LPDP: AWALNYA CUMA ‘NUMPANG LEWAT’..
Oleh: Isnendi Yakub - STAN 09
| Me - Isnendi Yakub |
Sebuah
kebanggaan tentunya bisa berada di sini. Awalan yang setengah hati ketika melamar
ke kantor ini ternyata mampu tumbuh menjadi sebuah kecintaan yang berdampak
besar bagi hidup saya. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tumbuh menjadi solusi
bagi banyak mimpi anak bangsa yang selama ini selalu saya ragukan bisa terwujud
di negeri ini. Saya Isnendi, menuliskan hal ini untuk kepentingan kawan-kawan
yang masih saja bertanya: “Mau di kemanakan negeri ini kalau pemerintahnya saja
tidak peduli pada mimpi-mimpi anak bangsa?”
Kedatangan
saya di awal lembaga ini didirikan dan masih berjumlah 13 orang PNS ketika itu
hanya saya anggap sebagai pengisi waktu luang sebelum akhirnya ditempatkan pada
instansi yang seharusnya saya ditempatkan. Sebuah perkataan seorang kawan saya
saat berangkat menuju kantor ini sangat saya camkan sampai saat ini: “Kita di
sini untuk mengabdi”. Ya, pengabdian nyata untuk seorang anak yang selalu tidak
percaya bahwa negeri ini masih punya harapan untuk mewujudkan mimpi bangsa.
Sebuah kalimat yang akan selalu menjadikan alasan bagi saya tentang “Untuk apa
saya di sini?”.
Sebuah
perkataan dari seorang LPDP 1 ketika pertama kali menyambut kami juga masih
saya ingat: “Lembaga ini punya cita-cita yang tinggi. Kita bekerja bukan untuk
diri kita sendiri. Bayangkan berapa orang bibit bangsa yang terganjal masalah
biaya untuk melanjutkan cita-cita mereka akan merasa sangat terbantu dengan
layanan yang akan diberikan LPDP.”
Satu
kalimat yang saya garis bawahi di sini. “Kita
bekerja bukan untuk diri kita sendiri”.
Perlahan
namun pasti, pertumbuhan lembaga ini mulai menunjukkan perkembangannya. Jumlah
pegawai mulai bertambah. ‘Seleksi alam’ pun mulai terasa. Ada yang datang dan
juga tak sedikit yang pergi. Beberapa kali harus mengucapkan selamat jalan
kepada kawan-kawan yang pernah punya andil besar di lembaga ini tidaklah mudah
bagi saya. Kerja sama antar-partner kerja yang sudah tumbuh secara alami harus
kembali dimulai dari awal lagi. Emosi yang sudah terjalin harus kembali tak
stabil. Seorang anak muda seperti saya tak jarang merasa ini semua tidaklah
adil. Namun mereka berkata: “Inilah dunia kerja”. Baik.. jika inilah mau
kalian..
Ada
sebuah keterkaitan antara ketiga hal ini: Pengabdian, Bekerja bukan untuk diri
sendiri, dan ‘Seleksi Alam’.
Sejatinya,
sebuah pengabdian akan selalu menghasilkan sesuatu yang membuat diri kita
merasa tidak nyaman. Keinginan mendapatkan penghargaan ataupun sedikit pujian
adalah kecacatan sebuah pengabdian. Kesepian karena ditinggalkan beberapa
partner kerja melalui proses ‘seleksi alam’ adalah ujian kesetiaan pada sebuah
pengabdian. Seberapa kuat diri kita mengabdi tanpa adanya penghargaan akan semakin
diuji dengan seringnya kesepian datang karena kepergian kawan-kawan yang sudah
terlanjur merasa dekat secara personal.
Tantangan
selanjutnya adalah bagaimana untuk senantiasa menjaga niat di dalam hati untuk
mendirikan lembaga ini secara lurus. Membangun sistem yang ideal dengan
berbagai hambatan yang ada disertai upaya meminimalisasi Crash antar-pegawai. Menjaga nama baik lembaga dengan tidak saling lempar
tanggung jawab kepada seseorang ataupun bagian tersendiri sehingga terkesan
‘bola tak lagi ada di tangan kita’. Memposisikan diri sebaik mungkin, tak hanya
mau mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya saja, tapi juga
bersedia menjadi obat penawar ketika rekan kerja berada dalam kepercayaan diri
yang melemah.
Sebuah
pengabdian bukanlah sebuah perjuangan mencapai sebuah kepentingan.
Sebuah
pengabdian bukanlah ajang saling unjuk kemampuan.
Sebuah
pengabdian tak akan pernah mengharapkan balasan.
Sebuah
pengabdian tak akan pernah memperhitungkan pengorbanan.
Sebuah
pengabdian adalah rasa cinta yang diwujudkan dalam perbuatan yang tak pernah
mengenal kata lelah untuk selalu berbuat, berusaha, dan terus berusaha
menjadikan yang baik menjadi lebih baik. Selalu menjadi solusi bagi rekan kerja
ketika kebuntuan menyapanya.
Akan
selalu saya ingat ketika saya merasakan titik terjenuh itu, ada orang-orang
yang dengan setia menjadi pendengar yang baik bagi saya. Menawarkan
solusi-solusi yang seringkali saya muntahkan begitu saja. Tapi support yang ada tak kunjung memudar.
Sebuah motivasi yang mengingatkan saya tentang pengabdian. Sebuah posisi yang
mungkin paling cocok untuk saya yang akhirnya saya sadari adalah: Saya bukan
seorang Performer, tapi saya siap
mengisi sendi-sendi vital dalam tulang punggung organisasi agar lembaga ini
tetap bisa berdiri dengan tegak.
Tak
perlu pujian. Tak perlu balasan. Hanya sebuah perkembangan organisasi yang
membaik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebanggaan yang tiada tara dalam
diri saya. Seorang yang dahulunya hanya bisa menuntut pemerintah, kini harus
berdiri sejajar dengan pemerintah untuk menjawab tuntutan-tuntutan saya itu.
Sebuah penghargaan tertinggi ketika pada saatnya nanti saya bisa melihat
senyuman-senyuman pemuda-pemudi negeri yang terjawab impian dan cita-citanya
melalui layanan LPDP.
LPDP
yang awalnya Cuma ‘numpang lewat’, menjadi rumah kedua bagi saya untuk turut
serta mewujudkan mimpi-mimpi para generasi muda pelurus sejarah bangsa.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk
orang-orang baik di kantor ini. Mereka adalah Fahdi, Amri, Bobby, Yasin, Rohmat,
serta Ermy Multiyarti.
![]() |
| Fahdiansyah Putra |
![]() |
| Khairul Amri Dalimunthe |
![]() |
| Bobby F. Sembiring |
![]() |
| M. Yasin Pratama |
![]() |
| Rohmat Hidayatullah |
Thanks for teaching me about this,
guys.
Salam Sukses untuk Ermy yang pernah
menjadi partner terbaik saya selama ini.
See you on Top, Er!
![]() |
| Ermy Multiyarti |







