Sabtu, 04 Februari 2012

MASA-MASA AWAL



Hey, Team!!!
Mungkin yang pertama layak kusampaikan adalah sesi perkenalan diriku. Aku adalah Isnendi, seorang biasa yang secara tidak sengaja masuk dalam lingkungan yang penuh dengan sebuah ketidakbiasaan, berada di lingkungan para calon Abdi Negara.
            Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, atau yang lebih famous dikenal dengan STAN. Banyak sekali orang tua dan para siswa/i SMA atau se-derajat yang menginginkan masuk ke tempat ini karena dianggap dapat memberikan kepastian masa depan seseorang. Ya! Siapa pun tahu, karena setiap apapun yang berakhiran dengan ‘Negara’ pastinya akan dijamin hidupnya, bahkan sampai lanjut usia pun tetap disediakan Tunjangan Pensiun meskipun sebenarnya tidak semua para pensiunan pernah mengabdi sedemikian besarnya pada negara. Dan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan Keuangan Negara selalu menyebutkan bahwasanya Belanja Pegawai adalah bersifat mengikat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
             Jujur saja, aku sebenarnya bukan orang yang secara penuh mendukung pemerintahan dalam kepemimpinan apa pun. Aku pernah dengar sebutan mengenai Pemerintahan Reformasi yang Demokratis yang katanya itu sangat berpihak pada rakyat dikarenakan suara rakyat dapat menentukan jalannya pembangunan negara. Tapi mana pembangunannya? Di sana-sini banyak korupsi, apalagi yang bersifat nepotisme, bukan hal aneh lagi dalam hidupku. Masuk TNI/POLRI harus ada ‘orang dalam’, mau jadi PNS harus dengan ‘uang pelicin’, dan mungkin masih banyak lagi hal lain yang tak tersebut dalam tulisanku ini.
            Namun setitik asa sempat tumbuh dalam bathin kenegaraanku. Aku dinyatakan lulus dalam Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (USM STAN) yang memang menjadi mimpi semua pelajar SMA (setidaknya seperti itulah di Sekolahku dulu). Aku lahir dan hidup dalam ‘Keluarga Swasta’. Aku menyebutkan demikian karena ayahku bekerja sebagai karyawan swasta di pabrikan motor asal Jepang. Dari kedua hal ini saja sudah sangat jelas bahwa aku berhasil masuk ke Sekolah para calon Birokrat ini dengan fair tanpa ada bantuan dalam bentuk titipan orang dalam, apalagi uang pelicin agar aku masuk dalam sekolah ini. Hal inilah yang kemudian membuatku kembali percaya pada pemerintahan ini bahwasanya masih ada kalangan yang bersih dalam pemerintahan ini.
            Bahagianya orang tuaku saat pertama kali kukabarkan tentang kelulusan ini jangan ditanya lagi, mungkin adalah kebahagiaan terbesar yang pernah kuberikan pada mereka. Membayangkan selama 3 tahun ke depan aku tidak akan lagi membebani mereka dengan pengeluaran biaya kuliah per semester saja hampir membuatku menangis saat itu, apalagi mengenai mimpi akan dipekerjakan setelah 3 tahun menjalani pendidikan Diploma III di Instansi bernama Kementerian Keuangan yang saat itu dipimpin oleh Ibu menteri kebanggaanku, Ibu Sri Mulyani Indrawati. Sebatas lalu saja, Ibu Sri ini secara tidak langsung pernah ‘menyelamatkan’ keluarga kami dari ancaman Krisis pada tahun 2008, di mana saat itu semua pabrik terancam PHK besar-besaran, termasuk perusahaan pabrikan motor asal Jepang tempat ayahku bekerja. Entah apa yang telah diperbuat oleh Ibu Sri ini, pabrik yang sempat memangkas hari produksi dari 7 hari ke 5 hari itu akhirnya pun kembali berproduksi selama 7 hari secara sehat. Aku sangat berterima kasih pada Ibu Sri Mulyani hingga sekarang.
            Hari-hari pertamaku setelah mendapat kabar kelulusan ini sungguh menyenangkan. Maklum, saat itu adalah hari-hari pertama kuliah, saat dimana kawan-kawanku sudah hijrah ke kota lain untuk kuliah atau baru sekedar melalui masa orientasi mahasiswa baru, sedangkan aku yang baru 2 minggu hijrah ke Depok akhirnya harus kembali ke pelukan orang tuaku di Bekasi. Senangnya....
            Hari Registrasi Ulang pun datang, bapakku menyempatkan untuk cuti 1 hari saja (karena bapak jarang sekali cuti) demi menemaniku ke Kampus Birokrat karena aku memang tidak tahu lokasi kampus ini sebelumnya. Kembali pengorbanan orang tua sangat kurasakan di sini, beliau menunggu di luar ruangan selama lebih dari 5 jam di tengah keadaan Puasa Ramadhan saat itu.
Banyak pengalaman baru? Tentu saja! Namun tidak perlu kutuangkan di sini rasanya, karena pasti kalian pun tahu kualitas kalian masing-masing. Hehe..

Bapak sudah Deal dengan sebuah rumah kost-kost-an bernama Pondokan Keisha saat aku masih di dalam ruangan Registrasi. Agak merasa bersalah juga karena ternyata harga sewa per-kamarnya mencapai 4.5 juta rupiah per tahun! Ini sih sama saja dengan biaya per semesterku di Perguruan Tinggi sebelumnya. Tapi bapak bilang karena aku akan 3 Tahun di sini, ya tidak masalah bagi beliau. Aku pun positive thinking saja, mungkin ini hadiah yang ingin bapak serahkan atas kebahagiaan yang telah kuberikan untuknya ini.
Masa orientasi pun datang, dengan segala tugas yang telah kuselesaikan sebelumnya. Aku berkenalan dengan para penghuni Keisha yang ternyata mayoritas adalah Medan! Bukan hal mudah bagiku pertama kali harus hidup seatap dengan mereka, karena di lingkunganku sebelumnya mengidentikkan Medan itu adalah berisik dan sangar. Tapi itulah hidup, setelah sempat habis suaraku akibat berbicara keras-keras karena tak terbiasa akhirnya pun aku menganggap Keisha adalah keluarga pertamaku di kampus ini.

2 komentar: