Kamis, 25 Juni 2020

CORONA TINGGAL CERITA

Gak ada satu pihak pun yang menduga akan adanya cerita panjang yang baru bagi umat manusia saat awal ditemukannya virus ini. Bidang kesehatan yang pertama diprediksi akan paling berdampak nyatanya juga menyenggol sisi lain dari kehidupan. Bagi saya, dampak ekonomi dan sosial lah yang paling terasa.


EKONOMI

Beruntung bagi saya yang berkesempatan untuk menjalani pekerjaan secara jarak jauh dan tetap mengindahkan anjuran #dirumahaja dengan Bekerja Dari Rumah (Work From Home). Rasa hormat dan salut dari saya kepada para pekerja yang harus lebih keras memutar otak dan perlu sedikit mengencangkan ikat pinggang untuk tetap bertahan hidup dan menjaga harga diri dari kehinaan sikap mengemis. Dan kepada pihak yang berjuang di lini terdekat dengan virus ini, bagi saya yang pernah bercita-cita menjadi seorang Pekerja Medis, kehadiran kalian saat ini sangat menggambarkan betapa saya pun bangga pernah memiliki cita-cita itu.

Kini perlahan namun pasti, 'fasilitas' WFH pun akan dikurangi. Kelak rutinitas akan kembali ke kondisi normal dengan perubahan/perbaikan perilaku penerapan pola hidup sehat dan menjaga jarak aman. Keputusan yang mungkin tepat, mungkin juga tidak. Sepertinya... ini adalah keputusan yang paling reliable dari pilihan yang ada.
Ruang Kerja selama WFH
 
SOSIAL

Kalau saja ini adalah cara Tuhan untuk 'mempersatukan kembali' keluarga yang selama ini lebih sering terpisah jarak karena rutinitasnya masing-masing, kondisi ini tentu menjadi 'surga'. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi 'neraka' bagi keluarga yang memang lebih 'nyaman' hidup berjauhan dan menjalani Quality Time tanpa memprioritaskan Quantity. Yang lebih menakutkan tentu cerita mengenai 'kebangkrutan' ekonomi yang berakhir pada 'kehancuran' kehidupan berkeluarga.

Periode-periode penting yang biasanya lebih hangat saat dirayakan dengan keluarga besar juga menghilang.
Momen berlebaran hanya kami lalui bertiga di rumah.
Momen sulit kami lainnya di Rumah Sakit juga kami lalui hanya bertiga.
Sempat berkunjung ke Bekasi 2x. 1x hanya ngobrol di teras rumah selama 1 jam. 1x masuk ke dalam rumah namun bermasker selama 3 jam.
Keluarga terdekat di Ciputat hanya kami kunjungi sesekali tanpa masuk ke teras rumah. Hanya ngobrol di depan pagar, di jalanan depan rumah.
Setelah momen sulit di Rumah Sakit itu, kami hanya menerima kunjungan keluarga serta teman dekat di teras rumah, dan gak sampai setengah jam.
Ini juga masih cukup beruntung, orang lain mungkin sama sekali gak bisa berkunjung ke keluarga yang jaraknya berjauhan, dan harus melalui semua ini dengan seorang diri, atau dengan 'keluarga baru' lainnya.
Lebaran serba putih bertiga

HIKMAH

Pada akhirnya kita wajib untuk menjadi bijak dalam memahami dan menjalani semua kondisi ini, termasuk saya sendiri.
Sempat berencana mengambil cuti besar saat Cila mulai sekolah supaya bisa 24 jam mendampingi proses belajar dan mengenal lingkungan baru, ternyata justru dimajukan jadwalnya. Ya, setidaknya 3 bulan 10 hari terakhir ini, nyaris 24 jam selalu bisa memantau pertumbuhan berat badan dan kebiasaannya bicara dengan English ketimbang Bahasa Indonesia hasil dari kebanyakan nonton Disney Junior.
Stabilnya angka berat badan di kisaran 69-71 Kg (biasanya di angka 72-75) selama WFH ditambah lebih rutinnya berolahraga di rumah, jogging, dan gowes juga menjadi hikmah lainnya dari kondisi ini.
Saya dan Cila

Gowes sampai gantung sepeda

Rabu, 27 Mei 2020

MANUSIA PEREKAYASA PENGUASA

"Wow.. kok bisa?"
Entah apa cuma saya yang berkali-kali mengucap kalimat di atas dalam kurun waktu 11 pekan terakhir. Waktu yang berjalan dengan unik ini rasanya akan menjadi perjalanan yang tidak mudah dilupakan, dengan apapun kita melewatinya.

Wow.. kok bisa?
2 pekan pertama adalah masa perkenalan kembali dengan keluarga. Selama ini saya pikir si Cila hanya akan 'takluk' dengan ajakan bermain dari Bundanya. Eh ternyata, semakin waktu berjalan, dia lebih suka main-main di belakang saya yang sedang sok sibuk di hadapan laptop. Kok bisa ya anak ini se-tertarik itu main-main di sekitar Ayahnya yang bahkan gak peduli apalagi ikutan main juga sama dia? Cari perhatian kah?

Wow.. kok bisa?
Pekan awal PSBB Tangsel pun datang. Dengan berbagai imbauan dan protokol kesehatan yang ditetapkan. Dinamika pergerakan manusia yang dibatasi itu pun mulai nampak patuh, dan akhirnya seperti hendak membebaskan diri dari pembatasan tersebut. Keluar-Masuk area rumah sebagai pertahanan terakhir, dengan keyakinan selama mematuhi imbauan dan protokol kesehatan dijamin akan 'aman' dari ancaman wabah. Kok bisa ya, ketika saya dan keluarga sangat membatasi diri kami untuk berinteraksi dengan dunia luar, bahkan ortu sendiri yang jaraknya tidak kurang dari 50Km tidak kami datangi, ada manusia lain yang 'selamat' dengan berpegang pada protokol itu? Jadi wabah ini sebenarnya gak se-menakutkan itu kah?

Wow.. kok bisa ya?
Masa PSBB yang berlalu tak terasa memasuki pekan ke 7, kemudian ada kabar bahwa wabah ini adalah konspirasi. Dibuat untuk alasan-alasan ekonomi dan pertahanan keamanan yang pada akhirnya berujung pada ekonomi juga. Bahasa mudahnya: Ujung Ujungnya Duid (UUD). Entah benar atau salah, sebuah teori konspirasi nyatanya merupakan teori yang cukup 'abadi' eksistensinya. Sama halnya seperti para ilmuwan bercerita tentang evolusi manusia sejak berbentuk Kera berjalan menunduk hingga menjadi Homo Sapiens dan terbentuklah manusia sempurna seperti saat ini. Kok bisa ya, wabah dijadikan Konspirasi bertujuan ekonomi sementara banyak nyawa melayang karena virus ini? Seorang teman lama malah bertanya balik ke saya: Kenapa gak bisa, Nen?

Wow.. kok bisa ya?
Beberapa ahli menyampaikan pendapatnya. Dengan data lengkap. Dan alasan ilmiah lainnya. Ada yang menjelaskan jumlah kasus wabah yang diprediksi secara numerik. Ada yang menjelaskan masa pandemi akan berakhir pada bulan-bulan tertentu. Ada juga yang bahkan, mempertanyakan kebenaran Data yang disajikan Pemerintah secara harian. Kok bisa ya manusia merekayasa ketetapan Sang Maha Kuasa? Untuk apa? Untuk siapa?