Minggu, 24 Mei 2015

BAPAK-IBU (SEBUAH KISAH CINTA SEDERHANA)

Tak pernah sekalipun aku mendengar kata 'cinta' terucap dari bibir keduanya
Nyaris pula tak pernah kuingat kapan mereka saling berpeluk mesra di hadapanku
Tak cukup banyak ceritaku bersama mereka tentang tempat indah di luar sana
Selain di rumah..
Juga tak banyak kukecap rasa makanan luar
Selain masakan rumah..
Memang, tak cukup lama pula keduanya tampak bercengkrama di rumah
Bapak, tiada henti menggerakkan seluruh kemampuan yang dimilikinya demi kehormatan keluarga
Ibu, selalu siap memastikan segalanya berjalan baik dan menyenangkan
Namun, seketika semua itu senyap ketika mereka bersua
Semacam ingin berkata "Aku ada.."
27 tahun sudah mereka dipersatukan
Kemudian dipisahkan..
Begitu saja..
Sepengetahuanku..
Bapak tak pernah menyembunyikan apapun selain 1 hal: Kesakitan
Sepengetahuanku..
Bapak tak akan berucap 'sakit' ketika itu dirasanya masih bisa ia tahan
Sepengetahuanku..
Bapak bukan pengeluh
Sepengetahuanku..
Bapak seolah bisa segalanya
Senada dengannya, Ibu adalah wanita penjaga amanah yang kelewatan batas
Ibu tak akan berani keluar rumah untuk hal apapun sebelum mendapat restu dari Bapak
Ibu lebih suka menahan rasa ingin bercerita hingga Bapak pulang ke rumah, lalu bercerita
Ibu tanpa ragu menolak bicara ketika tersudut dalam perbincangan yang tak sehat
Ketika ibu sedih, jangan harap Bapak akan membawanya larut ke dalam perbincangan mendayu, Bapak akan dengan mudahnya berkata, "Ah, begitu doang dipikirin.."
Bapak bukanlah pria pemuji
Ibu adalah ahlinya membesarkan hati
Suatu ketika Bapak masih berkata merasa direpotkan walau aku sudah berkuliah dengan beasiswa
Tapi, seorang kawan Bapak sempat bertanya padaku, "Ini anaknya yang kuliah di STAN ya? Bapak kamu cerita banyak tentang kamu."
Ibu dengan mudahnya berkelakar, "Namanya juga Bapak. Orangnya gengsian."
Begitu kecilnya arti sebuah semangat membangun kehormatan keluarga.
Hingga banyak orang lalai, dan menjatuhkannya di sembarang tempat.
Begitu kecilnya arti sebuah pengabdian kepada keluarga, hingga banyak orang menomorduakan kerajaan kecil itu.
Cita-cita keduanya tak pernah muluk.
Bermodalkan ijazah SMA sebagai pendidikan terakhir mereka, melihat ketiga anaknya bisa memakai toga adalah impian yang selalu disebutkan sejak kami kecil.
Hal itu terjawab perlahan ketika Kakakku wisuda D3, kemudian aku D3, dan ditutup oleh Adikku yang bergelar Sarjana.
Perlahan kekhawatiran mereka terhadap kehidupan pasca-wisuda pun terhapus.
Kakakku sudah bekerja sejak sebelum wisuda D3, aku yang kini sudah berstatus PNS, dan adikku sudah 2 bulan terakhir ini bekerja.
Tak banyak hal yang bisa kuceritakan kembali tentang Bapak.
Yang kutahu, Bapak selalu bekerja keras demi keluarganya, meskipun kami bertiga sudah bisa memiliki nafkah sendiri.
Yang kutahu, Ibu selalu berusaha melayani Bapak sejak kami jarang ada di rumah ketika jam kerja.
Satu wasiat yang memang selalu dikhawatirkan Bapak semasa hidup adalah : Merepotkan orang lain.
Dan benar. Bapak wafat dalam tempo yang sangat singkat, hanya berkisar 10-20 menit saja. Tak ada biaya besar. Tak ada kekhawatiran yang berlangsung lama. Bapak pamit, dengan beberapa pekan terakhir yang selalu membuat Ibu tersenyum dengan permintaan-permintaan manjanya pada Bapak.
Dan tak lupa, tanggal 2 Mei 2015 yang lalu. Sudah lama Bapak tak memberi kami nasihat dengan detail. Hari itu, Bapak menjelaskan banyak sekali hal detail tentang kekhawatirannya itu. "Jangan pernah merepotkan orang lain."




-Mukhyidin Bin Syamsudin-
Lahir di Cirebon, 23-07-1956
Wafat di Bekasi, 13-05-2015