Malam ini saya sengaja keluar malam bersama Ibu untuk beli makan malam di Warung Tenda Pecel Lele yang biasa kami tuju. Ibu pesan 3 lele goreng dan 3 nasi uduk. Sementara saya tergiur dengan Nasi Goreng di sebelahnya yang sudah lama juga tak saya rasakan nikmatnya. Setelah pesan 1 porsi nasi goreng 'sedang' saya pun menjauh dari penjualnya karena aroma oseng-oseng masakannya yang membuat saya bersin-bersin. Tak lama, 3 lele dan 3 nasi uduk datang. Saya lalu memerhatikan, sudah ada 2 orang yang baru datang di Nasi Goreng itu setelah saya namun sudah mendapat pesanannya. Saya pun bertanya kepada si Bapak penjualnya. Dan jawaban Bapaknya: "Sorry ya mas lama." Hmmm rasanya saya mau protes karena sudah ada 2 orang yang sudah dapat pesanannya padahal saya yang antre duluan.
Sekejap saya teringat siang tadi di sebuah gerai Donat. Saya menemani Istri memesan Donat 1 lusin. Saat antrean tinggal 1 orang lagi, pelayannya malah menanyakan pesanan kepada seorang Pria yang antreannya berada di belakang kami. Katanya: "Bapak ini sudah antre duluan tadi."
Hooo ternyata kedua penyedia jasa makanan ini sama dalam memperlakukan 'Antrean Pelanggan' ya. Sama-sama menggunakan cara yang 'Tanpa Standar'.
Kemudian saya memerhatikan sebuah pekerjaan yang selama ini tidak pernah dibuatkan standarnya. Boro-boro standar layanan, standar antrean, atau standar reward. Prosedurnya saja bisa beraneka ragam tergantung variabel yang tak bisa diperkirakan. Meski dalam kesepahaman saya ada satu tolok ukur keberhasilan dari pekerjaan dimaksud. Hal itu adalah: Senyuman dari Stakeholder.
Dan pekerjaan itu adalah: Ibu.
(Maaf. Yang kunamai 'Ibu' ini sebenarnya bukanlah sebuah pekerjaan. Dia adalah: Segala yang baik setelah Allah dan Rasul-Nya)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar