Minggu, 16 November 2014

Dia yang akhirnya terpilih... (udah gitu aja)

Akhirnya hari itu pun akan tiba...
Penantian kami akan segera berujung pada hari itu.
Hari pernikahan kami..

Bukan hal yang mudah bagiku untuk menetapkan pilihan yang akan menjadi keputusanku menatap hidup bersama seseorang yang beruntung mendapatkanku. Aku yang sangat keras, cenderung tak tertebak dan antinegosiasi pun akhirnya takluk pada wanita beruntung yang mampu mengendalikanku ini. Seorang yang sangat egois bisa menurunkan taraf keegoisannya untuk coba memahami sisi emosionalku. Seseorang yang belum lama kukenal, namun ketika berbincang mengenai apapun bisa mengalir tanpa harus melakukan rekayasa agar terlihat nyambung dan akrab. Seseorang yang kurang dari 7 hari lagi (insya Allah) akan menjadi istriku.

CERITA ITU DIMULAI BEGITU SAJA

Banyak teman yang bertanya karena bingung. Tak sedikit juga yang bahas tentang waktu yang terlalu dini bagi kami untuk memhbuat keputusan ini. Apalagi bila dilihat dari sejarah hubungan kami dengan yang dulu-dulu yang jauh lebih lama dari yang sekarang. Kenal Desember 2013, (akan) menikah November 2014.
Rasanya jika kami mau menjelaskan seluruh kisahnya, maka kesimpulannya adalah: Jodoh pasti bertemu. Hahaha..

Jadi begini kawan...
Adakah yang masih ingat pelajaran sejarah tentang terbentuknya organisasi ASEAN? Masih ingat tentang uraian semacam ini: 'adanya persamaan nasib dan sejarah di antara bangsa di lingkungan Asia Tenggara...'?
Ya, hal itu juga yang terjadi pada kami, adanya persamaan nasib sebagai jones (jomblo nestapa), yang bercita-cita, dengan siapapun akan berhubungan lagi, akan langsung ke tahap yang serius. Hahaha...

 SEBUAH KALIMAT YANG MUNCUL BEGITU SAJA

Aku adalah seorang pria yang sangat menjaga privasiku. Menutup rapat perbincangan apapun yang mengarah pada urusan pribadi yang menurutku tak boleh seorang pun tahu.
Suatu ketika kami berbincang, tanpa sengaja dia membuatku cukup marah dan mengucapkan hal yang biasa kuucapkan ketika kurasa lawan bicaraku mencoba masuk ke area pribadiku: "You don't know me yet, sir'.
Anehnya perbincangan itu tetap berlanjut tanpa ucapan 'Ups, sorry' atau semacamnya. Dia justru bisa membuatku seolah ingin mengetahui isi hatinya. Dan dia yang sekarang berucap, "You don't know me yet, sir'. Tak mau kalah, aku justru membalas "So, let me know". Kalimat ini yang membuka pintu privat kami satu sama lain. Dia menceritakan dan memperkenalkanku pada keluarganya, aku mencoba memberinya ruang untuk masuk ke cerita keluargaku.

PERBINCANGAN ITU DIMULAI BEGITU SAJA

Pada sebuah perjalanan yang kami mulai cukup pagi sekali. Saat aku berpikir untuk sarapan nanti saja kubeli di jalan. Ternyata dia sudah membuatkanku seporsi sarapan, nasi goreng lengkap dengan ayam gorengnya untuk kami makan bersama di atas bis itu. Bagiku hal ini aneh karena sudah lama juga aku tidak mengenal wanita yang masih mau masak. Hahaha..
Singkat cerita di perjalanan pulang aku pun bertanya: "Gimana caranya mendapatkan hati kamu?" #tsaaaaaahhhh #eaa #eaaaa
Berlanjutlah perbincangan itu sampai sekarang ini. Hehehe..
Gak romantis ya? Yaudahlah yaaaa...

PEMILIHAN TANGGAL 23 NOVEMBER 2014

23 itu dari tanggal lahir dia, 23 Januari 19xx
November itu dari bulan lahirku, 20 November 19xx
2014 itu karena kami ingin menyegerakan niat baik kami di tahun ini.
As simple as people guess.

DIA ADALAH SHINTA PARAMITA

dia yang menaklukkanku.
dia yang mengajariku mengelola emosiku.
dia yang menurunkan tingkat egoismenya untuk memahamiku.
dia yang memasak untukku.
dia yang mengajariku cara melipat plastik bekas.
dia yang mengajariku cara melipat baju kotor.
dia yang mengajakku benar-benar mengenal alam.
dia yang mengatakan 'yes' pada peminangan pertamaku.
dia yang sibuk mengatur semua hal terkait pernikahan kami.
dialah calon istriku. Shinta Paramita.



Minggu, 29 September 2013

LPDP: AWALNYA CUMA ‘NUMPANG LEWAT’..

LPDP: AWALNYA CUMA ‘NUMPANG LEWAT’..
Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09 
Me - Isnendi Yakub

Sebuah kebanggaan tentunya bisa berada di sini. Awalan yang setengah hati ketika melamar ke kantor ini ternyata mampu tumbuh menjadi sebuah kecintaan yang berdampak besar bagi hidup saya. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tumbuh menjadi solusi bagi banyak mimpi anak bangsa yang selama ini selalu saya ragukan bisa terwujud di negeri ini. Saya Isnendi, menuliskan hal ini untuk kepentingan kawan-kawan yang masih saja bertanya: “Mau di kemanakan negeri ini kalau pemerintahnya saja tidak peduli pada mimpi-mimpi anak bangsa?”
Kedatangan saya di awal lembaga ini didirikan dan masih berjumlah 13 orang PNS ketika itu hanya saya anggap sebagai pengisi waktu luang sebelum akhirnya ditempatkan pada instansi yang seharusnya saya ditempatkan. Sebuah perkataan seorang kawan saya saat berangkat menuju kantor ini sangat saya camkan sampai saat ini: “Kita di sini untuk mengabdi”. Ya, pengabdian nyata untuk seorang anak yang selalu tidak percaya bahwa negeri ini masih punya harapan untuk mewujudkan mimpi bangsa. Sebuah kalimat yang akan selalu menjadikan alasan bagi saya tentang “Untuk apa saya di sini?”.
Sebuah perkataan dari seorang LPDP 1 ketika pertama kali menyambut kami juga masih saya ingat: “Lembaga ini punya cita-cita yang tinggi. Kita bekerja bukan untuk diri kita sendiri. Bayangkan berapa orang bibit bangsa yang terganjal masalah biaya untuk melanjutkan cita-cita mereka akan merasa sangat terbantu dengan layanan yang akan diberikan LPDP.”
Satu kalimat yang saya garis bawahi di sini. “Kita bekerja bukan untuk diri kita sendiri”.
Perlahan namun pasti, pertumbuhan lembaga ini mulai menunjukkan perkembangannya. Jumlah pegawai mulai bertambah. ‘Seleksi alam’ pun mulai terasa. Ada yang datang dan juga tak sedikit yang pergi. Beberapa kali harus mengucapkan selamat jalan kepada kawan-kawan yang pernah punya andil besar di lembaga ini tidaklah mudah bagi saya. Kerja sama antar-partner kerja yang sudah tumbuh secara alami harus kembali dimulai dari awal lagi. Emosi yang sudah terjalin harus kembali tak stabil. Seorang anak muda seperti saya tak jarang merasa ini semua tidaklah adil. Namun mereka berkata: “Inilah dunia kerja”. Baik.. jika inilah mau kalian..
Ada sebuah keterkaitan antara ketiga hal ini: Pengabdian, Bekerja bukan untuk diri sendiri, dan ‘Seleksi Alam’.
Sejatinya, sebuah pengabdian akan selalu menghasilkan sesuatu yang membuat diri kita merasa tidak nyaman. Keinginan mendapatkan penghargaan ataupun sedikit pujian adalah kecacatan sebuah pengabdian. Kesepian karena ditinggalkan beberapa partner kerja melalui proses ‘seleksi alam’ adalah ujian kesetiaan pada sebuah pengabdian. Seberapa kuat diri kita mengabdi tanpa adanya penghargaan akan semakin diuji dengan seringnya kesepian datang karena kepergian kawan-kawan yang sudah terlanjur merasa dekat secara personal.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana untuk senantiasa menjaga niat di dalam hati untuk mendirikan lembaga ini secara lurus. Membangun sistem yang ideal dengan berbagai hambatan yang ada disertai upaya meminimalisasi Crash antar-pegawai. Menjaga nama baik lembaga dengan tidak saling lempar tanggung jawab kepada seseorang ataupun bagian tersendiri sehingga terkesan ‘bola tak lagi ada di tangan kita’. Memposisikan diri sebaik mungkin, tak hanya mau mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya saja, tapi juga bersedia menjadi obat penawar ketika rekan kerja berada dalam kepercayaan diri yang melemah.
Sebuah pengabdian bukanlah sebuah perjuangan mencapai sebuah kepentingan.
Sebuah pengabdian bukanlah ajang saling unjuk kemampuan.
Sebuah pengabdian tak akan pernah mengharapkan balasan.
Sebuah pengabdian tak akan pernah memperhitungkan pengorbanan.
Sebuah pengabdian adalah rasa cinta yang diwujudkan dalam perbuatan yang tak pernah mengenal kata lelah untuk selalu berbuat, berusaha, dan terus berusaha menjadikan yang baik menjadi lebih baik. Selalu menjadi solusi bagi rekan kerja ketika kebuntuan menyapanya.
Akan selalu saya ingat ketika saya merasakan titik terjenuh itu, ada orang-orang yang dengan setia menjadi pendengar yang baik bagi saya. Menawarkan solusi-solusi yang seringkali saya muntahkan begitu saja. Tapi support yang ada tak kunjung memudar. Sebuah motivasi yang mengingatkan saya tentang pengabdian. Sebuah posisi yang mungkin paling cocok untuk saya yang akhirnya saya sadari adalah: Saya bukan seorang Performer, tapi saya siap mengisi sendi-sendi vital dalam tulang punggung organisasi agar lembaga ini tetap bisa berdiri dengan tegak.
Tak perlu pujian. Tak perlu balasan. Hanya sebuah perkembangan organisasi yang membaik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebanggaan yang tiada tara dalam diri saya. Seorang yang dahulunya hanya bisa menuntut pemerintah, kini harus berdiri sejajar dengan pemerintah untuk menjawab tuntutan-tuntutan saya itu. Sebuah penghargaan tertinggi ketika pada saatnya nanti saya bisa melihat senyuman-senyuman pemuda-pemudi negeri yang terjawab impian dan cita-citanya melalui layanan LPDP.
LPDP yang awalnya Cuma ‘numpang lewat’, menjadi rumah kedua bagi saya untuk turut serta mewujudkan mimpi-mimpi para generasi muda pelurus sejarah bangsa.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang baik di kantor ini. Mereka adalah Fahdi, Amri, Bobby, Yasin, Rohmat, serta Ermy Multiyarti.
Fahdiansyah Putra
Khairul Amri Dalimunthe
Bobby F. Sembiring
M. Yasin Pratama
Rohmat Hidayatullah

Thanks for teaching me about this, guys.
Salam Sukses untuk Ermy yang pernah menjadi partner terbaik saya selama ini.
See you on Top, Er!
Ermy Multiyarti


Sabtu, 10 Agustus 2013

MUDIK 2013

Oleh: Isnendi Yakub - STAN '09

Waw.. ini pertama kalinya gw ngisi blog ini dg tulisan dr aplikasi sticky notes! Gw bertekad, pokoknya tulisan ini mesti sukses terposting d blog gw bgmana pun caranya! 

Well.. skrg gw cm mau cerita aj ttg perjalanan mudik gw tahun 2013 M a.k.a 1434 H ini.
Mudik bagi sebagian besar org Indonesia memiliki makna yg dalam. Mulai dari mempererat tali silaturahmi dg keluarga di kampung, sekedar ikut2an keramaian yg ada, atau mgkn jg ad yg berniat utk memperbaiki link yg ada utk memperluas jaringan-jaringan ukhuwah. Mulia mulia aja sih sebenernya. Dan mgkn jg ad yg memiliki niat selain yg gw sebutin td, itu sah sah aja kan.

Mudik bagi keluarga gw sendiri bukan merupakan hal yg baru sekaligus bukan hal wajib utk dijalanin tiap tahunnya. Wajarlah, sbg anak seorang buruh pabrik gini susah bgt buat cari waktu senggang utk mudik. Masa libur bapak yg kdg baru dimulai pas malam takbiran dn udh harus masuk lagi H+2 lebaran bikin kami mau gak mau cm bs mudik 3 hari aja (1hr brgkt, 1hr lebaran, 1hr pulang).
Beruntung skrg bapak udh pensiun, udh tahun ketiga sejak 2011 kami mudik dg lebih santai. Tapi tetep aja ad yg beda. Kl orang2 mudik utk berkunjung k rmh kakek-nenek, kluarga gw mudik mengunjungi sbuah rumah tua tempat mbah-mimi hidup yg skrg dimiliki kluarga kami. Kebayang gak sih rumah tua yg cm 1 tahun sekali kami datangi ini kaya apa? haha.. Jangan mikirin seramnya ya, krn kluarga kami udh kebal sm hal itu. Yg kami dapati tiap mudik 3 tahun terakhir ini adl rumah kosong yg mesti dibersihkan dulu sblm bs kami tinggalin utk 2-4 hr ke depan di sini. Singkat kata, kalo org2 kebanyakan disambut dg org tua dn handai taulan, kami justru msh mesti bersih2 dulu sblm menyambut saudara2 yg terbiasa menjadikan rmh ini sbg basecamp utk bersilaturahmi keluarga besar. Nice, huh? :)

Mudik 2013 ini slain bertujuan utk mempererat tali silaturahmi dg keluarga d kampung pun jg bermakna 'mengumpulkan' keluarga kecil kami. Setahun belakangan ini praktis kami jarang sekali berkumpul secara lengkap begini. Bapak yg msh sibuk narik angkot pascapensiun, Aa yg kerja kdg plg malem, Adik yg jg mulai sibuk dg tugas2 kuliah, plus gw yg plg jaarang dirumah. Bahkan Ramadhan tahun ini cm gw lewatin 3 hr utk buka puasa dirumah. Ibu dn bapak jd kaya pengantin baru krn selalu buka puasa cuma berdua dirumah. 

Next Day...

Hr ini lebaran, kaya standarnya ummat islam yg lain pasti diawali dg pergi ke masjid utk shalat ied, makan makanan khas daerah masing2 sambil silaturahmi. Sdikit ngeluangin wkt buat jalan2 ke tempat wisata dg macet2an yg panjaaang. Haha, bagi gw itu udh gak lagi gw jalanin.

Hari ini ya gw shalat Ied di masjid agung. Ya gw silaturahim ke sanak famili. Ya jg ziarah. Tapi gak sempet buat jalan2 krn maceeettttt. Dan ky yg td gw blg, rmh mbah-mimi ini basecampnya sodara2 kl mau silaturahim. Tanpa ad makanan khas yg kami sediain, toh mereka akhirnya yg bawa makanan utk keluarga gw disini. Ahahaha.. Blm lagi td siang bapak mesti naik genteng lagi buat ngecek genteng yg kt tetangga ad yg bocor kmrn.
Ngomong2 ttg 'kata tetangga ttg rmh ini', ad byk laporan ttg keanehanrmh ini buat mereka tp gak aneh buat kami. Beberapa tetangga melapor ke sanak famili kami disini, katanya rmh ini srg rame tiap malem, byk suara anak kecil lg main2 dn seolah ngobrol2 d kamar depan. Entah itu benar atau gak, tp memang rmh ini gak lagi ditempati sejak kakek-nenek gw wafat. Dn beberapa saudara jg gak berani tuh tiap kami ajak nginap disini pas musim lebaran ky gini. Padahal ya, gw pernah mimpi ketemu sm kedua almarhum dn gw gak takut sama sekali, malah seneng, seneng banget!

Mbah yg seumur hidupnya mengabdi di bidang pendidikan, dr mulai jd guru, kepsek, sampe pernah jd penilik sekolah pgn banget gw jd PNS ky beliau. Tp sejak kecil krn bapak gw seorang buruh, gw jd gak pernah minat tuh jd PNS. Sblm akhirnya gw diterima di STAN dn mulai mengarahkan hati gw buat ngabdi. Tp semua itu telat, krn saat gw diterima di STAN mbah sm mimi udh wafat. Kebayang kn gimana senengnya gw ketemu mereka di mimpi? Bahkan gw sampe bilang "Mbah, Mimi, iis udh mau jd PNS ky mbah nih!" Tp gak ada jawaban apa2 selain senyum dr mereka yg pake pakaian serba putih di mimpi itu. (kdg gw nyesel krn d mimpi itu gw gak sempet meluk mereka). Yaa begitulah kira2 knp gw slalu pgn nginep drmh ini apapun kondisi rumah ini. Hehehe..

Next Chapter..

Keanehan lain..
Seumur2 gw mudik, gak pernah ngalamin yg aneh ky gini nih. Sejak kecil gw tau lah bbrp temen SD, SMP, SMA, STAN yg emg biasanya mudik k cirebon, atau emang org asli cirebon. Tp gak pernah sekali pun gw ketemu sm mereka disini. Nah tahun ini beda. Bedaaa bgt.
H-1 lebaran kmrn, sengaja gw ajak ortu buat jalan2 aja di Cirebon Super Blok. Iseng aja gt. Eh pas lagi muter2 ketemu sm Ayu Miftah Amelia. Temen kantor gw yg udh sejak april lalu gak sekantor lagi yg bhkan nyaris lose contact sama sekali (ini salah gw sih yg lose contact). Yaudah deh nyapa, ngobrol, kenalan sm Sodara2 dy yg dr cirebon. Gw udh tau dr dulu kl dy org cirebon jg, tp gak ad niatan buat janjian aplg ketemu ky gini d cirebon. Ketemu sm sodara2nya pula.
Blm kelar di situ, ketemu pula sm rekan kantor bernama Dasiman Sukardi. Bapak ini udh srg bgt blg pgn ketemu sm ortu gw. Yaudah gw rembukin aj dah tuh sekalian. Ngobrol2 pake bahasa Cirebon yg gw gak paham lah itu. Hari pertama di cirebon ketemu sm 2 org rekan kerja itu rasanya... kok dunia sempit banget ya?

H+1 lebaran a.k.a lebaran hari kedua ini entah knp gw lg pgn makan makanan apapun di cirebon ini. Pas lagi nyari2 makanan gak sengaja papasan sm ibu2 tua gt. Like usual lah salaman dn bla bla bla.. Ketika udh mulai jalan lagi gw baru tanya sm ibu gw "Itu siapa bu?" dn jawaban ibu "Lah kamu gak tau itu siapa? itu ibu bidan Diana yg dulu ngebantuin ibu ngelahirin Aa, kamu, sm Aji." Saat itu gw lgsg liat2an sm kakak-ade gw. Oh my God... beliau yg ngebantu proses kelahiran kami 20an tahun yg lalu! Padahal dulu gw selalu tanya sm ibu yg mana sih Bu Bidan Diana itu? Eh sekalinya ketemu ibu gak bilang itu org yg gw cari2 dr dulu.

Hr terakhir gw di cirebon lagi2 gw iseng ngeWA temen SMA gw yg dr dulu gw tau dy biasa mudik k cirebon. Kebetulan jg baru seminggu yg lalu kita kerja bareng buat ngadain Reuni Ramadhan SMANSASI 09. Krn setau gw dy org Grage (dan gw gatau itu daerah mana) alhasil gw iseng aja ngajak ketemuan. Ngobrol ngobrol ngobrol ngobrol, eh dy bilang lagi di daerah Belender (semoga gak salah tulis) yg kt ortu gw itu gak jauh dr rmh mbah-mimi ini. Dan ketemuan lah gw sm temen SMA ini, Annisa Malati namanya. Ngobrol bareng keluarga dy di Warung Mie Koclok pun jd cerita selanjutnya. Dan sekali lagi, ini gak sengaja gw dapetin lebaran tahun ini! Krn setau gw dy anak Grage jd dr jaman SMA dlu gw males jg ngajak ketemuan kl lg mudik begini.

Oke.. Ini hari terakhir gw mudik di tanah kelahiran gw. Desa Sindang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon. Cerita perjalanan ini gw tutup dg harapan bsk pagi pulang ke Bekasi gak kena macet.
Well.. gw cuma mau share satu hal aja di sini. Bahwa seperti apapun kampung halaman kita, akan selalu punya cerita untuk diabadikan. Kenapa gw msh mau ke sini dan nginep di rumah tua punya mbah-mimi? Krn gw tau, banyak jejak2 tak terlihat di rumah ini, di desa ini, di kabupaten ini. Jejak2 yg gak akan bisa ternilai oleh apapun.

(Sengaja gw gak nampilin gambar atau foto apapun di tulisan kali ini. Technically ini karena gw jg gak paham cara ngupload foto dg Sticky Notes ini. Dan gw jg mau cerita ini cukup bisa menjadikan imajinasi kita terbang tanpa batas. Mgkn ad yg bilang "No Pics = Hoax". Tapi buat gw skrg, "With Pics, it's too mainstream".)

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H.
Maafkan segala Khilaf dan Hak yang belum sempat tertunaikan.
Mari sambut asa untuk perbaiki segala dosa.
Ramadhan tahun depan, Insya Allah akan menjadi jauh lebih indah.


Jumat, 12 Juli 2013

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN (2)

Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09

Sudah lama juga aku tak bermain-main ke halaman ini. Sengaja kuhindari pertemuan dengan si anak kecil yang kini sudah sangat bahagia dengan kehidupan dan mainan barunya itu. Si anak kecil yang sudah kembali riang dan tak menyendiri lagi di keramaian halaman ini. Tapi hari ini entah kenapa aku mulai merindukan halaman ini. Sengaja pula aku melewati halaman ini, sekadar untuk mengingat masa-masa indah bersama anak kecil itu. Dan kau tahu apa yang terjadi? Tak sengaja anak kecil itu kulihat di halaman ini, dan meneriaki namaku dengan kencangnya. Langkah kaki kecil itu pun dipercepatnya dan dengan sekejap ia sudah berada tepat di depanku. Dengan tinggi badannya yang hanya sampai pinggangku. Matanya yang sangat kupahami itu melongok ke arah mataku, dan mulai berkata, “Kakak kemana aja? Main yuk!”
Ahh.. mata itu. Mata yang sangat menyejukkan itu. Mata yang dulu sempat teralih pandangannya ke kebahagiaan yang lain. Kini hadir lagi di depanku.
“Kamu mau main apa? Kakak lagi capek banget..”
Senyumnya merekah, dan dengan santainya menjawab, “Ah, kakak bohong, kakak kan gak pernah capek, apalagi kalo lagi main sm Vino. Ayo kak!!”
Tarikannya sudah mulai kencang rupanya. Lama tak bertemu, Vino mulai tumbuh besar sampai-sampai aku gak ngeh begini. Hehehe..
Baiklahhhhh.... Ayo main, Vino!!!


Lama juga aku tak bermain seperti ini. Bermain kejar-kejaran, main lempar-lemparan bola, sampai tak sadar kepalaku terbentur tiang besi samping ayunan di halaman itu, dan langsung turtunduk diam kesakitan.
Tiba-tiba Vino sudah di depanku, menertawakanku lama, sampai akhirnya diam dan bertanya.
“Kakak kok gak ketawa? Bukannya dulu kakak juga sering ya kejedot kaya gini? Ayo dong ketawa, kak!”
Uuuhhh.... sakit sekali rasanya saat itu.
Emang dasar anak kecil, Vino bukannya menunggu jawabanku malah langsung ambil bola lagi dan mengajakku kembali bermain bola.
“Bruk!!” sekarang wajahku yang terkena lemparan bola anak ini. Dan lagi-lagi Vino tertawa kencang sekali.
“Hahaha, makanya bangun dong, Kak! Mau sampai kapan nunduk terus?!”
“Aargh... berisik kamu Vino! Kakak mau pulang aja!”
Sontak saja aku begitu kesal, dan mempercepat langkahku keluar dari halaman itu.
“Kakak jahat. Kalo mau pulang, ambilin dulu kek bolanya! Nanti Vino bisa mainan lagi kan..”
Langkahku langsung terhenti, kulihat Vino mengambil bola itu dan mulai main lagi, sendirian. Gak sadar sama sekali, sedari tadi kami cuma main berdua aja di halaman ini. Bisa jadi, kalau tadi aku gak lewat, Vino akan tetap bermain sendirian di sini. Perlahan kuhampiri Vino. Dia tetap bermain dengan asyiknya. Kuperhatikan, Vino ini memang lebih senang bermain sendiri kayanya. Kalau pun ada teman main, pasti aku yang jadi pilihan pertama baginya. Perbincangan itu pun dimulai..

V: “Kakak, kakak pernah main bola gak? Vino pengen deh punya badan yang tinggi biar jadi bek yang bisa nyundul bola!”
A: “Kalo punya badan tinggi, kenapa gak jadi striker aja? Kan bisa bobol gawang orang, keren tuh!”
V: “Gak ah, Vino kan gak mau gawang Vino kebobolan, Kak!”
A: “Tapi kan gak keren, nanti gak bisa kaya Ronaldo dong?”
V: “Gak mau!”
A: (Kencang sekali penolakan Vino, kenapa ya...)
V: “Vino tuh lebih seneng jaga gawang daripada nyerang, Kak. Tapi Vino takut jadi kiper. Jadi bek kan bisa jaga gawang juga kan ya kak?”
A: “Emang Vino gak mau jebol gawang orang?”
V: “Kan bek juga bisa jebol gawang orang kak! Kalo striker mana bisa? Hahaha..”
A: (........)
V: “Kakak kok sekarang diem mulu sih? Dulu kakak yang bikin Vino bisa ngomong lho padahal. Kakak sariawan ya? Hahaha...”
A: “Sok tau kamu! Hahaha...”
V: “Abisnya, dulu kakak ngajarin Vino ngomong, sekarang kakak yang diem. Gimana sih kakak?”
Gak sempat aku jawab, Vino kembali melanjutkan kebawelannya.
V: “Pokoknya, nanti kalo Vino udah gede, Vino pengen jadi bek timnas ah! Biar gak kebobolan melulu, malu tau kebobolan melulu kaya gitu.”
Anak ini benar-benar sudah tumbuh dengan baik. 2 tahun gak bertemu ternyata Vino sudah sebesar ini.
“Vino, Vino mau kakak anter pulang gak? Kakak kan belum tau rumah Vino”
“Aah kakak mau modusin kakak Vino ya? Hayooo ngakuuuu!! Hahaha...”
Ngek, anak SD pun udah bisa ngomong ‘modus’ ya. Kamu tumbuh terlalu cepat, nak. J

...

Sampai juga di rumah Vino. Rumah yang sepi. Gak kulihat ada orang tuanya atau kakak yang tadi Vino bilang. Vino pun langsung lari masuk ke rumah. Gak pake pamit lagi. Hahaha.. dasar anak kecil.
Aku pun kembali menyalakan mesin motorku.
Baru mau masukkan gigi 1, Vino mendadak datang lagi dengan berlari.
“Kakak kakak! Kakak mau janji gak sama Vino?”
“Janji apa sih Vino?” (perbincangan itu diiringi suara raungan mesin motorku)
“Vino mau kakak janji, kalau kakak sempat, nanti ajarin Vino supaya bisa jadi bek yang bagus kaya kakak ya!”
“Vino... kakak ini bukan bek.”
“Bohong, Vino pernah kok liat kakak main di lapangan dekat SMAN 1 itu jadi bek! Kakak kan bek yang jago! Vino mau jadi kaya kakak! Tapi gak mau kalah 5-0 kaya kakak ya, hehehe...” (langsung ngeloyor pergi ke dalam rumah dan jatuhin kertas kecil di samping motorku)

“Kakak kalo jadi bek jangan suka maju2, ntar kebobolan lho. :D”

Vinoooooo!!!! Why you’re so misterious! Jauh jauh aku menghindari kamu, kenapa kamu malah nonton pertandingan yang itu!!! And for your notes, jangan sok tau deeeehhhh!
Hufhhh....



Rabu, 10 Oktober 2012

Terima Kasih, STAN!


Oleh : Isnendi Yakub – STAN 09

Datang dengan kepala botak, pergi pun dengan kepala botak. Rada nyentrik sih memang. Tapi begitulah kenyataannya bagi STAN 09. Kami datang ke kampus ini, mengikuti DINAMIKA (ospek) dengan syarat harus botak. Di ujung perjalanan 3 tahun kami ini pun ditutup dengan gemblengan Capacity Building selama seminggu oleh KOPASSUS dan lagi-lagi harus kembali botak. What a nice... seolah kami datang dan pergi harus dalam kondisi yang ‘sama’. Haha...

Isnendi Yakub, itulah namaku. Nama dengan arti sederhana yang diberikan oleh kedua orang tua hebat 21 tahun yang lalu inilah yang mengantarkanku hingga saat ini. Nama ini, sempat membuatku tidak percaya diri, karena semasa kecil dulu nama panggilanku adalah ‘iis’. Seperti nama panggilan anak perempuan sunda. Huft... Tapi justru nama inilah yang menjadikanku hebat. Nama ini yang ternyata bisa menembus 88.000an nama lain 3 tahun lalu, dan terpampang mungil di urutan 75 wilayah DKI Jakarta dari sekitar 500an nama lain di daftar kelulusan kampus ini di wilayah itu, dari 1.800an nama lain yang lulus di kampus ini. Kampus idaman para anak SMA se-angkatanku ketika itu, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

STAN, di sinilah sebuah cerita baru dimulai. Petualangan baru yang senantiasa hadirkan tantangan baru. Tantangan baru yang menghasilkan keluarga-keluarga baru bagiku. Orang-orang hebat yang semakin menghebatkanku.
Perjalanan dimulai dengan sebuah petuah yang baru kali ini kudengar dari ucapan orang tuaku.

“Bapak udah gak biayain sekolah kamu lagi, mulai sekarang jangan abdikan diri kamu untuk bapak/ibu aja, tapi juga buat mereka yang udah bayarin kamu kuliah. Malu tau, kamu tuh belum ngasih apa-apa buat orang-orang tapi udah dibayarin kuliah sama orang-orang itu.”

Hmhm.. oke boss!! Tapi gimana caranya yaa? Hahaha... kita bahas yang lain aja yaa... bahas tentang keluarga baru di kampus ini enak kali yaa... :D

#KEISHA
Keluarga pertama bagiku adalah teman-teman kost Pondokan Keisha Sarmili, karena biar gimana juga yang namanya tetangga terdekat lah yang paling mungkin membantuku di saat-saat sulit. Kost baru yang diisi oleh mahasiswa-mahasiswa baru pastinya bikin kost ini lebih menyatu. Mereka adalah M. Boris Yakubi, Rizki Novrinurdi, Marthin Jordan (cuma setahun aja di kost ini), Aditya Hernawan, Umriza Makrufan Nasution, Herdian Agustin, Divo Helmizar, Yusuf Wibisono (2 tahun aja di kost ini), Hamdi Anshari Dalimunthe, Achmad Gelar Trinanda, Ahmad Takwim Alfaris (2 tahun lebih sedikit di kost ini) dan saya, Isnendi Yakub. Dari nama-nama mereka saja sudah nampak, bahwa mayoritas dari mereka adalah orang Sumatera Utara, haha..

Banyak cerita, banyak tradisi, dan kenangan yang mungkin tak akan kulupa tentang kalian. Main bola basket di lapangan MBM, nantang orang lain untuk sparing bola di lapangan MBM, main kartu sampai habis suaraku gara-gara terlalu banyak teriak, pulang tengah malam jalan kaki dari BP, cerita setan yang bikin gak bisa tidur si Marthin, hingga masa-masa ‘perpecahan’ squad Piala Dunia 2010 pun tak mungkin kulupakan. Di pondokan ini, cuma aku yang berspesialisasi Kebendaharaan Negara, jadi wajarlah kalau tiap UTS atau UAS cuma aku yang ‘tidur duluan’ karena gak ada teman diskusi tentang materi ujian. Gak jarang juga ejek-ejekan spesialisasi di kostan ini yang membuatku tersudut karena gak ada kawan yang ngebantu. Belum lagi wacana ‘bangunin jam 5’ yang ujung-ujungnya tetap bangun mepet waktu kuliah juga. Ahh... akhirnya kita akan berpisah kawan... Kenangan-kenangan itu tak mungkin mudah lepas dari ingatanku ini.
Yusuf Wibisono (ucup) - Divo Helmizar - Umriza Makrufan Nasution - Aditya Hernawan - Rizki Novrinurdi - Hamdi Anshari Dalimunthe

Atas : Isnendi Yakub (me) - Aditya Hernawan - Marthin Jordan
Bawah : Hamdi Anshari Dalimunthe - Umriza Makrufan Nasution
Aditya Hernawan : Isnendi Yakub (me) - Ach. Gelar Trinanda

Isnendi Yakub (me) - Umriza Makrufan Nasution

M. Boris Yakubi - Isnendi Yakub (me)


#ANGGARAN09 #DoTA #TWEET #GangBang

Beda di kost, beda di kampus, apalagi di spesialisasi yang sama, spesialisasi Kebendaharaan Negara. Yang pasti, gak ada ejek-ejekan spes di sini. (Yaiyalah...)

#DoTA
Kelas 1D_KBN. D of Treasury clAss. Kelas inilah kelas pertamaku di kampus ini. Cerita baru yang dimulai dengan ketidakpuasanku karena terlalu banyak ‘roaming’ di kelas ini. Well.. di kelas inilah aku memulai perkenalan dengan orang-orang hebat macam M. Choirus Soleh, Adetya Chandra, Michael Angelo Halomoan Simbolon, Susi Sulistilawati, Kartiko Cokro, Galih Pandu, Arianto Kristiawan, M. Rif’an, Indri Mesiska, Mutiara Marga, Dicky Setiawan, Ferry Irwandi, M. Fajar Nugraha, Rinawati, Dinda Ayuningtyas, dan tentu saja sang Ketua Kelas, Yanuardi Bahtiar. Di tahun perdana ini, aku nyaris saja melakukan kesalahan terbesar saat UTS Statistika. Huft.. Yang tak mungkin kulupa lagi adalah, saat-saat kemenangan kami dalam liga futsal se-KBN. Gokil!!!

Masih ingatkah kalian dengan masa-masa kita kuliah sampai jam 10 malam? -__-

Masih ingat juga kah kalian dengan kedatangan Ibu Sri Mulyani Indrawati dalam peresmian gedung baru STAN dan sempat pula beliau menyalami kita? Bahkan sebelum masuk mobil dinasnya, beliau sempat mengucapkan “Sukses ya kalian semua! Semangat!!” We really miss you so much madam...


#TWEET
Masuk ke tahun kedua, aku masuk di kelas 2E_KBN. TWo EE Treasury. (Maksa bgt ya). Di kelas ini ada beberapa nama kelas 1D tadi yang beruntung masih bisa 1 kelas denganku, haha.. Choi, Adet, Mike, Susi, Pandu, Iwan dan Koko yang mungkin udah kebal dengan kata-kata ejekanku tentang mereka sepertinya senang dengan sekelas kembalinya kami (gak mungkin senang kayanya ya). Kelas yang bernasib sial di kompetisi futsal se-KBN ini, sempat ditakuti karena bisa dibilang kami punya 2 tim siap untuk maju ke kompetisi, ternyata harus kalah sebelum menginjak babak final. Ya.. seenggaknya di kelas ini, aku mendapat beberapa tandem fight ejekan yang baru, Yulianto Syafiq Kamal, Ibnu Pujiono, Aji Yudanto, Angga Dimas Brilyan, G. Oka Baskara, Husen Fagih, Ikhram Vionda, Jaka Yudha Asmara, Manggala Adi Windoro, M. Telly Syaputra, Wisnu Febrian Inderajaya, dan orang hebat yang kuhormati, ketua kelas kami Arman Effendi. Keep Fight Bully!!
Yulianto Syafiq Kamal - Julianto - Bayu - Isnendi Yakub (me) - Husen Fagih



Actually, this was my hardest year... Mulai dari nilai UTS Cost Accounting yang bikin aku gak bisa tidur selama beberapa hari, hingga curhatku kepada seorang teman di kelas ini karena begitu khawatirnya aku dengan nilai matkul ini yang bisa saja membuatku DO. Thank’s bro!

#GangBang
Gang 3B anggaran a.k.a GangBang. Kelas terakhirku di kampus ini. Menjadikanku semakin hebat karena dipertemukan dengan orang-orang hebat. Masa-masa terbaikku di kampus ini yang masih berlanjut di kelas ini. Ditutup dengan syukuran IP terbaik angkatan kami yang ternyata berasal dari kelas ini. Tak ingin kusebut satu per satu nama mereka. Wajah kalian saja yang kutampilkan, kawan. J

-Selama 3 tahun di STAN, aku tak pernah merasakan nikmatnya menjalani makrab kelas, tapi aku selalu bisa mengalami keakraban di masing-masing kelas ini-

#SPEAK
Banyak kepanitiaan yang kuikuti, tapi cuma 1 organisasi yang kuincar di kampus ini. Spesialisasi Anti Korupsi (SPEAK). Setelah di tahun pertama Open Recruitment aku gagal masuk organisasi ini, di tahun kedua aku mencoba mendaftar kembali, dan tak datang di sesi wawancara karena ketiduran. Ya sudahlah, akhirnya aku hanya menjadi salah satu anggota dan berhak mengikuti kuliah antikorupsi setiap pekannya. Hingga pada suatu sore, seseorang meneleponku dan mengajakku untuk gabung ke Dir. LUPEN SPEAK. Berlanjut di kuliah selanjutnya, staff Dir. LUPEN SPEAK mencoba untuk berbicara langsung terkait recruitment dadakan ini. Di sinilah tantangan baru dimulai, bersama orang-orang ‘brengsek’ LUPEN SPEAK bernama Agung Ari Wibowo, Restu Rea Adistya, dan Bayu Sundoro Aji ditambah 2 cewek hebat Paramitha R.W. dan Arini Fadila. Bagi kami saat ini, andai kami berempat (Aku, Agung, Bayu, dan Rea) kembali bersatu, akan ada hal-hal ‘brengsek’ lagi yang akan terjadi. Haha..




Dalam kepanitiaan SPEAK dan Anggaran 09, aku pun bertemu orang-orang hebat lain yang menjadi inspirasiku, mereka adalah Saidi Alhady dan Julianda Rosyadi. Sebuah inspirasi, setelah lama berkeliaran di kampus ini, akhirnya menemukan ‘jenis pemikiran’ yang sejenis denganku. Thank’s bro!
Sempat juga terpikir, andai suatu saat nanti aku mendapatkan sebuah amanah untuk memimpin sebuah tim, merekalah yang akan pertama kali kuminta: Bayu, Saidi, Agung, Rea, dan Juli. Hehe.. mungkin gak yaa... ^-^

Atas : Isnendi Yakub (me)
Bawah : Bayu - Saidi - Agung - Rea - Juli

#SOMASI_STAN
Sebuah keluarga dari sekumpulan anak-anak Bekasi yang beruntung masuk ke kampus ini. Biar pun banyak anak Bekasi lainnya yang tak terdeteksi dalam kumpulan ini, harus tetap kubanggakan, karena inilah keluarga baruku yang terbentuk di kampus ini. Masa-masa sulit kami ketika menjadi kepanitiaan Try Out USM STAN 2010 Season II tak mungkin kulupa. Tim terbaik, yang mengantarkan kami menjadi kepanitiaan dengan jumlah peserta dan total keuntungan finansial terbesar dalam sejarah SOMASI. Sesi ‘Somasi Nite’ yang selalu diadakan pada setiap makrab SOMASI Vacation tiap tahunnya. Juga banyak pengalaman lain yang dibagikan para alumni kami, yang menjadikan motivasi tersendiri bagi kami. Suatu hari ketika kita udah ditempatkan di seluruh Indonesia, keluarga inilah yang akan kembali berkumpul di Bekasi sebagai tempat kita berasal. You’re so awesome, guys!











***
“Ketika Seekor Elang Harus Kehilangan Ekornya, Masih Mampukah Ia Terbang Tinggi? Bisakah Ia Menjaga Keseimbangan Tubuhnya?”

Ingin sekali kupersembahkan kelulusanku ini pada sebuah senyuman yang pernah kuciptakan 3 tahun lalu karena kelulusanku di kampus ini. Senyuman yang pernah jadi saksi kecemasanku pada 2 kata menyeramkan di kampus ini (Drop Out). Senyuman yang begitu mahal dari ronanya yang lebih sering melamun itu. Senyuman yang tak mampu lagi menunggu waktu ini, yang perlahan pergi bersama senyuman-senyuman lain dalam hidupnya. Senyuman yang mungkin hanya bisa kulihat lagi jika Tuhan mengijinkanku. Ini hari kelulusanku. Dan hari ini penuh dengan warna ungu... J

Dan pada dua tangan kecil yang akhirnya bisa mengangkatku perlahan ketika senyuman itu pergi. Ketika ekorku hilang dan terbangku mulai tak seimbang, tangan-tangan kecil itu yang mengangkatku perlahan sebelum dapat kemebali terbang. Dua malaikat kecil, yang membangkitkan kembali deru suaraku yang sempat melemah. Kalian begitu kecil, hingga aku tak pernah merasa kerepotan untuk membawa kalian ke manapun aku pergi. Terima kasih. Dan inilah kelulusanku yang juga kupersembahkan untuk kalian...
Debi Tri Tantular - Yuni Firda Mulia

#Pengabdian
Aku yang begitu membenci pemerintah, karena seringnya pemerintah merugikan buruh. Aku adalah anak seorang buruh.
Aku yang tidak percaya lagi bahwa masih ada orang bersih dalam pemerintahan.
Akhirnya diterima di kampus ini, kampus pemerintah yang dibiayai dengan uang rakyat. Ternyata masih ada kampus pemerintah yang bisa dimasuki dengan tanpa melewati ‘pintu belakang’.
Aku yang mulai menjadikan ‘Pengabdian’ sebagai niat awalku semenjak menginjakkan kakiku di kampus ini.
Pengabdian pada mereka yang telah memberikanku kesempatan memperoleh pendidikan dengan cuma-cuma.
Pengabdian pada negeri yang masih mau berubah ke arah yang baik.

TERIMA KASIH, STAN! Untuk semua cerita ini..
TERIMA KASIH KOPASSUS! Untuk pelatihan terbaikmu..

“Sejak kecil, cita-cita saya ya membela negara ini. Mengabdi pada negara ini.”
–Letda Roxy L. Patria-
“Saya orang Timor Leste, tetapi cinta saya jauh lebih besar kepada negeri ini.”
-Serka Giel Esteves-
“Saya ini Tentara. Kalian ini sipil. Kami tidak akan memperlakukan warga sipil seperti Tentara.”
-Praka Johnson S. Koly-
“Senjata andalan saya ketika perang melawan GAM adalah doa. Dan selama saya bertugas di sana, tidak pernah sekali pun saya bertemu musuh. Percayalah, Tentara pun lebih ingin hidup damai daripada berperang. Naluri kami masih manusia.”
-Pelatih Henri-
“Sebuah rasa tidak akan membuat kita mati! Sakit, gatal, gelisah, tak betah, itu hanya rasa! Tidak akan membuat kita mati!”
-Pelatih Nengah Tamat-


THIS IS MY 1st GRADUATE!!!
Next, will be the 2nd, 3rd, 4th, and many graduates more than I expect!