguku datang.  Dengan senyumnya yang tak terlalu manis itu, ia selalu menghampiriku dan mengajakku bermain dengannya. Ya, sekadar bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil seusianya, atau bermain balap-balapan dengan mobil-mobilan kesukaannya. Dan ternyata aku pun menikmatinya. Bermain dengan si kecil Vino, yang lebih sering terlihat murung itu.
Jujur saja, awal aku menerima tawarannya untuk bermain hanyalah untuk melepas penatku saja. Namun lama kelamaan, ternyata Vino telah berhasil meningkatkan itu. Ya, seringnya aku duduk-duduk di taman yang hanya sekadar melepas penat, kini terasa ‘butuh’ dengan suasana ketika kami bermain bersama. Lebih dari itu, ternyata aku menjadi begitu peduli pada Vino. Seperti seorang ibu yang menghampiriku sore itu dan berkata, “Mas, terima kasih ya sudah mau mengajak Vino bermain akhir-akhir ini. Sebenarnya ia anak yang pintar di kelas, tapi ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian ketika di luar kelas. Dan sejak mas mau diajaknya bermain, kini Vino sangat sering tersenyum ketika sedang bermain dengan teman-temannya,” jelas ibu yang ternyata adalah guru kelas sekaligus wali kelas Vino di sekolah.
Suatu sore, Vino datang kepadaku bukan untuk meminta bermain bersama. Ia justru bercerita.
V : “Kak, Vino kemarin dimarahi sama Ryan dan Adi, gara-gara Vino mainin mobil-mobilan mereka.”
A : “Memang kenapa kamu memainkan mobil-mobilan mereka? ‘kan kamu sudah punya mobil-mobilan kesayangan kamu yang jago ngebut itu.”
V : “Iya, habis aku mau aja mainin mobil-mobilan mereka aja. Sebatas itu kok, lagian aku kan tidak merusaknya. Hanya sekadar bermain saja.”
A : “Vino, kamu kan sudah punya mobil-mobilan sendiri, jadi mainkan saja mobil-mobilanmu. Jangan malah kamu mainkan mobil-mobilan Ryan atau Adi. Gak baik lho.. Coba kalau mobil-mobilan Vino yang dimainkan sama teman-teman Vino padahal Vino gak suka, gimana coba?”
V : “Hehehe.. iya ya kak. Ya sudah, aku gak mau mainin mobil-mobilan orang lagi ah..”
Senyumnya kembali menutup perbincangan singkatku dengan Vino sore itu. Dan kembali kami bermain bersama. Sebuah perbincangan yang cukup menarik perhatianku. Ternyata dalam kesendiriannya, ia mempunyai keinginan terpendam, sekadar ingin bermain dengan mainan orang yang padahal ia pun sudah memiliki mainan semacam itu.
Sejak saat itu, perhatianku benar-benar tersita olehnya. Beberapa kali ia mencariku hingga ke rumah untuk sekadar mengajak bermain bersama. Tentu aku tak bisa menolaknya, karena aku memang melihat perubahan besar di raut wajahnya ketika sedang bermain denganku, seperti yang dikatakan ibu wali kelasnya itu. Untungnya rumahku tak jauh dari taman itu sehingga ia dapat dengan mudah mencari rumahku dengan bertanya pada warga sekitar.
Selama beberapa tahun, karena waktu kuliahku yang sedang begitu padat, aku pun membuat ‘perjanjian kecil’ bersama Vino tentang aku yang tak bisa lagi bermain dengannya setiap hari. Dan rupanya, ia mengerti hal itu, dan menjawabnya dengan senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatku tenang melihatnya. Terkadang terharu bila mengingat masa-masa awalku melihatnya di taman ketika itu.
Vino pun tumbuh besar, kini sedang menjalani bulan-bulan terakhirnya sebagai anak Taman Kanak-kanak (TK-pen.) selepas awal perkenalanku dengannya yang masih di Playgroup. Senyumnya kini tak lagi malu-malu merekah ketika bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Masa-masa murungnya perlahan sirna. Beberapa kali ia bercerita tentang kawan-kawannya yang memamerkan mainan terupdate mereka kepadanya, tapi hal itu sudah tak lagi menarik baginya sejak ia bertemu denganku sebagai teman bermainnya, meskipun dengan mainan yang itu-itu saja. Dan aku tetap teguh pada perjanjian kami, selalu bermain bersama.
Kini Vino telah masuk SD. Satu jenjang lebih tinggi dari TK tentunya. Bertemu banyak kawan baru dengan suasana baru pula. Sering dengan polosnya ia mengeluhkan tentang berkurangnya waktu bermain dia dengan mainan-mainan kesukaannya. Atau sekadar datang ke taman dan mengajakku bermain seperti biasa. Karena masa awal di SD cukup membuatnya kelelahan dan tertidur sehingga tak sempat menemuiku di taman.
Beberapa kali Vino tak datang, akhirnya kucoba mendatangi sekolahnya. Tidak terlalu berlebihan memang, karena guru-guru di sekolahnya kini mengetahui aku adalah kakak teman bermainnya selama ini. Dan memang benar, kini Vino sudah cukup sibuk dengan pelajaran membaca, menulis, serta berhitung di sekolahnya. Salah seorang guru bercerita kepadaku, bahwa Vino kini mewakili sekolahnya dalam mengikuti perlombaan CALISTUNG di tingkat kota. Betapa bangganya aku.. Tapi sepertinya itu sedikit mengubah semua perjanjian kecil kami. Karena tak pernah lagi ia sempat untuk pergi ke taman, dan bermain bersamaku.
Sekali waktu aku coba datang lagi ke sekolah Vino untuk sekadar melihat perkembangannya. Dan beberapa kali kulihat ia sedang sibuk dengan kawan-kawannya di ruangan guru, mungkin belajar bersama untuk menghadapi lomba. Hingga seorang bapak menepuk punggungku di siang itu..
“Nak, kamu kakaknya Vino ya?” tanya Pak Supendi, yang sepertinya adalah kepala sekolah di sana.
“Maaf, bukan pak. Saya hanya tetangganya yang kebetulan sering bermain bersama Vino di taman dekat Playgroup itu.”
“Ohhh, jadi kamu ya yang sering diceritakan para wali murid itu.” terang Pak Kepsek padaku yang kemudian dilanjutkan, “Nak, sekarang Vino sudah tak seperti dulu lagi. Ia tak pernah terlihat murung lagi. Prestasi di sekolahnya pun baik, bahkan ia menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan CALISTUNG.”
“Jadi begitu ya pak, baiklah. Saya pulang dulu ya pak.” antara sedih dan senang akan perubahan Vino, aku pun pamit pulang pada Pak Kepsek itu. Dan sebelum aku pulang, seorang ibu yang ternyata adalah wali kelas Vino ketika di Playgroup dan juga seorang wali murid salah satu teman Vino di SD berkata demikian,
“Nak, kamu sudah menemani Vino selama ini. Saya sebagai mantan wali kelasnya di Playgroup sangat senang melihat perubahan Vino. Dia sudah makin pintar sekarang, dan sudah tak pernah lagi terlihat murung saat di kelas ataupun di waktu istirahat.”
Mendengar perkataan ibu itu, aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas wejangannya. Aku pun pulang ke rumah, dan melanjutkan aktivitasku di kampus seperti biasanya, dan kini tak perlu lagi meluangkan waktu untuk bermain dengan Vino di taman seperti dulu.
Sebuah kabar terakhir yang ku dengar dari cerita orang-orang, kini Vino sedang belajar memperbaiki sebuah mainan yang rusak. Sebuah mobil-mobilan yang kondisinya tak sebaik mobil-mobilan kesayangannya dahulu. Sebuah pekerjaan bermain yang ia sukai kini, memperbaiki kerusakan mainan agar dapat dipakai untuk bermain. Tak hanya mengajak orang lain untuk bermain bersama, tapi juga memperbaiki mainan kawannya agar kawannya dapat bermain lagi.
Bersama teman-teman barunya di SD, ia kini sering terlihat bermain di halaman sekolah dan tak pernah lagi terlihat murung sendirian. Tak pernah pula aku melihatnya bermain di taman itu lagi. Dan entah, apa ia masih ingat denganku atau tidak.

***
Ketika menceritakan cerita ini, mata kawanku sempat berlinang. Satu perkataan yang menggambarkan perasaannya ketika ia bercerita hanyalah ini.
“Aku datang untuk menemaninya bermain agar tak murung lagi.
Sekarang ia sudah menemukan bentuk permainannya yang baru.
Dan aku dapat tersenyum bahagia tiap kulihat ia bermain dengan kawan serta mainannya yang baru itu.
Setidaknya, tak ada lagi mainan kawannya yang ia mainkan dan menimbulkan kemarahan kawannya.
Bermain dengannya memang selalu membahagiakan, tapi lebih bahagia bagiku melihatnya tersenyum tanpa perlu ada kehadiranku.”


Tulisan kali ini kudedikasikan untuk seorang kawan,
Kawan yang selalu ingin memberi manfaat kepada orang lain,
Dan selalu ingin menghadirkan senyum kebahagiaan bagi orang lain,

Diceritakan kembali oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Selasa, 24 Januari 2012

Kata Di Balik Nada


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Dia tak pernah tahu...
Oh Bunga, tolong beri tahu aku apa yang mengganggumu
Karena aku tak mau melihatmu seperti ini
..
Tak pernah kubayangkan
Tempati sisi hatimu yang kosong
Jadi yang paling bahagia
Dapati cinta itu
Perlahan duka pun pergi
Jauh tenggelam tinggalkan gundah
Bertahun ku coba sendiri
Berteman caci maki

Takkan kulepas lagi
Kehadiranmu oh anugerah

Sepanjang usia
Kita trus bersama
Mengarungi hidup dengan cinta
Turut kehendak-Nya
Sepanjang usia
Ku tak mau terpisah
Memberikan hatiku seutuhnya
Hanya kepada dirimu
...
Jalanku trus berjalan
...
Bila kau rindukan aku putri
Coba kau pandangi langit malam ini
Bila itu tak cukup mengganti
Cobalah kau hirup udara pagi
Aku di situ

Mungkin dengan perpisahan
Kita ‘kan mengerti arti pertemuan
Putri percaya padaku
Ini hanya likuan hidup
Dan pasti berakhir
...
Ku menatap langit yang tenang
Dan takkan menangisi malam
Tuk tetap berdiri ku melawan hari
Ku akan berarti, ku takkan mati

Mungkin masaku tlah berlalu
Mungkin hatiku tak berbentuk lagi
Rasa ini takkan terobati
Tetapi mati takkan mengobati
Ku menatap langit
...
Sebait nada-nadaku Bercak cinta tulus suciku
Kupersembahkan hanya untukmu
Selamat ulang tahun 
Dandani hadirnya masa remaja 
Semoga panjang umur 
Beri arti jejak langkah mudamu
...
Tak ada yang akan bisa melunturkan niatku
Tuk bertemu memeluk dan memanggil
Meski surya membenamkan tubuhku di lautan
Ku tunggu sampai samudera mengering
Ku tunggu sampai samudera...