Minggu, 24 Juni 2012

The Trilogy


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ’09 



Mereka hadir dengan sebuah cerita yang sangat menjengkelkan yang tak pernah bisa diterima dengan akal sehat. Keegoisan masa remaja yang gak bisa ditolerir itu, nyatanya malah justru jadi kekuatan yang menyatukan. Bahu membahu untuk saling melindungi satu sama lain. Berjalan dengan gak saling berurutan, tapi beriringan untuk belajar bijak, dan tumbuh bersama.

Sometimes we fail, and make a fool
But it’s no matter for me,
Because there’s always you beside me, for covering me

Mungkin itulah makna persahabatan, yang gak saling merugikan, malah justu akan selalu bisa untuk dipertahankan, walau apapun yang datang.

Trilogy ini gak cuma sekadar cerita sesaat yang menarik perhatian di cerita awal, berlanjut ke cerita kedua, lalu berakhir di cerita ketiga. Lebih dari itu, Trilogy ini adalah serangkaian cerita yang gak akan ada habisnya. Bahkan ketika mereka menua.

Trilogy ini, semoga akan selalu berakhir happy ending di setiap sub ceritanya. Gak akan ada lagi tokoh utama yang kehilangan jati diri, apalagi hilang, atau kalah dalam pertarungan.


Happy Birthday Yuni,
Have a longlast friendship, ever... and ever... with them...
Keep smiling and doing the best
Be better, better, and better than before
Because friendship is the most valuable treasure in the world, forever...


Jumat, 01 Juni 2012

Gak Cuma Bisa SPEAK Up..


Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09


Banyak banget yang bilang, kalo generasi demokrasi cuma ngelahirin generasi yang pinter cuap-cuap aja tanpa ada aksi lain dari kelanjutan omongan panjangnya itu. Tapi emang secara gak sadar, generasi demokrasi ini diarahkan menuju ke sana sih. Kurikulum sekolah yang ‘katanya’ sudah maju, cenderung membiasakan para siswa didikannya untuk berani bertanya guna melatih diri berbicara di depan umum. Mengungkapkan gagasan, alasan, dan opini yang terkadang Cuma berdasar atas persepsi pribadi dan gak ada dasar yang jelas. Ujung-ujungnya Cuma bisa bilang, “Lho, ini kan hak saya untuk berbicara, negara pun ngatur tentang itu kan? Kalo buat berbicara aja udah dilarang, apa gunanya dong kita hidup di negara demokrasi?”
Ya, kalo gitu kasusnya sih, berarti maling pun gak boleh dong digebuki walau udah jelas dia ngerampok orang di jalanan? Kan dia juga berhak mengemukakan pendapatnya tentang kenapa dia ngerampok, kenapa dia gak pantas digebuki massa, kenapa dia pantas dapet pembelaan. Yaa... kalo gitu-gitu doang mah gak ada bedanya antara rampok yang ngebela diri, sama korban perampokan yang udah jelas-jelas dirampok. Kan sama-sama berhak berbicara dan membela diri. Ckckck...


Spesialisasi AntiKorupsi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara atau disingkat SPEAK STAN.

Aduh... namanya aja udah SPEAK, yang juga bahasa Inggris dari ‘Berbicara’. Lagi-lagi di situ-situ aja ya masalahnya. Apa emang ini didiriin Cuma buat berbicara aja ya? Karena faktanya, SPEAK Cuma bisa berbicara tentang kasus korupsi. SPEAK Cuma bisa berbicara AntiKorupsi. SPEAK Cuma bisa ngajak orang supaya gak korupsi. SPEAK Cuma bisa berbicara jauhi korupsi, karena emang belum pernah aja ngerasain posisi ‘abu-abu’ yang rata-rata itu mendekati korupsi.
Trus apa yang saya akan lakuin sekarang di SPEAK? Gak ada. Gak ada yang bisa saya lakuin di SPEAK. Gak ada yang bisa saya lakuin, sebanyak apa yang bisa kalian katakan tentang SPEAK. Saya hadir Cuma sebatas ingin belajar. Tak ada visi. Tak ada misi.
Kalo emang SPEAK Cuma bisa bicara, trus apa salahnya kita menamakan diri kita dengan kata yang berarti ‘Berbicara’ itu? Khususnya saya, yang memang adalah produk gagal dari negara demokrasi yang mengedepankan debat, dan berbicara di depan umum adalah suatu keahlian yang WAJIB dimiliki siapapun yang ingin sukses di karirnya.
Selama di SPEAK, kontribusi apa yang udah saya kasih? Lagi lagi saya harus bilang, GAK ADA.
Trus ngapain aja saya di SPEAK? Gak ada.
Pertanyaan terakhir adalah, apa yang SPEAK kasih buat saya? Untuk kali ini saya bisa bicara lantang, bahwa saya GAK DAPET APA-APA selama saya di SPEAK!

.....

Waktu saya di SPEAK pun berakhir. Terserah mau dibilang apa, tapi memang waktu saya sudah berakhir di SPEAK. Dan di penutupan kepengurusan, ada sebuah hal yang biasa terjadi. Acara tukar kado antar-pengurus SPEAK. Kado yang benar-benar ngegambarin saya.

.....

Kenapa kami dinamakan SPEAK? Karena kami, untuk saat ini, memang Cuma bisa berbicara. Gak perlulah kami buang-buang tenaga dan waktu kami Cuma buat teriak-teriak AntiKorupsi di depan gedung KPK yang ujung-ujungnya Cuma menyisakan sampah yang berserakan di halaman gedung KPK, yang biasa dilakukan orang-orang itu. Kalo kami belum bisa ngeberantas korupsi kaya yang dilakuin KPK, seenggaknya kami gak memperkeruh suasana dengan membuat keributan yang bisa saja direkayasa para kaum pembela koruptor untuk ngelemahin posisi KPK.
Kenapa saya gak bisa ngelakuin apa-apa selama di SPEAK? Karena apa yang saya lakuin, gak akan sebanding dengan apa yang udah mereka lakuin selama mereka di SPEAK. Gak perlu lah lagi dibicarain apa yang udah saya lakuin, karena apa yang saya lakuin gak ada apa-apanya dibanding apa yang mereka lakuin. Karena mereka gak Cuma SPEAK Up sama apa-apa aja yang ada di otak mereka. Karena mereka bergerak. Karena mereka bertindak. Gak Cuma bisa ngomong doang.
Trus ngapain aja saya di SPEAK? Mudah aja. Saya datang untuk memberikan sedikit warna di organisasi idaman saya ini. Gak masalah buat saya kalo emang saya gak bisa kasih kontribusi apa-apa. Kalo pun warna itu gak nampak, minimal saya sempat menjadi nila setitik yang (semoga tidak) merusak susu sebelangga.
Trus, saya nyesel karena gak dapet apa-apa dari SPEAK? Ya, saya nyesel. Saya nyesel karena saya tak sempat mencatat semua pengalaman menarik yang GAK ADA TANDINGANNYA ini. Dalam otak saya yang sangat terbatas, dan kemampuan otak yang belum teroptimalisasi secara optimal, SPEAK udah kasih sebuah fresh memory yang ngasih kesempatan buat saya untuk bisa berfikir positif, bahwa masih banyak orang baik di luar sana, yang masih peduli sama nasib orang banyak. Walaupun Cuma bisa ngomong AntiKorupsi, nantinya pasti bakal jadi Gak Cuma Bisa SPEAK Up.
Emang sih waktu saya di SPEAK udah berakhir. Waktu saya yang Cuma bisa berbicara itu udah habis. Sekarang saya harus tanggung jawab atas semua kata-kata itu. Persiapan masuk ke dunia kerja yang gak jelas lagi ranah hitam—putih—abu-abu itu. Gak boleh lagi Cuma bisa ngomong, sekarang harus jadi Gak Cuma Bisa SPEAK Up di dunia yang baru!

.....



Buat kado itu. Ada 3 isinya. Pertama, buku “Terapi Komunikasi Efektif” kayanya bakalan berguna banget. Bisa diliat sendiri dari cara penyampaian isi tulisan ini yang sangat gak efektif. Kedua, buku notes bergambar “Angry Bird” yang bawa pesan buat saya supaya tetap menulis dengan indah di atas kertas putih buku kecil itu, walaupun hati saya sedang sangat marah kaya”Angry Bird” di sampulnya itu. Dan yang ketiga, sebuah vitamin yang ngegambarin kepedulian si pemberi kado yang gak sengaja sampai ke saya itu, bahwa kesehatan adalah segala-galanya.

Pesan untuk SPEAK:
AntiKorupsi Bukan hanya Sekadar Slogan!