Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09
Banyak banget yang bilang,
kalo generasi demokrasi cuma ngelahirin generasi yang pinter cuap-cuap aja
tanpa ada aksi lain dari kelanjutan omongan panjangnya itu. Tapi emang secara
gak sadar, generasi demokrasi ini diarahkan menuju ke sana sih. Kurikulum
sekolah yang ‘katanya’ sudah maju, cenderung membiasakan para siswa didikannya
untuk berani bertanya guna melatih diri berbicara di depan umum. Mengungkapkan
gagasan, alasan, dan opini yang terkadang Cuma berdasar atas persepsi pribadi
dan gak ada dasar yang jelas. Ujung-ujungnya Cuma bisa bilang, “Lho, ini kan
hak saya untuk berbicara, negara pun ngatur tentang itu kan? Kalo buat
berbicara aja udah dilarang, apa gunanya dong kita hidup di negara demokrasi?”
Ya, kalo gitu kasusnya sih,
berarti maling pun gak boleh dong digebuki walau udah jelas dia ngerampok orang
di jalanan? Kan dia juga berhak mengemukakan pendapatnya tentang kenapa dia
ngerampok, kenapa dia gak pantas digebuki massa, kenapa dia pantas dapet
pembelaan. Yaa... kalo gitu-gitu doang mah gak ada bedanya antara rampok yang
ngebela diri, sama korban perampokan yang udah jelas-jelas dirampok. Kan
sama-sama berhak berbicara dan membela diri. Ckckck...
Spesialisasi AntiKorupsi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
atau disingkat SPEAK STAN.
Aduh... namanya aja udah
SPEAK, yang juga bahasa Inggris dari ‘Berbicara’. Lagi-lagi di situ-situ aja ya
masalahnya. Apa emang ini didiriin Cuma buat berbicara aja ya? Karena faktanya,
SPEAK Cuma bisa berbicara tentang kasus korupsi. SPEAK Cuma bisa berbicara
AntiKorupsi. SPEAK Cuma bisa ngajak orang supaya gak korupsi. SPEAK Cuma bisa
berbicara jauhi korupsi, karena emang belum pernah aja ngerasain posisi
‘abu-abu’ yang rata-rata itu mendekati korupsi.
Trus apa yang saya akan lakuin
sekarang di SPEAK? Gak ada. Gak ada yang bisa saya lakuin di SPEAK. Gak ada
yang bisa saya lakuin, sebanyak apa yang bisa kalian katakan tentang SPEAK.
Saya hadir Cuma sebatas ingin belajar. Tak ada visi. Tak ada misi.
Kalo emang SPEAK Cuma bisa
bicara, trus apa salahnya kita menamakan diri kita dengan kata yang berarti
‘Berbicara’ itu? Khususnya saya, yang memang adalah produk gagal dari negara
demokrasi yang mengedepankan debat, dan berbicara di depan umum adalah suatu
keahlian yang WAJIB dimiliki siapapun yang ingin sukses di karirnya.
Selama di SPEAK, kontribusi
apa yang udah saya kasih? Lagi lagi saya harus bilang, GAK ADA.
Trus ngapain aja saya di
SPEAK? Gak ada.
Pertanyaan terakhir adalah,
apa yang SPEAK kasih buat saya? Untuk kali ini saya bisa bicara lantang, bahwa
saya GAK DAPET APA-APA selama saya di SPEAK!
.....
Waktu saya di SPEAK pun
berakhir. Terserah mau dibilang apa, tapi memang waktu saya sudah berakhir di
SPEAK. Dan di penutupan kepengurusan, ada sebuah hal yang biasa terjadi. Acara
tukar kado antar-pengurus SPEAK. Kado yang benar-benar ngegambarin saya.
.....
Kenapa kami dinamakan SPEAK?
Karena kami, untuk saat ini, memang Cuma bisa berbicara. Gak perlulah kami
buang-buang tenaga dan waktu kami Cuma buat teriak-teriak AntiKorupsi di depan
gedung KPK yang ujung-ujungnya Cuma menyisakan sampah yang berserakan di
halaman gedung KPK, yang biasa dilakukan orang-orang itu. Kalo kami belum bisa
ngeberantas korupsi kaya yang dilakuin KPK, seenggaknya kami gak memperkeruh
suasana dengan membuat keributan yang bisa saja direkayasa para kaum pembela
koruptor untuk ngelemahin posisi KPK.
Kenapa saya gak bisa ngelakuin
apa-apa selama di SPEAK? Karena apa yang saya lakuin, gak akan sebanding dengan
apa yang udah mereka lakuin selama mereka di SPEAK. Gak perlu lah lagi
dibicarain apa yang udah saya lakuin, karena apa yang saya lakuin gak ada
apa-apanya dibanding apa yang mereka lakuin. Karena mereka gak Cuma SPEAK Up
sama apa-apa aja yang ada di otak mereka. Karena mereka bergerak. Karena mereka
bertindak. Gak Cuma bisa ngomong doang.
Trus ngapain aja saya di
SPEAK? Mudah aja. Saya datang untuk memberikan sedikit warna di organisasi
idaman saya ini. Gak masalah buat saya kalo emang saya gak bisa kasih
kontribusi apa-apa. Kalo pun warna itu gak nampak, minimal saya sempat menjadi
nila setitik yang (semoga tidak) merusak susu sebelangga.
Trus, saya nyesel karena gak
dapet apa-apa dari SPEAK? Ya, saya nyesel. Saya nyesel karena saya tak sempat
mencatat semua pengalaman menarik yang GAK ADA TANDINGANNYA ini. Dalam otak
saya yang sangat terbatas, dan kemampuan otak yang belum teroptimalisasi secara
optimal, SPEAK udah kasih sebuah fresh
memory yang ngasih kesempatan buat saya untuk bisa berfikir positif, bahwa
masih banyak orang baik di luar sana, yang masih peduli sama nasib orang
banyak. Walaupun Cuma bisa ngomong AntiKorupsi, nantinya pasti bakal jadi Gak
Cuma Bisa SPEAK Up.
Emang sih waktu saya di SPEAK
udah berakhir. Waktu saya yang Cuma bisa berbicara itu udah habis. Sekarang
saya harus tanggung jawab atas semua kata-kata itu. Persiapan masuk ke dunia
kerja yang gak jelas lagi ranah hitam—putih—abu-abu itu. Gak boleh lagi Cuma
bisa ngomong, sekarang harus jadi Gak Cuma Bisa SPEAK Up di dunia yang baru!
.....
Buat kado itu. Ada 3 isinya.
Pertama, buku “Terapi Komunikasi Efektif” kayanya bakalan berguna banget. Bisa
diliat sendiri dari cara penyampaian isi tulisan ini yang sangat gak efektif.
Kedua, buku notes bergambar “Angry Bird” yang bawa pesan buat saya supaya tetap
menulis dengan indah di atas kertas putih buku kecil itu, walaupun hati saya
sedang sangat marah kaya”Angry Bird” di sampulnya itu. Dan yang ketiga, sebuah
vitamin yang ngegambarin kepedulian si pemberi kado yang gak sengaja sampai ke
saya itu, bahwa kesehatan adalah segala-galanya.
Pesan untuk SPEAK:
“AntiKorupsi Bukan hanya Sekadar Slogan!”