Oleh: Isnendi Yakub (STAN ‘09)
Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah.
Tiga lembar uang Lima Puluhan bergambar I Gusti Ngurah Rai.
Itulah harga pertama kita.
Berasal dari kas negara, yang tentunya juga berasal dari rakyat yang tiap tahun beberapa di antara kita bertugas memungut pajaknya. Dengan perasaan tidak ikhlas, terpaksa, atau mungkin dengan harapan besar yang mereka niatkan untuk membantu pembangunan bangsa.
Ini terasa tidak begitu berharga. Di antara kita, mungkin tiga lembar itu dapat dihabiskan cukup dalam satu hari, satu malam, atau bahkan satu jam. Sangat wajar untuk tiga bulan kehidupan kita? Ya, mungkin saja.
Sudah nyaris tiga tahun kita belajar mengenai keuangan negara. Beberapa permasalahan kita diskusikan bersama di dalam kelas maupun di luar kelas. Beragam opini kita mengenai kondisi negara sering diperdebatkan. Beragam upaya untuk perbaikan kondisi ini pun dengan lantang kita ucapkan.
Pajak sebagai komponen utama pendapatan negara untuk membiayai segala keperluan negara. Belanja negara untuk pembangunan berbagai sektor. Pembiayaan diupayakan semaksimal mungkin untuk ‘menopang’ keuangan negara di saat penerimaan belum terealisasi penuh. Dan yang jangan kita lupakan adalah, salah satu komponen belanja itu juga ada yang disiapkan untuk membiayai perkuliahan di sini, di kampus STAN.
Mau mencoba bermain hitung-hitungan berapa yang sudah kampus ini sediakan untuk menunjang perkuliahan kita? Ya, silakan saja lakukan. Dan apa yang akan kita temukan? Kepuasan kah? Tentu ada yang berkata ‘Tidak’. Karena memang sifat dasar manusia yang selalu tidak puas terhadap semua yang mereka butuhkan. Kita juga pernah mempelajarinya di Pengantar Ilmu Ekonomi bukan? Dan bagi yang berkata ‘Iya’, berbahagialah mereka yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. J
Kembali ke tiga lembar lima puluhan ini. Untuk apa sudah kita habiskan? Berapa lama kita habiskan? Tentu untuk kebutuhan kita masing-masing lah, toh ini hak kita. Ya, tentu ini pun jawaban yang tidak dapat dipersalahkan.
Okelah kalau begitu (Warteg Boys-Red).
Tiga lembar lima puluhan itu tentu tak sebanding dengan kebutuhan kita selama tiga bulan. Tak sebanding dengan kiriman uang dari orang rumah. Tak sebanding dengan pekerjaan sambilan kita. Lantas, apa kemudian kita malah bermalas-malasan karena hanya sebesar itu ‘harga’ kita?
Tiga lembar lima puluhan itulah hak kita.
Rakyat di luar sana telah menjalankan kewajibannya yang pada akhirnya pun menjadi layanan bagi kita dalam menjalani perkuliahan. Sebelum kita melayani mereka, bahkan mereka yang sudah melayani kita terlebih dahulu. Hey, kita dilayani rakyat?!!
Berdasarkan hukum, memang rakyat berkewajiban untuk membayar pajak.
Berdasarkan hukum, memang negara berhak untuk melakukan pembangunan SDM di bidang keuangan. Mahasiswa STAN yang dididik negara untuk menjadi pegawai keuangan yang handal di dunia kerja.
Berdasarkan hukum juga, kita diberikan hak untuk menikmati layanan kampus secara free (dibayarin rakyat).
Berdasarkan moral sebagai aturan tidak tertulis, kita juga punya kewajiban untuk membalas layanan itu dengan syukur terhadap pencipta dan senantiasa menjaga niat untuk bisa belajar dengan baik. Menjaga niat untuk menjadi pelayan terbaik bagi masyarakat. Menjaga niat untuk mengawal keuangan negara. Menjaga niat untuk konsisten dalam menjalankan tugas. Menjaga niat untuk tidak merengek meminta hak melulu.
Jangan mengeluh dengan besaran tiga lembar lima puluhan itu!
Bijaklah untuk membelanjakan tiga lembar lima puluhan itu untuk menjadi cerita yang membanggakan bagi anak cucu kita!
:: Tiga lembar lima puluhan itulah hak kita saat ini! ::
