Minggu, 01 Januari 2012

MALAM PERGANTIAN TAHUN 2011-2012


Oleh : Isnendi Yakub (STAN ‘09)

Malam pergantian tahun kali ini cukup membekas bagiku, dan karena itulah aku coba menuangkannya dalam tulisan ketigaku ini.

Malam tahun baru-an? Entah apa artinya bagiku. Bukan karena fanatik. Tapi lebih karena realistis saja.
Realistis bagaimana? Begini kawan, biar kuceritakan.
Pernah beberapa tahun lalu aku memiliki rasa penasaran tentang arti ‘malam tahun baru’. Ketika itu sebuah stasiun televisi swasta pertama di negeri ini menayangkan tentang “Duet Maut Raja & Ratu Dangdut”. Di malam itu aku yang masih cukup kecil (sekitar usia SD) tidak begit mengerti kenapa ada ‘Raja’ dan ‘Ratu’ dalam dunia musik yang cukup membumi di bumi pertiwi ini. Yah, tapi bukan ini yang akan kuceritakan, kawan.
Malam tahun baru kali itu aku definisikan sebagai perubahan sesuatu yang amat sangat. Ya, mungkin seperti ada perubahan warna langit malam di tepat pukul 00.00, atau ada sedikit ‘getaran’ di bumi, tapi bukan gempa. Dan ketika 00.00 itu datang, di mana semua itu? Tak ada sama sekali perbedaannya, karena aku sudah tertidur sebelum tiba tengah malam itu. Ngokk... haha,
Hal ini terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun. Tiap jam dinding menunjukkan jam 10 atau jam 11 malam, entah kenapa aku selalu tertidur begitu saja dan baru bangun lagi ketika suara-suara petasan itu bersautan tengah malam. Ya, hanya saut-sautan ledakan petasan dan raungan terompet yang berisik itulah yang terjadi di setiap malam pergantian tahun yang kualami. Tak ada perubahan warna langit, ‘getaran’ bumi, atau mungkin sekadar hujan yang turun dari langit secara serempak dan mematikan seluruh petasan itu. Hehehe..
Coba sebentar kita amati, setidaknya ada dua jenis bunyi yang menggelegar di malam tahun baru tiap tahunnya. Ya, itu adalah suara petasan dan terompet. Mereka berdua seolah adalah asesoris wajib di malam tahun baru. Mungkin bagiku hanya ada satu pertanyaan bagi masing-masing benda tersebut.
-          Berapa harga petasan itu?
-          Sudah siap mendengar ‘terompet’ sangkakala ya?
Silakan dijawab dan tafsirkan sendiri kawan.. J
Jadi, sudah sangat jelaslah yaa kenapa malam tahun baru tak pernah berarti bagiku. J
:: setiap orang berhak berfikir sesuai apa yang diinginkannya ::

Bagaimana dengan malam pergantian tahun 2011-2012 ini? Hmm.. kita kembali ke judul tulisan ini ya kawan.
Berbagai acara disajikan televisi-televisi swasta yang tujuannya adalah ‘memanjakan’ para pemirsa yang mungkin tak sempat keluar rumah sepertiku ini. Hehe.. Yuk kita rangkum satu-per-satu..
1.      Sebuah ‘pertarungan’ antara dua stasiun televisi swasta yang biasanya bertarung di bidang persinetronan dan acara musik di pagi hari, yang kali ini menampilkan “Manusia Beton” dan “Manusia Semen”. Kedua acara utama ini disuguhkan di satu tempat yang berada di utara Jakarta, ya, Pantai Karnaval dan Pantai Festival Ancol.
2.      Sebuah tontonan menarik berupa penayangan film bioskop yang ‘Pertama tayang’ di TV.
3.      Ada juga yang masih setia menayangkan laga Barclays Premier League.
Well.. cukup menarik lah bagi yang tak sempat keluar rumah. Kalaupun sempat keluar rumah, mungkin ada baiknya jika pergi ke Tugu Monas untuk mengikuti Tabligh Akbar menyambut Tahun Baru 2012. What? Tabligh Akbar untuk menyambut tahun baru masehi? Hmm.. silakan berpendapat masing-masing yaa. J

Aku sendiri malam itu ada keperluan untuk mengantarkan sesuatu ke rumah seorang kawan. Ya, rencana awalnya memang hanya sebentar saja, hanya mampir. Tapi ternyata sampai pukul 22.15 aku baru pulang. Hmm.. mungkin terbawa suasana malam liburan jadi kelamaan berbincang. Hehehe,,
Yang aku cukup terkejut dengan malam itu adalah, ketika aku berangkat segera setelah maghrib ternyata di perjalanan aku tak menemui kemacetan yang amat berarti. Tak seperti biasanya ketika aku keluar malam minggu yang sudah terjebak macet sejak 1.5 Km keluar dari rumah.
Ada apa ya? Mungkin karena orang-orang lebih tertarik keluar rumah di atas jam 9 malam, begitu pikirku.
Mungkin karena perasaan itu juga akhirnya aku terlalu lama mengobrol sampai selarut itu.
Oke, sudah waktunya pulang.
Perjalanan keluar rumah kawan itu pun tak macet seperti yang kupikirkan. Alhasil, timbullah rasa dalam bathinku tentang ‘Ah, tahun baru tetap saja sepi begini, hahaha..’. Dan, tak sampai 1 Km dari rumah kawanku itu, ternyata jalanan arah pulang ditutup, perboden kalau kata orang betawi. Jadilah aku harus memutar ke pusat perbelanjaan. Dan berujung pada sebuah pertigaan yang kedua arahnya menuju ke satu arah. Arah kiri bagiku, dan arah kanan bagi yang berseberangan arah dariku.
Kurang lebih satu jam kendaraanku tak bergerak. Untung sudah sejak awal macet tadi kumatikan mesin motorku.
Sambil ‘berhenti’ itu aku memandangi sekitar. Betapa para orang tua muda mengajak serta anak balita, bahkan bayinya untuk bermalam tahun baruan. Apa anak-anak itu tidak mengantuk ya? Sudah jam 11 malam lho ini.
Beberapa yang lain terlihat bergerombol dalam rombongan. Ah, kalau saja aku jalan kaki saat itu, mungkin aku tak akan ‘terdiam’ seperti ini pikirku.
Singkat cerita, di tengah kerumunan manusia beserta suara motor yang masih menyala itu, suara-suara petasan pun sudah mulai diledakkan. Padahal masih jam 11 malam.
Setelah sejam-an aku terdiam dalam macet, akhirnya lima belas menit kemudian aku telah sampai di rumah. Huh, perjalanan yang biasanya hanya lima belas menit kok bisa jadi 1 jam lebih dua puluh menit begini yaa..
Okelah, yang penting sudah di rumah.
Tak lama tengah malam pergantian tahun baru itu pun tiba. Letupan petasan dan raungan terompet tahun baru bergemuruh di lingkungan rumahku yang berlangsung sampai jam setengah satu malam. Hey, di perumahan saja seperti ini ya gemuruhnya.
Karena terlalu berisiknya suara gemuruh itu, aku yang belum bisa tidur justru membuka laman social network yang cukup sering kubuka. Dan apa yang terjadi? Hmmmm... bermacam-macam status dibagikan seolah menggambarkan suasana hati mereka malam ini. Banyak yang mengucapkan ‘Ha**y N*w Ye*r’ dengan segala harapannya, ada juga yang tetap menggalau dengan membagikan resolusi yang tak tersampaikan di 2011 untuk digapai di 2012. Banyak juga yang menghujat karena menganggap malam ini tak ada bedanya dengan malam lain, dan ada sebuah status yang cukup menarik perhatianku.
‘Udah kayak di jalur gaza aja nih, banyak ledakan’
Hmmm.. aku tak bisa berkomentar untuk hal yang satu ini. Tapi status ini cukup membuatku terdiam semalaman.
Ya, inilah arti malam tahun baru bagiku. Yang lalu, dan yang malam itu kurasakan.

Semoga semuanya tidak hanya sekadar menghambur-hamburkan uang.
Semoga selalu ada ketakutan kita pada suara sangkakala kelak.
Semoga semuanya makin membaik dan makin menyenangkan selanjutnya.

Jumat, 23 Desember 2011

Ini Harga Pertama Kita



Oleh: Isnendi Yakub (STAN ‘09)

Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah.
Tiga lembar uang Lima Puluhan bergambar I Gusti Ngurah Rai.
Itulah harga pertama kita.

Berasal dari kas negara, yang tentunya juga berasal dari rakyat yang tiap tahun beberapa di antara kita bertugas memungut pajaknya. Dengan perasaan tidak ikhlas, terpaksa, atau mungkin dengan harapan besar yang mereka niatkan untuk membantu pembangunan bangsa.
Ini terasa tidak begitu berharga. Di antara kita, mungkin tiga lembar itu dapat dihabiskan cukup dalam satu hari, satu malam, atau bahkan satu jam. Sangat wajar untuk tiga bulan kehidupan kita? Ya, mungkin saja.
Sudah nyaris tiga tahun kita belajar mengenai keuangan negara. Beberapa permasalahan kita diskusikan bersama di dalam kelas maupun di luar kelas. Beragam opini kita mengenai kondisi negara sering diperdebatkan. Beragam upaya untuk perbaikan kondisi ini pun dengan lantang kita ucapkan.
Pajak sebagai komponen utama pendapatan negara untuk membiayai segala keperluan negara. Belanja negara untuk pembangunan berbagai sektor. Pembiayaan diupayakan semaksimal mungkin untuk ‘menopang’ keuangan negara di saat penerimaan belum terealisasi penuh. Dan yang jangan kita lupakan adalah, salah satu komponen belanja itu juga ada yang disiapkan untuk membiayai perkuliahan di sini, di kampus STAN.
Mau mencoba bermain hitung-hitungan berapa yang sudah kampus ini sediakan untuk menunjang perkuliahan kita? Ya, silakan saja lakukan. Dan apa yang akan kita temukan? Kepuasan kah? Tentu ada yang berkata ‘Tidak’. Karena memang sifat dasar manusia yang selalu tidak puas terhadap semua yang mereka butuhkan. Kita juga pernah mempelajarinya di Pengantar Ilmu Ekonomi bukan? Dan bagi yang berkata ‘Iya’, berbahagialah mereka yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. J
Kembali ke tiga lembar lima puluhan ini. Untuk apa sudah kita habiskan? Berapa lama kita habiskan? Tentu untuk kebutuhan kita masing-masing lah, toh ini hak kita. Ya, tentu ini pun jawaban yang tidak dapat dipersalahkan.
Okelah kalau begitu (Warteg Boys-Red).
Tiga lembar lima puluhan itu tentu tak sebanding dengan kebutuhan kita selama tiga bulan. Tak sebanding dengan kiriman uang dari orang rumah. Tak sebanding dengan pekerjaan sambilan kita. Lantas, apa kemudian kita malah bermalas-malasan karena hanya sebesar itu ‘harga’ kita?
Tiga lembar lima puluhan itulah hak kita.
Rakyat di luar sana telah menjalankan kewajibannya yang pada akhirnya pun menjadi layanan bagi kita dalam menjalani perkuliahan. Sebelum kita melayani mereka, bahkan mereka yang sudah melayani kita terlebih dahulu. Hey, kita dilayani rakyat?!!
Berdasarkan hukum, memang rakyat berkewajiban untuk membayar pajak.
Berdasarkan hukum, memang negara berhak untuk melakukan pembangunan SDM di bidang keuangan. Mahasiswa STAN yang dididik negara untuk menjadi pegawai keuangan yang handal di dunia kerja.
Berdasarkan hukum juga, kita diberikan hak untuk menikmati layanan kampus secara free (dibayarin rakyat).
Berdasarkan moral sebagai aturan tidak tertulis, kita juga punya kewajiban untuk membalas layanan itu dengan syukur terhadap pencipta dan senantiasa menjaga niat untuk bisa belajar dengan baik. Menjaga niat untuk menjadi pelayan terbaik bagi masyarakat. Menjaga niat untuk mengawal keuangan negara. Menjaga niat untuk konsisten dalam menjalankan tugas. Menjaga niat untuk tidak merengek meminta hak melulu.
Jangan mengeluh dengan besaran tiga lembar lima puluhan itu!
Bijaklah untuk membelanjakan tiga lembar lima puluhan itu untuk menjadi cerita yang membanggakan bagi anak cucu kita!

:: Tiga lembar lima puluhan itulah hak kita saat ini! ::

Selasa, 20 Desember 2011

Pro Kontra Gerakan AntiKorupsi di Kalangan Mahasiswa


Perkembangan kasus-kasus korupsi yang semakin massive akhir-akhir ini menimbulkan banyaknya opini dan gerakan-gerakan yang berkembang dalam berbagai lapisan masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. Ada yang menentang dengan berbagai aksi demonstrasi dengan turun ke jalan, ada juga yang lebih memilih jalur edukasi untuk mengupayakan pencegahan korupsi, dan tak sedikit juga yang memilih untuk diam saja dengan alasan “Kita masih mahasiswa, belum tahu pasti keadaan di tempat kerja. Jadi lebih baik jangan sok antikorupsi dulu. Kalo nanti justru kita yang malah korupsi bagaimana?”

Dinamika yang berkembang di kalangan mahasiswa ini memang wajar saja di negara demokrasi, karena setiap orang sah-sah saja untuk berpendapat. Terlebih lagi, opini-opini ini tidak muncul begitu saja dari generasi-generasi masa depan ini sehingga saya rasa ketiga opini ini layak untuk saya angkat pada tulisan kali ini.

Bismillaahhirrohmaanirrohiim...

Kelompok pertama adalah yang paling aktif melakukan perlawanan terhadap kasus korupsi dengan aksi turun ke jalan sebagai perwujudan keinginan masyarakat yang mereka rangkum menjadi visi untuk disuarakan secara lebih lantang. Semangat antikorupsi berupa orasi massa sebagai bentuk perlawanan kasus korupsi, biasanya juga dilengkapi dengan spanduk dan atribut -bendera, ikat kepala, hingga jas almamater- yang menyemarakkan aksi mereka di jalan. Terkadang juga dibumbui dengan aksi-aksi teaterikal sebagai penggambaran penanganan kasus korupsi di negeri ini. Namun tak jarang, aksi ini tak diawali dengan kajian serius tentang kasus korupsi dan cara memberantasnya terlebih dahulu.

Kelompok kedua lebih mengambil sisi edukasi untuk pencegahan kasus-kasus korupsi. Kegiatan-kegiatan berupa kajian antikorupsi, kuliah antikorupsi, ataupun dengan seminar-seminar antikorupsi yang mendatangkan pembicara dari berbagai lembaga antikorupsi di Indonesia. Kelompok ini memfokuskan dirinya untuk melakukan tindakan pencegahan, agar di masa mendatang kasus korupsi tak lagi ditemukan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena tidak banyak melakukan aksi turun ke jalan, kelompok ini pun sering dinilai oleh kalangan mahasiswa lain sebagai kelompok yang passive serta cenderung sok suci karena mempelajari kasus korupsi padahal belum pernah mengalami berada dalam lingkungan yang menghalalkan korupsi.

Kelompok ketiga dapat dikatakan sebagai kelompok yang paling pasif melakukan tindakan perlawanan terhadap tindak pidana korupsi. Mahasiswa yang tergolong dalam kelompok ini lebih memfokuskan dirinya sendiri untuk tidak melakukan perlawanan, karena dalam dirinya masih ada keraguan terhadap kemampuannya sendiri ketika nantinya masuk ke dalam suatu komunitas kerja yang menghalalkan tindakan korupsi secara ‘berjamaah’. Kelompok ini sebenarnya  cukup reaktif terhadap kasus-kasus korupsi yang ada dalam pemberitaan di media -cetak maupun elektronik- , namun hanya sebatas memperbincangkan saja tanpa melakukan tindakan perlawanan. Sebagian orang dari kelompok ini berkeinginan untuk melakukan perlawanan, namun masih ragu-ragu dengan kemampuan dirinya sehingga pada akhirnya kembali pasif untuk melawan kasus korupsi yang terjadi.

Well.. tulisan ini hanyalah penggambaran dinamika yang terjadi di kalangan mahasiswa terhadap kasus korupsi di Indonesia. Tentunya sah-sah saja apapun yang dilakukan mahasiswa untuk melakukan perlawanan terhadap kasus korupsi di Indonesia, karena dengan intelektualitas mahasiswa yang sudah dapat dikatakan dewasa sehingga apapun yang dilakukannya telah dipikirkan secara matang dan direncanakan tidak dengan asal-asalan.

Ada sebuah perkataan dari seorang petinggi KPK yang sampai sekarang selalu terngiang dalam benak saya, yakni..

“Anda salah jika hanya mengandalkan KPK untuk memberantas kasus korupsi di Indonesia. Karena korupsi hanya bisa diberantas dengan tindakan reaktif dari berbagai elemen masyarakat Indonesia.”

Kita semua tentu menginginkan negeri ini akan menjadi negeri yang bebas dari korupsi di masa yang akan datang. Dan itu akan menjadi nyata jika kita semua dapat berperan dalam berbagai bidang untuk melawan tindak pidana korupsi.

“MEMAHAMI UNTUK MELAWAN KORUPSI!”