Jumat, 12 Juli 2013

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN (2)

Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09

Sudah lama juga aku tak bermain-main ke halaman ini. Sengaja kuhindari pertemuan dengan si anak kecil yang kini sudah sangat bahagia dengan kehidupan dan mainan barunya itu. Si anak kecil yang sudah kembali riang dan tak menyendiri lagi di keramaian halaman ini. Tapi hari ini entah kenapa aku mulai merindukan halaman ini. Sengaja pula aku melewati halaman ini, sekadar untuk mengingat masa-masa indah bersama anak kecil itu. Dan kau tahu apa yang terjadi? Tak sengaja anak kecil itu kulihat di halaman ini, dan meneriaki namaku dengan kencangnya. Langkah kaki kecil itu pun dipercepatnya dan dengan sekejap ia sudah berada tepat di depanku. Dengan tinggi badannya yang hanya sampai pinggangku. Matanya yang sangat kupahami itu melongok ke arah mataku, dan mulai berkata, “Kakak kemana aja? Main yuk!”
Ahh.. mata itu. Mata yang sangat menyejukkan itu. Mata yang dulu sempat teralih pandangannya ke kebahagiaan yang lain. Kini hadir lagi di depanku.
“Kamu mau main apa? Kakak lagi capek banget..”
Senyumnya merekah, dan dengan santainya menjawab, “Ah, kakak bohong, kakak kan gak pernah capek, apalagi kalo lagi main sm Vino. Ayo kak!!”
Tarikannya sudah mulai kencang rupanya. Lama tak bertemu, Vino mulai tumbuh besar sampai-sampai aku gak ngeh begini. Hehehe..
Baiklahhhhh.... Ayo main, Vino!!!


Lama juga aku tak bermain seperti ini. Bermain kejar-kejaran, main lempar-lemparan bola, sampai tak sadar kepalaku terbentur tiang besi samping ayunan di halaman itu, dan langsung turtunduk diam kesakitan.
Tiba-tiba Vino sudah di depanku, menertawakanku lama, sampai akhirnya diam dan bertanya.
“Kakak kok gak ketawa? Bukannya dulu kakak juga sering ya kejedot kaya gini? Ayo dong ketawa, kak!”
Uuuhhh.... sakit sekali rasanya saat itu.
Emang dasar anak kecil, Vino bukannya menunggu jawabanku malah langsung ambil bola lagi dan mengajakku kembali bermain bola.
“Bruk!!” sekarang wajahku yang terkena lemparan bola anak ini. Dan lagi-lagi Vino tertawa kencang sekali.
“Hahaha, makanya bangun dong, Kak! Mau sampai kapan nunduk terus?!”
“Aargh... berisik kamu Vino! Kakak mau pulang aja!”
Sontak saja aku begitu kesal, dan mempercepat langkahku keluar dari halaman itu.
“Kakak jahat. Kalo mau pulang, ambilin dulu kek bolanya! Nanti Vino bisa mainan lagi kan..”
Langkahku langsung terhenti, kulihat Vino mengambil bola itu dan mulai main lagi, sendirian. Gak sadar sama sekali, sedari tadi kami cuma main berdua aja di halaman ini. Bisa jadi, kalau tadi aku gak lewat, Vino akan tetap bermain sendirian di sini. Perlahan kuhampiri Vino. Dia tetap bermain dengan asyiknya. Kuperhatikan, Vino ini memang lebih senang bermain sendiri kayanya. Kalau pun ada teman main, pasti aku yang jadi pilihan pertama baginya. Perbincangan itu pun dimulai..

V: “Kakak, kakak pernah main bola gak? Vino pengen deh punya badan yang tinggi biar jadi bek yang bisa nyundul bola!”
A: “Kalo punya badan tinggi, kenapa gak jadi striker aja? Kan bisa bobol gawang orang, keren tuh!”
V: “Gak ah, Vino kan gak mau gawang Vino kebobolan, Kak!”
A: “Tapi kan gak keren, nanti gak bisa kaya Ronaldo dong?”
V: “Gak mau!”
A: (Kencang sekali penolakan Vino, kenapa ya...)
V: “Vino tuh lebih seneng jaga gawang daripada nyerang, Kak. Tapi Vino takut jadi kiper. Jadi bek kan bisa jaga gawang juga kan ya kak?”
A: “Emang Vino gak mau jebol gawang orang?”
V: “Kan bek juga bisa jebol gawang orang kak! Kalo striker mana bisa? Hahaha..”
A: (........)
V: “Kakak kok sekarang diem mulu sih? Dulu kakak yang bikin Vino bisa ngomong lho padahal. Kakak sariawan ya? Hahaha...”
A: “Sok tau kamu! Hahaha...”
V: “Abisnya, dulu kakak ngajarin Vino ngomong, sekarang kakak yang diem. Gimana sih kakak?”
Gak sempat aku jawab, Vino kembali melanjutkan kebawelannya.
V: “Pokoknya, nanti kalo Vino udah gede, Vino pengen jadi bek timnas ah! Biar gak kebobolan melulu, malu tau kebobolan melulu kaya gitu.”
Anak ini benar-benar sudah tumbuh dengan baik. 2 tahun gak bertemu ternyata Vino sudah sebesar ini.
“Vino, Vino mau kakak anter pulang gak? Kakak kan belum tau rumah Vino”
“Aah kakak mau modusin kakak Vino ya? Hayooo ngakuuuu!! Hahaha...”
Ngek, anak SD pun udah bisa ngomong ‘modus’ ya. Kamu tumbuh terlalu cepat, nak. J

...

Sampai juga di rumah Vino. Rumah yang sepi. Gak kulihat ada orang tuanya atau kakak yang tadi Vino bilang. Vino pun langsung lari masuk ke rumah. Gak pake pamit lagi. Hahaha.. dasar anak kecil.
Aku pun kembali menyalakan mesin motorku.
Baru mau masukkan gigi 1, Vino mendadak datang lagi dengan berlari.
“Kakak kakak! Kakak mau janji gak sama Vino?”
“Janji apa sih Vino?” (perbincangan itu diiringi suara raungan mesin motorku)
“Vino mau kakak janji, kalau kakak sempat, nanti ajarin Vino supaya bisa jadi bek yang bagus kaya kakak ya!”
“Vino... kakak ini bukan bek.”
“Bohong, Vino pernah kok liat kakak main di lapangan dekat SMAN 1 itu jadi bek! Kakak kan bek yang jago! Vino mau jadi kaya kakak! Tapi gak mau kalah 5-0 kaya kakak ya, hehehe...” (langsung ngeloyor pergi ke dalam rumah dan jatuhin kertas kecil di samping motorku)

“Kakak kalo jadi bek jangan suka maju2, ntar kebobolan lho. :D”

Vinoooooo!!!! Why you’re so misterious! Jauh jauh aku menghindari kamu, kenapa kamu malah nonton pertandingan yang itu!!! And for your notes, jangan sok tau deeeehhhh!
Hufhhh....