Minggu, 29 September 2013

LPDP: AWALNYA CUMA ‘NUMPANG LEWAT’..

LPDP: AWALNYA CUMA ‘NUMPANG LEWAT’..
Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09 
Me - Isnendi Yakub

Sebuah kebanggaan tentunya bisa berada di sini. Awalan yang setengah hati ketika melamar ke kantor ini ternyata mampu tumbuh menjadi sebuah kecintaan yang berdampak besar bagi hidup saya. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tumbuh menjadi solusi bagi banyak mimpi anak bangsa yang selama ini selalu saya ragukan bisa terwujud di negeri ini. Saya Isnendi, menuliskan hal ini untuk kepentingan kawan-kawan yang masih saja bertanya: “Mau di kemanakan negeri ini kalau pemerintahnya saja tidak peduli pada mimpi-mimpi anak bangsa?”
Kedatangan saya di awal lembaga ini didirikan dan masih berjumlah 13 orang PNS ketika itu hanya saya anggap sebagai pengisi waktu luang sebelum akhirnya ditempatkan pada instansi yang seharusnya saya ditempatkan. Sebuah perkataan seorang kawan saya saat berangkat menuju kantor ini sangat saya camkan sampai saat ini: “Kita di sini untuk mengabdi”. Ya, pengabdian nyata untuk seorang anak yang selalu tidak percaya bahwa negeri ini masih punya harapan untuk mewujudkan mimpi bangsa. Sebuah kalimat yang akan selalu menjadikan alasan bagi saya tentang “Untuk apa saya di sini?”.
Sebuah perkataan dari seorang LPDP 1 ketika pertama kali menyambut kami juga masih saya ingat: “Lembaga ini punya cita-cita yang tinggi. Kita bekerja bukan untuk diri kita sendiri. Bayangkan berapa orang bibit bangsa yang terganjal masalah biaya untuk melanjutkan cita-cita mereka akan merasa sangat terbantu dengan layanan yang akan diberikan LPDP.”
Satu kalimat yang saya garis bawahi di sini. “Kita bekerja bukan untuk diri kita sendiri”.
Perlahan namun pasti, pertumbuhan lembaga ini mulai menunjukkan perkembangannya. Jumlah pegawai mulai bertambah. ‘Seleksi alam’ pun mulai terasa. Ada yang datang dan juga tak sedikit yang pergi. Beberapa kali harus mengucapkan selamat jalan kepada kawan-kawan yang pernah punya andil besar di lembaga ini tidaklah mudah bagi saya. Kerja sama antar-partner kerja yang sudah tumbuh secara alami harus kembali dimulai dari awal lagi. Emosi yang sudah terjalin harus kembali tak stabil. Seorang anak muda seperti saya tak jarang merasa ini semua tidaklah adil. Namun mereka berkata: “Inilah dunia kerja”. Baik.. jika inilah mau kalian..
Ada sebuah keterkaitan antara ketiga hal ini: Pengabdian, Bekerja bukan untuk diri sendiri, dan ‘Seleksi Alam’.
Sejatinya, sebuah pengabdian akan selalu menghasilkan sesuatu yang membuat diri kita merasa tidak nyaman. Keinginan mendapatkan penghargaan ataupun sedikit pujian adalah kecacatan sebuah pengabdian. Kesepian karena ditinggalkan beberapa partner kerja melalui proses ‘seleksi alam’ adalah ujian kesetiaan pada sebuah pengabdian. Seberapa kuat diri kita mengabdi tanpa adanya penghargaan akan semakin diuji dengan seringnya kesepian datang karena kepergian kawan-kawan yang sudah terlanjur merasa dekat secara personal.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana untuk senantiasa menjaga niat di dalam hati untuk mendirikan lembaga ini secara lurus. Membangun sistem yang ideal dengan berbagai hambatan yang ada disertai upaya meminimalisasi Crash antar-pegawai. Menjaga nama baik lembaga dengan tidak saling lempar tanggung jawab kepada seseorang ataupun bagian tersendiri sehingga terkesan ‘bola tak lagi ada di tangan kita’. Memposisikan diri sebaik mungkin, tak hanya mau mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya saja, tapi juga bersedia menjadi obat penawar ketika rekan kerja berada dalam kepercayaan diri yang melemah.
Sebuah pengabdian bukanlah sebuah perjuangan mencapai sebuah kepentingan.
Sebuah pengabdian bukanlah ajang saling unjuk kemampuan.
Sebuah pengabdian tak akan pernah mengharapkan balasan.
Sebuah pengabdian tak akan pernah memperhitungkan pengorbanan.
Sebuah pengabdian adalah rasa cinta yang diwujudkan dalam perbuatan yang tak pernah mengenal kata lelah untuk selalu berbuat, berusaha, dan terus berusaha menjadikan yang baik menjadi lebih baik. Selalu menjadi solusi bagi rekan kerja ketika kebuntuan menyapanya.
Akan selalu saya ingat ketika saya merasakan titik terjenuh itu, ada orang-orang yang dengan setia menjadi pendengar yang baik bagi saya. Menawarkan solusi-solusi yang seringkali saya muntahkan begitu saja. Tapi support yang ada tak kunjung memudar. Sebuah motivasi yang mengingatkan saya tentang pengabdian. Sebuah posisi yang mungkin paling cocok untuk saya yang akhirnya saya sadari adalah: Saya bukan seorang Performer, tapi saya siap mengisi sendi-sendi vital dalam tulang punggung organisasi agar lembaga ini tetap bisa berdiri dengan tegak.
Tak perlu pujian. Tak perlu balasan. Hanya sebuah perkembangan organisasi yang membaik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebanggaan yang tiada tara dalam diri saya. Seorang yang dahulunya hanya bisa menuntut pemerintah, kini harus berdiri sejajar dengan pemerintah untuk menjawab tuntutan-tuntutan saya itu. Sebuah penghargaan tertinggi ketika pada saatnya nanti saya bisa melihat senyuman-senyuman pemuda-pemudi negeri yang terjawab impian dan cita-citanya melalui layanan LPDP.
LPDP yang awalnya Cuma ‘numpang lewat’, menjadi rumah kedua bagi saya untuk turut serta mewujudkan mimpi-mimpi para generasi muda pelurus sejarah bangsa.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang baik di kantor ini. Mereka adalah Fahdi, Amri, Bobby, Yasin, Rohmat, serta Ermy Multiyarti.
Fahdiansyah Putra
Khairul Amri Dalimunthe
Bobby F. Sembiring
M. Yasin Pratama
Rohmat Hidayatullah

Thanks for teaching me about this, guys.
Salam Sukses untuk Ermy yang pernah menjadi partner terbaik saya selama ini.
See you on Top, Er!
Ermy Multiyarti


Sabtu, 10 Agustus 2013

MUDIK 2013

Oleh: Isnendi Yakub - STAN '09

Waw.. ini pertama kalinya gw ngisi blog ini dg tulisan dr aplikasi sticky notes! Gw bertekad, pokoknya tulisan ini mesti sukses terposting d blog gw bgmana pun caranya! 

Well.. skrg gw cm mau cerita aj ttg perjalanan mudik gw tahun 2013 M a.k.a 1434 H ini.
Mudik bagi sebagian besar org Indonesia memiliki makna yg dalam. Mulai dari mempererat tali silaturahmi dg keluarga di kampung, sekedar ikut2an keramaian yg ada, atau mgkn jg ad yg berniat utk memperbaiki link yg ada utk memperluas jaringan-jaringan ukhuwah. Mulia mulia aja sih sebenernya. Dan mgkn jg ad yg memiliki niat selain yg gw sebutin td, itu sah sah aja kan.

Mudik bagi keluarga gw sendiri bukan merupakan hal yg baru sekaligus bukan hal wajib utk dijalanin tiap tahunnya. Wajarlah, sbg anak seorang buruh pabrik gini susah bgt buat cari waktu senggang utk mudik. Masa libur bapak yg kdg baru dimulai pas malam takbiran dn udh harus masuk lagi H+2 lebaran bikin kami mau gak mau cm bs mudik 3 hari aja (1hr brgkt, 1hr lebaran, 1hr pulang).
Beruntung skrg bapak udh pensiun, udh tahun ketiga sejak 2011 kami mudik dg lebih santai. Tapi tetep aja ad yg beda. Kl orang2 mudik utk berkunjung k rmh kakek-nenek, kluarga gw mudik mengunjungi sbuah rumah tua tempat mbah-mimi hidup yg skrg dimiliki kluarga kami. Kebayang gak sih rumah tua yg cm 1 tahun sekali kami datangi ini kaya apa? haha.. Jangan mikirin seramnya ya, krn kluarga kami udh kebal sm hal itu. Yg kami dapati tiap mudik 3 tahun terakhir ini adl rumah kosong yg mesti dibersihkan dulu sblm bs kami tinggalin utk 2-4 hr ke depan di sini. Singkat kata, kalo org2 kebanyakan disambut dg org tua dn handai taulan, kami justru msh mesti bersih2 dulu sblm menyambut saudara2 yg terbiasa menjadikan rmh ini sbg basecamp utk bersilaturahmi keluarga besar. Nice, huh? :)

Mudik 2013 ini slain bertujuan utk mempererat tali silaturahmi dg keluarga d kampung pun jg bermakna 'mengumpulkan' keluarga kecil kami. Setahun belakangan ini praktis kami jarang sekali berkumpul secara lengkap begini. Bapak yg msh sibuk narik angkot pascapensiun, Aa yg kerja kdg plg malem, Adik yg jg mulai sibuk dg tugas2 kuliah, plus gw yg plg jaarang dirumah. Bahkan Ramadhan tahun ini cm gw lewatin 3 hr utk buka puasa dirumah. Ibu dn bapak jd kaya pengantin baru krn selalu buka puasa cuma berdua dirumah. 

Next Day...

Hr ini lebaran, kaya standarnya ummat islam yg lain pasti diawali dg pergi ke masjid utk shalat ied, makan makanan khas daerah masing2 sambil silaturahmi. Sdikit ngeluangin wkt buat jalan2 ke tempat wisata dg macet2an yg panjaaang. Haha, bagi gw itu udh gak lagi gw jalanin.

Hari ini ya gw shalat Ied di masjid agung. Ya gw silaturahim ke sanak famili. Ya jg ziarah. Tapi gak sempet buat jalan2 krn maceeettttt. Dan ky yg td gw blg, rmh mbah-mimi ini basecampnya sodara2 kl mau silaturahim. Tanpa ad makanan khas yg kami sediain, toh mereka akhirnya yg bawa makanan utk keluarga gw disini. Ahahaha.. Blm lagi td siang bapak mesti naik genteng lagi buat ngecek genteng yg kt tetangga ad yg bocor kmrn.
Ngomong2 ttg 'kata tetangga ttg rmh ini', ad byk laporan ttg keanehanrmh ini buat mereka tp gak aneh buat kami. Beberapa tetangga melapor ke sanak famili kami disini, katanya rmh ini srg rame tiap malem, byk suara anak kecil lg main2 dn seolah ngobrol2 d kamar depan. Entah itu benar atau gak, tp memang rmh ini gak lagi ditempati sejak kakek-nenek gw wafat. Dn beberapa saudara jg gak berani tuh tiap kami ajak nginap disini pas musim lebaran ky gini. Padahal ya, gw pernah mimpi ketemu sm kedua almarhum dn gw gak takut sama sekali, malah seneng, seneng banget!

Mbah yg seumur hidupnya mengabdi di bidang pendidikan, dr mulai jd guru, kepsek, sampe pernah jd penilik sekolah pgn banget gw jd PNS ky beliau. Tp sejak kecil krn bapak gw seorang buruh, gw jd gak pernah minat tuh jd PNS. Sblm akhirnya gw diterima di STAN dn mulai mengarahkan hati gw buat ngabdi. Tp semua itu telat, krn saat gw diterima di STAN mbah sm mimi udh wafat. Kebayang kn gimana senengnya gw ketemu mereka di mimpi? Bahkan gw sampe bilang "Mbah, Mimi, iis udh mau jd PNS ky mbah nih!" Tp gak ada jawaban apa2 selain senyum dr mereka yg pake pakaian serba putih di mimpi itu. (kdg gw nyesel krn d mimpi itu gw gak sempet meluk mereka). Yaa begitulah kira2 knp gw slalu pgn nginep drmh ini apapun kondisi rumah ini. Hehehe..

Next Chapter..

Keanehan lain..
Seumur2 gw mudik, gak pernah ngalamin yg aneh ky gini nih. Sejak kecil gw tau lah bbrp temen SD, SMP, SMA, STAN yg emg biasanya mudik k cirebon, atau emang org asli cirebon. Tp gak pernah sekali pun gw ketemu sm mereka disini. Nah tahun ini beda. Bedaaa bgt.
H-1 lebaran kmrn, sengaja gw ajak ortu buat jalan2 aja di Cirebon Super Blok. Iseng aja gt. Eh pas lagi muter2 ketemu sm Ayu Miftah Amelia. Temen kantor gw yg udh sejak april lalu gak sekantor lagi yg bhkan nyaris lose contact sama sekali (ini salah gw sih yg lose contact). Yaudah deh nyapa, ngobrol, kenalan sm Sodara2 dy yg dr cirebon. Gw udh tau dr dulu kl dy org cirebon jg, tp gak ad niatan buat janjian aplg ketemu ky gini d cirebon. Ketemu sm sodara2nya pula.
Blm kelar di situ, ketemu pula sm rekan kantor bernama Dasiman Sukardi. Bapak ini udh srg bgt blg pgn ketemu sm ortu gw. Yaudah gw rembukin aj dah tuh sekalian. Ngobrol2 pake bahasa Cirebon yg gw gak paham lah itu. Hari pertama di cirebon ketemu sm 2 org rekan kerja itu rasanya... kok dunia sempit banget ya?

H+1 lebaran a.k.a lebaran hari kedua ini entah knp gw lg pgn makan makanan apapun di cirebon ini. Pas lagi nyari2 makanan gak sengaja papasan sm ibu2 tua gt. Like usual lah salaman dn bla bla bla.. Ketika udh mulai jalan lagi gw baru tanya sm ibu gw "Itu siapa bu?" dn jawaban ibu "Lah kamu gak tau itu siapa? itu ibu bidan Diana yg dulu ngebantuin ibu ngelahirin Aa, kamu, sm Aji." Saat itu gw lgsg liat2an sm kakak-ade gw. Oh my God... beliau yg ngebantu proses kelahiran kami 20an tahun yg lalu! Padahal dulu gw selalu tanya sm ibu yg mana sih Bu Bidan Diana itu? Eh sekalinya ketemu ibu gak bilang itu org yg gw cari2 dr dulu.

Hr terakhir gw di cirebon lagi2 gw iseng ngeWA temen SMA gw yg dr dulu gw tau dy biasa mudik k cirebon. Kebetulan jg baru seminggu yg lalu kita kerja bareng buat ngadain Reuni Ramadhan SMANSASI 09. Krn setau gw dy org Grage (dan gw gatau itu daerah mana) alhasil gw iseng aja ngajak ketemuan. Ngobrol ngobrol ngobrol ngobrol, eh dy bilang lagi di daerah Belender (semoga gak salah tulis) yg kt ortu gw itu gak jauh dr rmh mbah-mimi ini. Dan ketemuan lah gw sm temen SMA ini, Annisa Malati namanya. Ngobrol bareng keluarga dy di Warung Mie Koclok pun jd cerita selanjutnya. Dan sekali lagi, ini gak sengaja gw dapetin lebaran tahun ini! Krn setau gw dy anak Grage jd dr jaman SMA dlu gw males jg ngajak ketemuan kl lg mudik begini.

Oke.. Ini hari terakhir gw mudik di tanah kelahiran gw. Desa Sindang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon. Cerita perjalanan ini gw tutup dg harapan bsk pagi pulang ke Bekasi gak kena macet.
Well.. gw cuma mau share satu hal aja di sini. Bahwa seperti apapun kampung halaman kita, akan selalu punya cerita untuk diabadikan. Kenapa gw msh mau ke sini dan nginep di rumah tua punya mbah-mimi? Krn gw tau, banyak jejak2 tak terlihat di rumah ini, di desa ini, di kabupaten ini. Jejak2 yg gak akan bisa ternilai oleh apapun.

(Sengaja gw gak nampilin gambar atau foto apapun di tulisan kali ini. Technically ini karena gw jg gak paham cara ngupload foto dg Sticky Notes ini. Dan gw jg mau cerita ini cukup bisa menjadikan imajinasi kita terbang tanpa batas. Mgkn ad yg bilang "No Pics = Hoax". Tapi buat gw skrg, "With Pics, it's too mainstream".)

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H.
Maafkan segala Khilaf dan Hak yang belum sempat tertunaikan.
Mari sambut asa untuk perbaiki segala dosa.
Ramadhan tahun depan, Insya Allah akan menjadi jauh lebih indah.


Jumat, 12 Juli 2013

SI KECIL YANG SELALU INGIN BERMAIN (2)

Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09

Sudah lama juga aku tak bermain-main ke halaman ini. Sengaja kuhindari pertemuan dengan si anak kecil yang kini sudah sangat bahagia dengan kehidupan dan mainan barunya itu. Si anak kecil yang sudah kembali riang dan tak menyendiri lagi di keramaian halaman ini. Tapi hari ini entah kenapa aku mulai merindukan halaman ini. Sengaja pula aku melewati halaman ini, sekadar untuk mengingat masa-masa indah bersama anak kecil itu. Dan kau tahu apa yang terjadi? Tak sengaja anak kecil itu kulihat di halaman ini, dan meneriaki namaku dengan kencangnya. Langkah kaki kecil itu pun dipercepatnya dan dengan sekejap ia sudah berada tepat di depanku. Dengan tinggi badannya yang hanya sampai pinggangku. Matanya yang sangat kupahami itu melongok ke arah mataku, dan mulai berkata, “Kakak kemana aja? Main yuk!”
Ahh.. mata itu. Mata yang sangat menyejukkan itu. Mata yang dulu sempat teralih pandangannya ke kebahagiaan yang lain. Kini hadir lagi di depanku.
“Kamu mau main apa? Kakak lagi capek banget..”
Senyumnya merekah, dan dengan santainya menjawab, “Ah, kakak bohong, kakak kan gak pernah capek, apalagi kalo lagi main sm Vino. Ayo kak!!”
Tarikannya sudah mulai kencang rupanya. Lama tak bertemu, Vino mulai tumbuh besar sampai-sampai aku gak ngeh begini. Hehehe..
Baiklahhhhh.... Ayo main, Vino!!!


Lama juga aku tak bermain seperti ini. Bermain kejar-kejaran, main lempar-lemparan bola, sampai tak sadar kepalaku terbentur tiang besi samping ayunan di halaman itu, dan langsung turtunduk diam kesakitan.
Tiba-tiba Vino sudah di depanku, menertawakanku lama, sampai akhirnya diam dan bertanya.
“Kakak kok gak ketawa? Bukannya dulu kakak juga sering ya kejedot kaya gini? Ayo dong ketawa, kak!”
Uuuhhh.... sakit sekali rasanya saat itu.
Emang dasar anak kecil, Vino bukannya menunggu jawabanku malah langsung ambil bola lagi dan mengajakku kembali bermain bola.
“Bruk!!” sekarang wajahku yang terkena lemparan bola anak ini. Dan lagi-lagi Vino tertawa kencang sekali.
“Hahaha, makanya bangun dong, Kak! Mau sampai kapan nunduk terus?!”
“Aargh... berisik kamu Vino! Kakak mau pulang aja!”
Sontak saja aku begitu kesal, dan mempercepat langkahku keluar dari halaman itu.
“Kakak jahat. Kalo mau pulang, ambilin dulu kek bolanya! Nanti Vino bisa mainan lagi kan..”
Langkahku langsung terhenti, kulihat Vino mengambil bola itu dan mulai main lagi, sendirian. Gak sadar sama sekali, sedari tadi kami cuma main berdua aja di halaman ini. Bisa jadi, kalau tadi aku gak lewat, Vino akan tetap bermain sendirian di sini. Perlahan kuhampiri Vino. Dia tetap bermain dengan asyiknya. Kuperhatikan, Vino ini memang lebih senang bermain sendiri kayanya. Kalau pun ada teman main, pasti aku yang jadi pilihan pertama baginya. Perbincangan itu pun dimulai..

V: “Kakak, kakak pernah main bola gak? Vino pengen deh punya badan yang tinggi biar jadi bek yang bisa nyundul bola!”
A: “Kalo punya badan tinggi, kenapa gak jadi striker aja? Kan bisa bobol gawang orang, keren tuh!”
V: “Gak ah, Vino kan gak mau gawang Vino kebobolan, Kak!”
A: “Tapi kan gak keren, nanti gak bisa kaya Ronaldo dong?”
V: “Gak mau!”
A: (Kencang sekali penolakan Vino, kenapa ya...)
V: “Vino tuh lebih seneng jaga gawang daripada nyerang, Kak. Tapi Vino takut jadi kiper. Jadi bek kan bisa jaga gawang juga kan ya kak?”
A: “Emang Vino gak mau jebol gawang orang?”
V: “Kan bek juga bisa jebol gawang orang kak! Kalo striker mana bisa? Hahaha..”
A: (........)
V: “Kakak kok sekarang diem mulu sih? Dulu kakak yang bikin Vino bisa ngomong lho padahal. Kakak sariawan ya? Hahaha...”
A: “Sok tau kamu! Hahaha...”
V: “Abisnya, dulu kakak ngajarin Vino ngomong, sekarang kakak yang diem. Gimana sih kakak?”
Gak sempat aku jawab, Vino kembali melanjutkan kebawelannya.
V: “Pokoknya, nanti kalo Vino udah gede, Vino pengen jadi bek timnas ah! Biar gak kebobolan melulu, malu tau kebobolan melulu kaya gitu.”
Anak ini benar-benar sudah tumbuh dengan baik. 2 tahun gak bertemu ternyata Vino sudah sebesar ini.
“Vino, Vino mau kakak anter pulang gak? Kakak kan belum tau rumah Vino”
“Aah kakak mau modusin kakak Vino ya? Hayooo ngakuuuu!! Hahaha...”
Ngek, anak SD pun udah bisa ngomong ‘modus’ ya. Kamu tumbuh terlalu cepat, nak. J

...

Sampai juga di rumah Vino. Rumah yang sepi. Gak kulihat ada orang tuanya atau kakak yang tadi Vino bilang. Vino pun langsung lari masuk ke rumah. Gak pake pamit lagi. Hahaha.. dasar anak kecil.
Aku pun kembali menyalakan mesin motorku.
Baru mau masukkan gigi 1, Vino mendadak datang lagi dengan berlari.
“Kakak kakak! Kakak mau janji gak sama Vino?”
“Janji apa sih Vino?” (perbincangan itu diiringi suara raungan mesin motorku)
“Vino mau kakak janji, kalau kakak sempat, nanti ajarin Vino supaya bisa jadi bek yang bagus kaya kakak ya!”
“Vino... kakak ini bukan bek.”
“Bohong, Vino pernah kok liat kakak main di lapangan dekat SMAN 1 itu jadi bek! Kakak kan bek yang jago! Vino mau jadi kaya kakak! Tapi gak mau kalah 5-0 kaya kakak ya, hehehe...” (langsung ngeloyor pergi ke dalam rumah dan jatuhin kertas kecil di samping motorku)

“Kakak kalo jadi bek jangan suka maju2, ntar kebobolan lho. :D”

Vinoooooo!!!! Why you’re so misterious! Jauh jauh aku menghindari kamu, kenapa kamu malah nonton pertandingan yang itu!!! And for your notes, jangan sok tau deeeehhhh!
Hufhhh....