Selasa, 10 April 2012

I JUST WANNA ENJOY THIS, WITH YOU...


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09


Hari ini, hari pertama kami menghadapi UTS terakhir kami di kampus ini. Ya, UTS terakhir yang kami lalui di semester akhir kami, semester 6. Mata kuliah yang diujikan mungkin sedikit unik jika dibanding dengan kampus-kampus lainnya, Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian, atau sering kami sebut KSPK.
Secara detail, sebenarnya saya kurang begitu perhatian dengan mata kuliah ini. Entah karena apa, tapi saya lebih senang menganggap penyebabnya adalah kami hanya akan akrab dengan mata kuliah ini maksimal 2 bulan saja. Pemadatan jadwal yang biasanya 8 kali tatap muka per mata kuliah selama 8 minggu dipangkas menjadi hanya 4 minggu untuk 8 kali tatap muka. Jadi, tiap minggunya kami bertemu dengan mata kuliah ini untuk hitungan 2 kali tatap muka sekali pertemuan selama 4 sks. KSPK ini sendiri mungkin kalau di SMA bisa disamakan dengan mata pelajaran Bimbingan Konseling atau semacamnya, yang bersifat membangun karakter, terutama bagi kami yang akan segera bertemu dengan suasana kerja birokrat yang (katanya) sangat kaku.
Ya, itu sekilas saja tentang KSPK.
Akhirnya pun bertemu mata kuliah ini di hari pertama UTS. Tak usah membahas bagaimana sulitnya atau kurangnya waktu yang saya rasakan saat ujian berlangsung, tapi ada hal lain yang lebih tertanam dalam memori otak saya yang sebatas ini saja.
Pagi sebelum ujian KSPK itu saya dengan iseng mengirim SMS random yang isinya ‘Baca KSPK ini Inspiratif, tapi jadi Destruktif kalo inget bagian mana yang bakal keluar di Essay’.
Tidak usah membahas tentang sisi destruktifnya lah ya, maklum lah namanya juga mahasiswa yang maunya serba instan, belajarnya sedikit tapi doanya banyak, doa semoga yang sedikit itu yang pas keluar di soal. Hahaha..
Lalu apa yang inspiratif? Hmmm... sesuai dengan tujuan mata kuliah ini yakni membangun karakter para calon birokrat, ada salah satu Bab yang membahas khusus tentang Sukses. Makna Suksesn Sejati dibanding dengan makna Sukses yang telah lama menjadi tolok ukur masyarakat luas.
Sukses Sejati dikatakan memiliki 5 indikator utama, yakni Keseimbangan Hidup, Bermanfaat Bagi Orang Lain, Proses yang Konsisten Untuk Mencapai Cita-Cita, Menikmati Kemenangan-Kemenangan, dan Akhir yang Baik.
Dari kelima indikator itu, entah kenapa saya sangat concern kepada hal keempat, yakni Sukses adalah Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil. Kenapa kemenangan kecil? Bukankah orang dipandang sukses ketika ia sudah mencapai sebuah capaian yang tinggi? Semisal kemenangan di tingkat kampus, kota, propinsi, nasional, atau bahkan dunia yang diakui?
Saya mencoba memahami hal ini, bahkan lebih dalam dibanding hal lain di mata kuliah ini. Hehehe..
Betapa tidak, di luar sana banyak sekali orang-orang yang menganggap “kamu belum sukses” dengan berbagai alasan, seperti “kamu tidak lebih sukses dari saya” atau yang paling ekstrem menurut saya adalah ketika seseorang berkata “mana pergerakanmu? Kok Statis aja kayaknya”. Sebuah judgement memang selalu destruktif, tapi kenapa kita tidak menikmati saja saat-saat seperti itu? Seseorang terkadang terlalu menganggap suatu hal sebagai beban, padahal mungkin bila kita siap menikmatinya, hal itu akan menjadi banyak pelajaran bagi kita.
Kembali ke “Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil”. Sebagai kaum muda, maka tidaklah salah bila kita hanya menggapai hal-hal kecil dalam hidup kita. Anggap saja sedang menikmati hidup sembari mensyukuri apa yang telah kita capai. Memang, di luar sana sekarang sudah banyak sekali kaum muda yang membuktikan dirinya mampu sukses dan diakui hingga tingkat dunia, tapi saya yakin, mereka-mereka itu dahulunya adalah orang-orang yang menikmati setiap tahapan yang mengantar mereka menuju kesuksesan itu. Bukankah sesuatu yang besar juga dimulai dari tahapan-tahapan kecil yang membuatnya menjadi besar?
Sebuah teori lain mengatakan bahwa, orang-orang sukses adalah orang yang mampu membagi pengalaman suksesnya bersama orang-orang terdekatnya. Saya yakin, teman-teman yang membaca tulisan ini punya orang-orang terdekat ‘kan? Entah itu keluarga, teman, sahabat, atau pun pacar. Dan pasti sudah sangat sering menikmati kesuksesan bersama mereka ‘kan? Itulah tahapan Sukses Sejati yang sedang dipupuk untuk sebuah Kesuksesan Besar dalam hidup teman-teman semua.

Ya, saya paham sekali bentuk tulisan ini tidak sepenuhnya mampu menggambarkan apa yang saya maksud dengan “Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil”, atau mungkin tidak jelas apa inti yang ingin saya sampaikan,  tapi setidaknya saya ingin menyampaikan hal yang menurut saya adalah baik.
Untuk teman-teman sekalian yang sempat membaca tulisan ini, nikmatilah setiap kemenangan kalian. Hal-hal kecil dalam berbagai bidang kehidupan yang nantinya akan menjadikanmu manusia besar yang kaya akan pengalaman dan koleksi kemenangan-kemenangan kecil yang bisa dinikmati ceritanya oleh orang lain.
 “Nikmati semua fase dalam kehidupanmu”
“Nikmati segala judgement negatif yang tertuju kepadamu”
“Nikmati semua kemenangan-kemenangan kecilmu bersama orang-orang terdekatmu”
“Nikmatilah hidupmu, apa adanya”

Semoga kesuksesan yang akan kita raih kelak tidak hanya berdasar pada 3K yang paling sering diagung-agungkan orang, yakni Kekayaan, Ketenaran, dan Kedudukan.

Selamat sukses di bidang kehidupan yang kalian pilih!
Selamat menjadi orang yang memberi manfaat bagi orang lain!
Selamat menyusun sesuatu untuk menjadi akhir yang baik!
Karena terkadang, akhir itu lebih baik daripada awal.

J

Jumat, 09 Maret 2012

INI, SILAKAN DICOBAIN DULU..


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Sabtu pagi, tak sengaja kulihat ada sebungkus mie telur di laci dapur ketika aku hendak membuat minuman pagiku. Di sebelahnya ada dua buah telur ayam dan beberapa jenis sayuran seperti kembang kol, jagung, sawi, dan daun seledri. Terpikir olehku untuk membuat sebuah sajian ringan untuk siang ini. Ya, mie telur goreng ala-ku.
Segera saja kubersihkan kedua tanganku di wastafel, dan mulai membersihkan sayuran-sayuran yang telah tersedia itu. Kubuka bungkus mie telur cap 3 Ayam, dan kuletakkan di dalam wajan. Mulai meracik bumbu dari banyak jenis bumbu yang ada di meja dapur, yang aku bahkan tak tahu apa namanya. Memotong-motong sayuran agar lebih mudah disajikan. Atau agar lebih terlihat ajib untuk dimakan? Entahlah, jemariku bekerja begitu saja membentuk sayuran itu menjadi bentuk yang menurutku enak dilihat. Hehe,
Sesajian untuk membuat mie telur goreng sudah siap, tinggal memasukkan bumbu asal jadi ini ke atas wajan. Oseng-oseng pergerakan alat memasak itu pun sudah mulai memeriahkan waktu memasakku pagi itu, berlagak seperti seorang chef yang sudah expert hingga gaya seperti ibu ketika sedang memasak di dapur ini berulang kuperagakan. Dan hasilnya? Hmm.. ada yang bilang, memasak itu tak bisa kita sendiri yang menilai. Syukurlah bukan lidahku yang pertama kali harus menjadi tumbal. Haha,
Baik, sasaran pertama adalah Ani. Adikku yang satu ini orangnya teramat sangat jujur, jadi mungkin perlu dikasih ‘pelajaran’ juga lidahnya olehku.
“Nih makan, gw bikinin buat lo tuh!” cecarku dengan sedikit senyum licik. (Haha,)
“Ih, apaan nih, pasti gak enak,” respons pertama Ani yang memang sudah kuduga.
“Hmm... asin banget! Udah mau kawin kali lo ya?” timpal si Ani gendut itu.
Dasar si gendut itu, mulutnya terus nyerocos tentang makanan buatanku ini, tapi habis juga dilahap satu piring lebih mie telur goreng itu. Yap, berarti mie telur gorengku kali ini memang enak, hanya Ani saja yang memang tidak mau memujinya. Senangnya..
Jam 11 siang tepat dia datang. Ya, memang dia ini selalu tepat waktu kapanpun ia bilang akan datang jam berapa. Seorang yang berkomitmen dengan kata-katanya.
Setelah mengobrol beberapa lama, kutawarkan padanya hasil karya pertamaku hari ini, mie telur goreng ala-ku. Ya, sebagai tamu dia memang sangat jarang sekali kujamu, jangankan makanan, terkadang air putih pun tak kusajikan. Maka kali ini kusajikan untuknya sepiring mie telur goreng buatanku dengan saus yang kusertakan di sampingnya kalau-kalau dia hendak menambahkannya ke dalam mie telur goreng ini. Walau aku tahu, dia bukanlah penikmat makanan pedas, namun mungkin cukup manjur untuk menutupi rasa asin di mie telur gorengku ini seperti komentar pertama dari Ani tadi.
“Ini, silakan dicobain dulu..” kali ini aku lebih ramah menawarkan dibanding ketika menawarkan untuk Ani tadi.
“Wah, akhirnya belajar masak juga nih? Aku tumbal pertama nih ceritanya?” respons pertama yang aku dapat darinya.
“Ah, nggak kok. Tadi si Ani udah nyobain juga.”
“Oh, oke, aku makan ya.” Jawabnya sambil kulihat bibirnya berkomat kamit seperti mengucap basmallah.
“Hmm.. sebenernya kalau pun ibuku yang buat ini, aku gak akan memakannya, karena aku gak suka mie telur, aneh rasanya sih. Hahaha,” lagi-lagi respon seperti ini yang kudapat darinya.
”Gak ada rasanya, hambar, kamu gak pake bumbu kali ya?” dia malah bertanya, yang justru berkebalikan dengan respons Ani. Siapa yang benar dan siapa yang salah ya? Atau aku mengaduknya tidak rata? Duhh.. aneh-aneh saja ya pengalaman pertama kali aku memasak ini.
“Nih cobain aja!” dia menghentikan lamunan sejenakku itu dan menyuapiku mie itu. Dan kami tertawa terbahak-bahak, ternyata memang hambar sekali rasanya, hahahahahahaaa...
Ah, memang dasar pengalaman pertama memasak, ada-ada saja komentar orang lain. Dari mulai asin dan dikira mau kawin, sampai hambar seperti ini. Tapi tetap saja seperti Ani, mie itu pun habis juga dimakannya. Dasar..
“Gak apa-apa hambar, namanya juga baru pertama kali, nanti kan bisa belajar lagi,” aku hanya bisa diam, teringat janjiku dahulu untuk belajar memasak dengan serius, yang sampai sekarang selalu kutunda-tunda.
Dua jam sudah kami berbincang, bercanda, dan bercerita satu sama lain, dan akhirnya dia pamit pulang, dengan kata penutup yang masih berkaitan dengan makanan, “Besok besok masakin lagi ya, asin atau pedas gak apa-apa deh, asal jangan hambar lagi. Hahaha..” Jleb, masih saja dia mengejekku sebelum pulang.

Kini, di hari spesialku, aku telah berhasil membuat makanan lagi. Sebuah kudapan bernama Puding ala-ku (lagi). Menurut beberapa sahabatku yang datang hari ini, rasa puding ini sangat enak, “It’s delicious, sweet, and cool” katanya.
Tapi dia tak datang untuk menikmati puding ini karena ada sebuah hal yang tak bisa ditinggalkan.
Untuk kamu, semoga satu saat kamu bisa benar-benar merasakan puding manis ini, setelah kamu hanya merasakan yang hambar dariku.

Rabu, 29 Februari 2012

KABISATKU, KALI INI..



 Oleh : Isnendi Yakub-STAN ‘09

Hari ini, tepat empat tahun yang lalu aku telah mengecewakan mereka
Janjiku hari itu, benar-benar tak mampu kubayar
Kepada mereka yang telah menantiku di sana...
Masihkah aku mampu menjelaskan ketidakmampuanku membayar janji itu?
Oh, sungguh.. apa mungkin aku masih diperkenankan?

Kabisatku kali ini..
Sungguh kuingin ini yang terakhir kulalui dengan seperti ini
Kepada jiwa di sana yang telah tersenyum lebar...
Tahukah kamu, aku di sini tiada henti-hentinya menikmati lebam?
Sadarkah kamu, atas apa yang kamu panjatkan kepada-Nya?

Kabisatku kali ini..
Peluhku telah memudar walau tak penuh
Kepada kalian yang sedang menikmati cita-cita...
Lelahkah kalian menghapus peluhku?
Relakah kalian menunggu untuk kuhadirkan senyumku?

Kabisatku kali ini..
Rasa penasaranku yang semoga tak menyampaikan aku pada sebuah derita
Kepada Engkau yang seringkali kuingkarkan...
Yang selalu merangkulku
Yang senantiasa menaungiku
Yang mengangkatku setelah mengingatkanku

Kabisatku kali ini..
Kembali kuulangi kebodohan itu
Kepada pria yang selalu berpegang pada perkataanmu...
Bagaimana mungkin engkau bisa berkata dengan pertimbangan sedalam itu?
Bisakah aku, menjadi manusia mulia sepertimu?

Kepada tawaku,
Kepada ceriaku,
Kepada inspirasiku,
Di sinilah aku memanggil kalian kembali
Di sini, di rumah ini..
Di hati ini...
Tempat kalian berlabuh untuk nafas awal dan akhirmu

Sabtu, 04 Februari 2012

MASA-MASA AWAL



Hey, Team!!!
Mungkin yang pertama layak kusampaikan adalah sesi perkenalan diriku. Aku adalah Isnendi, seorang biasa yang secara tidak sengaja masuk dalam lingkungan yang penuh dengan sebuah ketidakbiasaan, berada di lingkungan para calon Abdi Negara.
            Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, atau yang lebih famous dikenal dengan STAN. Banyak sekali orang tua dan para siswa/i SMA atau se-derajat yang menginginkan masuk ke tempat ini karena dianggap dapat memberikan kepastian masa depan seseorang. Ya! Siapa pun tahu, karena setiap apapun yang berakhiran dengan ‘Negara’ pastinya akan dijamin hidupnya, bahkan sampai lanjut usia pun tetap disediakan Tunjangan Pensiun meskipun sebenarnya tidak semua para pensiunan pernah mengabdi sedemikian besarnya pada negara. Dan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan Keuangan Negara selalu menyebutkan bahwasanya Belanja Pegawai adalah bersifat mengikat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
             Jujur saja, aku sebenarnya bukan orang yang secara penuh mendukung pemerintahan dalam kepemimpinan apa pun. Aku pernah dengar sebutan mengenai Pemerintahan Reformasi yang Demokratis yang katanya itu sangat berpihak pada rakyat dikarenakan suara rakyat dapat menentukan jalannya pembangunan negara. Tapi mana pembangunannya? Di sana-sini banyak korupsi, apalagi yang bersifat nepotisme, bukan hal aneh lagi dalam hidupku. Masuk TNI/POLRI harus ada ‘orang dalam’, mau jadi PNS harus dengan ‘uang pelicin’, dan mungkin masih banyak lagi hal lain yang tak tersebut dalam tulisanku ini.
            Namun setitik asa sempat tumbuh dalam bathin kenegaraanku. Aku dinyatakan lulus dalam Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (USM STAN) yang memang menjadi mimpi semua pelajar SMA (setidaknya seperti itulah di Sekolahku dulu). Aku lahir dan hidup dalam ‘Keluarga Swasta’. Aku menyebutkan demikian karena ayahku bekerja sebagai karyawan swasta di pabrikan motor asal Jepang. Dari kedua hal ini saja sudah sangat jelas bahwa aku berhasil masuk ke Sekolah para calon Birokrat ini dengan fair tanpa ada bantuan dalam bentuk titipan orang dalam, apalagi uang pelicin agar aku masuk dalam sekolah ini. Hal inilah yang kemudian membuatku kembali percaya pada pemerintahan ini bahwasanya masih ada kalangan yang bersih dalam pemerintahan ini.
            Bahagianya orang tuaku saat pertama kali kukabarkan tentang kelulusan ini jangan ditanya lagi, mungkin adalah kebahagiaan terbesar yang pernah kuberikan pada mereka. Membayangkan selama 3 tahun ke depan aku tidak akan lagi membebani mereka dengan pengeluaran biaya kuliah per semester saja hampir membuatku menangis saat itu, apalagi mengenai mimpi akan dipekerjakan setelah 3 tahun menjalani pendidikan Diploma III di Instansi bernama Kementerian Keuangan yang saat itu dipimpin oleh Ibu menteri kebanggaanku, Ibu Sri Mulyani Indrawati. Sebatas lalu saja, Ibu Sri ini secara tidak langsung pernah ‘menyelamatkan’ keluarga kami dari ancaman Krisis pada tahun 2008, di mana saat itu semua pabrik terancam PHK besar-besaran, termasuk perusahaan pabrikan motor asal Jepang tempat ayahku bekerja. Entah apa yang telah diperbuat oleh Ibu Sri ini, pabrik yang sempat memangkas hari produksi dari 7 hari ke 5 hari itu akhirnya pun kembali berproduksi selama 7 hari secara sehat. Aku sangat berterima kasih pada Ibu Sri Mulyani hingga sekarang.
            Hari-hari pertamaku setelah mendapat kabar kelulusan ini sungguh menyenangkan. Maklum, saat itu adalah hari-hari pertama kuliah, saat dimana kawan-kawanku sudah hijrah ke kota lain untuk kuliah atau baru sekedar melalui masa orientasi mahasiswa baru, sedangkan aku yang baru 2 minggu hijrah ke Depok akhirnya harus kembali ke pelukan orang tuaku di Bekasi. Senangnya....
            Hari Registrasi Ulang pun datang, bapakku menyempatkan untuk cuti 1 hari saja (karena bapak jarang sekali cuti) demi menemaniku ke Kampus Birokrat karena aku memang tidak tahu lokasi kampus ini sebelumnya. Kembali pengorbanan orang tua sangat kurasakan di sini, beliau menunggu di luar ruangan selama lebih dari 5 jam di tengah keadaan Puasa Ramadhan saat itu.
Banyak pengalaman baru? Tentu saja! Namun tidak perlu kutuangkan di sini rasanya, karena pasti kalian pun tahu kualitas kalian masing-masing. Hehe..

Bapak sudah Deal dengan sebuah rumah kost-kost-an bernama Pondokan Keisha saat aku masih di dalam ruangan Registrasi. Agak merasa bersalah juga karena ternyata harga sewa per-kamarnya mencapai 4.5 juta rupiah per tahun! Ini sih sama saja dengan biaya per semesterku di Perguruan Tinggi sebelumnya. Tapi bapak bilang karena aku akan 3 Tahun di sini, ya tidak masalah bagi beliau. Aku pun positive thinking saja, mungkin ini hadiah yang ingin bapak serahkan atas kebahagiaan yang telah kuberikan untuknya ini.
Masa orientasi pun datang, dengan segala tugas yang telah kuselesaikan sebelumnya. Aku berkenalan dengan para penghuni Keisha yang ternyata mayoritas adalah Medan! Bukan hal mudah bagiku pertama kali harus hidup seatap dengan mereka, karena di lingkunganku sebelumnya mengidentikkan Medan itu adalah berisik dan sangar. Tapi itulah hidup, setelah sempat habis suaraku akibat berbicara keras-keras karena tak terbiasa akhirnya pun aku menganggap Keisha adalah keluarga pertamaku di kampus ini.