Minggu, 29 April 2012

SECOND CHANCE(S)



Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09

Second Chance a.k.a Kesempatan Kedua.. Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa hal ini adalah langka. Bahkan mungkin mustahil didapatkan.
Orang bijak lain mengatakan bahwa orang sukses adalah orang-orang yang memanfaatkan semaksimal mungkin segala macam kesempatan pertama yang datang padanya. Mereka menyebutnya, “Kesempatan Pertama takkan datang untuk kedua kalinya”.

First Step.
First Impression.
Love at the First Sight.
Tiga hal ini mungkin yang sering dipikirkan oleh sebagian besar orang, guna mendapatkan sesuatu sebagai titian awal perjalanan menuju kesuksesan.

First Step. Sebuah lelucon yang sering saya dengar mengatakan, ‘Belajar itu gampang, yang susah itu mengawali belajarnya’.
First Impression. Sebuah kata-kata motivator yang sering saya dengar ketika akan memasuki sebuah dunia baru, entah itu dunia sekolah, perkuliahan, pekerjaan, atau dunia lain yang benar-benar baru bagi saya. Intinya, kesan pertama itu penting dalam mengawali segala hal yang baru. Dalam hal ini, kesan yang baik tentunya.
Love at the First Sight. Sebuah kata-kata klasik yang seringkali kita dengar dari cerita-cerita percintaan, atau pada iklan-iklan kosmetika hingga pasta gigi yang menggambarkan betapa mudahnya seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama. Kok bisa, jatuh cinta hanya dengan melihat di pandangan pertama ya? Hehehe..

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang gagal pada kesempatan pertama? Apakah mereka langsung dapat dikatakan akan gagal pada langkah-langkah selanjutnya di bidang kehidupannya itu?
Apakah orang-orang yang gagal memulai belajar berarti akan gagal selamanya?
Apakah orang-orang yang terlalu ‘biasa’ pada kesan pertama tidak akan mendapatkan kebaikan di bidang yang ia pilih?
Atau mungkin, apakah orang-orang yang terlalu tidak peduli pada pandangan pertama akan kehilangan cinta sejatinya?
Bukankah kegagalan hanyalah sebuah pembelajaran untuk meraih kesuksesan?
Bukankah Thomas Alva Edison pun baru berhasil setelah 999 kali gagal, dan ia gagal di kesempatan pertama?


Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sengaja menunggu kesempatan kedua untuk datang padanya? Yang menyesal ataupun tidak menyesal atas kegagalannya di kesempatan pertama?
Bukankah Tuhan pun memberikan kesempatan yang begitu banyak pada hamba-Nya yang (masih) mau berusaha? (-tidak hanya di kesempatan pertama-)
Bukankah sukses itu tidak hanya pada hasil yang dicapai, tapi lebih kepada bagaimana hasil itu dicapai? Dan sebuah proses itu, tidak hanya terjadi pada kesempatan pertama?
Bukankah Trial and Error adalah cara untuk mencapai kesuksesan?


Bila dijabarkan secara lebih lanjut, tentu akan semakin banyak pertanyaan yang akan muncul. Karena saya adalah korban dari Kegagalan di Kesempatan Pertama, yang sedang mencoba peruntungan di Kesempatan Kedua. Hehehe..

Bagaimana dengan Anda?
Sukseskah Kesempatan Pertama Anda?
Adakah dari Anda sekalian yang juga korban Kegagalan di Kesempatan Pertama seperti saya?
Bagaimana cara Anda memanfaatkan Kesempatan Pertama Anda?
Bagaimana cara Anda memaksimalkan Kesempatan Kedua Anda?


Terima Kasih untuk orang-orang hebat yang telah memberi saya Kesempatan Kedua.
(S. M. A.)

Senin, 16 April 2012

AKU HANYA INGIN EGOIS...



Oleh : Isnendi Yakub : STAN ‘09

Inilah aku, seorang pegawai yang berdedikasi dan siap mengabdi untuk negeri..
Pegawai yang mengagungkan pengabdian, demi makmurnya negeri..
Namun kemudian waktu menghadapkanku pada suatu posisi, di mana sebuah pengabdian tanpa pengakuan membuatku lupa diri..
Pengabdianku seakan tiada berarti
Hingga akhirnya kurelakan dedikasiku, demi sebuah pengakuan sejati..
Naikkanlah gaji kami!
(Inikah arti dedikasi?)

Lihatlah aku, wahai kalian pejabat yang mengaku bermoralitas!
Pekerjaanku selalu kukerjakan dengan penuh profesionalitas..
Segala tindak tandukku menunjukkan betapa aku adalah pegawai berintegritas..
“..dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tugas..”
Sebuah ayat penyelaras bagi sebuah tugas, yang menampakkan peraturan yang tidak tegas
Membuatku terjebak dalam tidak profesionalnya pejabat memberikanku tugas
Tanpa niat dan tak sadar, karier koruptifku pun mulai meretas...
(Integritas yang terjebak atau dijebak?)

Hey kawan..
Cukuplah aku yang menjilat ludahku sendirian
Kebodohanku yang terjebak dalam kata-kata yang mengagungkan kemuliaan
Sebuah pengabdian tak berpengakuan, berujung pada perilaku mengemis kenaikan tunjangan
Tindakan integritas tak berpengalaman, berakhir penjebakan dalam komunitas koruptif pejabat-pejabat penghuni lembah kehinaan

Mereka menamakannya, “Mengabdi Pada Negeri sebagai Pegawai yang Berintegritas”
Sebuah kalimat mulia..
Sebuah pengharapan..
Sebuah cita-cita..

Namun kini, aku hanya ingin menjadi makhluk egois
Tak peduli seberapa besar pengakuan mereka terhadapku!
Tak peduli siapa mereka yang memerintahku!
Tak peduli seberapa tinggi ancaman pengucilan mereka terhadapku!
Yang aku tahu...
Aku hanya tak ingin mengotori tanganku dengan menyentuh meja-meja busuk itu
Aku hanya tak sudi mendekati mereka yang mengajakku berbuat itu
Aku hanya tak rela tubuhku dimasuki sesuatu yang bukan hakku
Aku hanya tak mau rengekan-rengekan pengakuan atas pengabdian itu tersuarakan dari lisanku
Aku hanya ingin egois, untuk diriku sendiri.. dan untuk negeri yang telah memberiku ruang untuk hidup tenteram selalu..

Selasa, 10 April 2012

I JUST WANNA ENJOY THIS, WITH YOU...


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09


Hari ini, hari pertama kami menghadapi UTS terakhir kami di kampus ini. Ya, UTS terakhir yang kami lalui di semester akhir kami, semester 6. Mata kuliah yang diujikan mungkin sedikit unik jika dibanding dengan kampus-kampus lainnya, Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian, atau sering kami sebut KSPK.
Secara detail, sebenarnya saya kurang begitu perhatian dengan mata kuliah ini. Entah karena apa, tapi saya lebih senang menganggap penyebabnya adalah kami hanya akan akrab dengan mata kuliah ini maksimal 2 bulan saja. Pemadatan jadwal yang biasanya 8 kali tatap muka per mata kuliah selama 8 minggu dipangkas menjadi hanya 4 minggu untuk 8 kali tatap muka. Jadi, tiap minggunya kami bertemu dengan mata kuliah ini untuk hitungan 2 kali tatap muka sekali pertemuan selama 4 sks. KSPK ini sendiri mungkin kalau di SMA bisa disamakan dengan mata pelajaran Bimbingan Konseling atau semacamnya, yang bersifat membangun karakter, terutama bagi kami yang akan segera bertemu dengan suasana kerja birokrat yang (katanya) sangat kaku.
Ya, itu sekilas saja tentang KSPK.
Akhirnya pun bertemu mata kuliah ini di hari pertama UTS. Tak usah membahas bagaimana sulitnya atau kurangnya waktu yang saya rasakan saat ujian berlangsung, tapi ada hal lain yang lebih tertanam dalam memori otak saya yang sebatas ini saja.
Pagi sebelum ujian KSPK itu saya dengan iseng mengirim SMS random yang isinya ‘Baca KSPK ini Inspiratif, tapi jadi Destruktif kalo inget bagian mana yang bakal keluar di Essay’.
Tidak usah membahas tentang sisi destruktifnya lah ya, maklum lah namanya juga mahasiswa yang maunya serba instan, belajarnya sedikit tapi doanya banyak, doa semoga yang sedikit itu yang pas keluar di soal. Hahaha..
Lalu apa yang inspiratif? Hmmm... sesuai dengan tujuan mata kuliah ini yakni membangun karakter para calon birokrat, ada salah satu Bab yang membahas khusus tentang Sukses. Makna Suksesn Sejati dibanding dengan makna Sukses yang telah lama menjadi tolok ukur masyarakat luas.
Sukses Sejati dikatakan memiliki 5 indikator utama, yakni Keseimbangan Hidup, Bermanfaat Bagi Orang Lain, Proses yang Konsisten Untuk Mencapai Cita-Cita, Menikmati Kemenangan-Kemenangan, dan Akhir yang Baik.
Dari kelima indikator itu, entah kenapa saya sangat concern kepada hal keempat, yakni Sukses adalah Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil. Kenapa kemenangan kecil? Bukankah orang dipandang sukses ketika ia sudah mencapai sebuah capaian yang tinggi? Semisal kemenangan di tingkat kampus, kota, propinsi, nasional, atau bahkan dunia yang diakui?
Saya mencoba memahami hal ini, bahkan lebih dalam dibanding hal lain di mata kuliah ini. Hehehe..
Betapa tidak, di luar sana banyak sekali orang-orang yang menganggap “kamu belum sukses” dengan berbagai alasan, seperti “kamu tidak lebih sukses dari saya” atau yang paling ekstrem menurut saya adalah ketika seseorang berkata “mana pergerakanmu? Kok Statis aja kayaknya”. Sebuah judgement memang selalu destruktif, tapi kenapa kita tidak menikmati saja saat-saat seperti itu? Seseorang terkadang terlalu menganggap suatu hal sebagai beban, padahal mungkin bila kita siap menikmatinya, hal itu akan menjadi banyak pelajaran bagi kita.
Kembali ke “Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil”. Sebagai kaum muda, maka tidaklah salah bila kita hanya menggapai hal-hal kecil dalam hidup kita. Anggap saja sedang menikmati hidup sembari mensyukuri apa yang telah kita capai. Memang, di luar sana sekarang sudah banyak sekali kaum muda yang membuktikan dirinya mampu sukses dan diakui hingga tingkat dunia, tapi saya yakin, mereka-mereka itu dahulunya adalah orang-orang yang menikmati setiap tahapan yang mengantar mereka menuju kesuksesan itu. Bukankah sesuatu yang besar juga dimulai dari tahapan-tahapan kecil yang membuatnya menjadi besar?
Sebuah teori lain mengatakan bahwa, orang-orang sukses adalah orang yang mampu membagi pengalaman suksesnya bersama orang-orang terdekatnya. Saya yakin, teman-teman yang membaca tulisan ini punya orang-orang terdekat ‘kan? Entah itu keluarga, teman, sahabat, atau pun pacar. Dan pasti sudah sangat sering menikmati kesuksesan bersama mereka ‘kan? Itulah tahapan Sukses Sejati yang sedang dipupuk untuk sebuah Kesuksesan Besar dalam hidup teman-teman semua.

Ya, saya paham sekali bentuk tulisan ini tidak sepenuhnya mampu menggambarkan apa yang saya maksud dengan “Menikmati Kemenangan-Kemenangan Kecil”, atau mungkin tidak jelas apa inti yang ingin saya sampaikan,  tapi setidaknya saya ingin menyampaikan hal yang menurut saya adalah baik.
Untuk teman-teman sekalian yang sempat membaca tulisan ini, nikmatilah setiap kemenangan kalian. Hal-hal kecil dalam berbagai bidang kehidupan yang nantinya akan menjadikanmu manusia besar yang kaya akan pengalaman dan koleksi kemenangan-kemenangan kecil yang bisa dinikmati ceritanya oleh orang lain.
 “Nikmati semua fase dalam kehidupanmu”
“Nikmati segala judgement negatif yang tertuju kepadamu”
“Nikmati semua kemenangan-kemenangan kecilmu bersama orang-orang terdekatmu”
“Nikmatilah hidupmu, apa adanya”

Semoga kesuksesan yang akan kita raih kelak tidak hanya berdasar pada 3K yang paling sering diagung-agungkan orang, yakni Kekayaan, Ketenaran, dan Kedudukan.

Selamat sukses di bidang kehidupan yang kalian pilih!
Selamat menjadi orang yang memberi manfaat bagi orang lain!
Selamat menyusun sesuatu untuk menjadi akhir yang baik!
Karena terkadang, akhir itu lebih baik daripada awal.

J