Jumat, 11 Oktober 2019

Bekerja Tanpa Standar

Malam ini saya sengaja keluar malam bersama Ibu untuk beli makan malam di Warung Tenda Pecel Lele yang biasa kami tuju. Ibu pesan 3 lele goreng dan 3 nasi uduk. Sementara saya tergiur dengan Nasi Goreng di sebelahnya yang sudah lama juga tak saya rasakan nikmatnya. Setelah pesan 1 porsi nasi goreng 'sedang' saya pun menjauh dari penjualnya karena aroma oseng-oseng masakannya yang membuat saya bersin-bersin. Tak lama, 3 lele dan 3 nasi uduk datang. Saya lalu memerhatikan, sudah ada 2 orang yang baru datang di Nasi Goreng itu setelah saya namun sudah mendapat pesanannya. Saya pun bertanya kepada si Bapak penjualnya. Dan jawaban Bapaknya: "Sorry ya mas lama." Hmmm rasanya saya mau protes karena sudah ada 2 orang yang sudah dapat pesanannya padahal saya yang antre duluan.

Sekejap saya teringat siang tadi di sebuah gerai Donat. Saya menemani Istri memesan Donat 1 lusin. Saat antrean tinggal 1 orang lagi, pelayannya malah menanyakan pesanan kepada seorang Pria yang antreannya berada di belakang kami. Katanya: "Bapak ini sudah antre duluan tadi."

Hooo ternyata kedua penyedia jasa makanan ini sama dalam memperlakukan 'Antrean Pelanggan' ya. Sama-sama menggunakan cara yang 'Tanpa Standar'.

Kemudian saya memerhatikan sebuah pekerjaan yang selama ini tidak pernah dibuatkan standarnya. Boro-boro standar layanan, standar antrean, atau standar reward. Prosedurnya saja bisa beraneka ragam tergantung variabel yang tak bisa diperkirakan. Meski dalam kesepahaman saya ada satu tolok ukur keberhasilan dari pekerjaan dimaksud. Hal itu adalah: Senyuman dari Stakeholder.

Dan pekerjaan itu adalah: Ibu.




(Maaf. Yang kunamai 'Ibu' ini sebenarnya bukanlah sebuah pekerjaan. Dia adalah: Segala yang baik setelah Allah dan Rasul-Nya)

Selasa, 01 Oktober 2019

Mencipta Nilai

Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan angka-angka yang mereka sebut sebagai 'Nilai'. Di sekolah misalnya, tingkat kelulusan saya selalu bergantung pada Nilai yang saya dapatkan setelah melalui Ulangan-Ulangan. Mulai dari Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, dan Ulangan Semesteran. Saya tak sempat mengenal yang namanya Catur Wulan. Penamaan 'Ulangan' ini katanya karena sifatnya mengulang pelajaran yang telah lalu dengan menjawab soal-soal yang kemudian ditarik hasil berupa Nilai.

Beranjak sedikit dewasa, saya mengenal Nilai sebagai sesuatu dalam satuan Mata Uang. Apalagi saat saya kuliah di kampus STAN, saya makin akrab dengan mengenal Nilai sebagai 'Rupiah' dari sisi Ekonomi dan Keuangan. Mulai dari mendefinisikan kegiatan ke dalam Rupiah, merencanakan kebutuhan tahunan ke dalam Rupiah, hingga menjadikan Rupiah sebagai faktor utama menentukan skala pembangunan dan pertumbuhan.

Dalam keseharian, tak jarang saya menemukan hal lain yang pada akhirnya saya menganggapnya sebagai Nilai dalam sudut pandang berbeda. Saya sudah mencoba mengelompokkannya menjadi beberapa Nilai. Misalnya saja Nilai Kemanusiaan, Nilai Kesopanan, Nilai Keharmonisan. Nilai lainnya... saya sudah tak mampu menjabarkannya lagi. Kemudian saya berpikir, untuk penjabaran nilai-nilai ini kenapa tak bisa sama sekali diwujudkan dalam angka-angka sebagaimana di sekolah ataupun dalam dunia ekonomi/keuangan ya?

Di masa sekolah, Nilai yang saya dapatkan adalah hasil dari pengulangan pelajaran yang dijadikan dalam soal-soal Ulangan. Adapun guru yang memberi nilai hanyalah perantara yang mendefinisikan hasil pengulangan itu.

Ketika membahas ekonomi dan keuangan, Nilai Rupiah selalu bisa ditemukan dengan berbagai metode dan standar yang telah umum digunakan. Setuju atau tidak, Nilai Rupiah semakin menjadi Satuan Riil dalam mendefinisikan pembangunan dan pertumbuhan.

Namun dalam keseharian, mengapa sesulit itu saya mencipta nilai? Menjabarkannya saja masih belum mampu.
Atau...
Seharusnya saya yang memberi Nilai?