Oleh : Isnendi Yakub – STAN ‘09
Sabtu pagi, tak sengaja kulihat ada sebungkus mie
telur di laci dapur ketika aku hendak membuat minuman pagiku. Di sebelahnya ada
dua buah telur ayam dan beberapa jenis sayuran seperti kembang kol, jagung,
sawi, dan daun seledri. Terpikir olehku untuk membuat sebuah sajian ringan
untuk siang ini. Ya, mie telur goreng ala-ku.
Segera saja kubersihkan kedua tanganku di wastafel,
dan mulai membersihkan sayuran-sayuran yang telah tersedia itu. Kubuka bungkus
mie telur cap 3 Ayam, dan kuletakkan di dalam wajan. Mulai meracik bumbu dari
banyak jenis bumbu yang ada di meja dapur, yang aku bahkan tak tahu apa
namanya. Memotong-motong sayuran agar lebih mudah disajikan. Atau agar lebih
terlihat ajib untuk dimakan? Entahlah, jemariku bekerja begitu saja membentuk
sayuran itu menjadi bentuk yang menurutku enak dilihat. Hehe,
Sesajian untuk membuat mie telur goreng sudah siap,
tinggal memasukkan bumbu asal jadi ini ke atas wajan. Oseng-oseng pergerakan
alat memasak itu pun sudah mulai memeriahkan waktu memasakku pagi itu, berlagak
seperti seorang chef yang sudah expert hingga gaya seperti ibu ketika sedang
memasak di dapur ini berulang kuperagakan. Dan hasilnya? Hmm.. ada yang bilang,
memasak itu tak bisa kita sendiri yang menilai. Syukurlah bukan lidahku yang
pertama kali harus menjadi tumbal. Haha,
Baik, sasaran pertama adalah Ani. Adikku yang satu
ini orangnya teramat sangat jujur, jadi mungkin perlu dikasih ‘pelajaran’ juga
lidahnya olehku.
“Nih makan, gw bikinin buat lo tuh!” cecarku dengan
sedikit senyum licik. (Haha,)
“Ih, apaan nih, pasti gak enak,” respons pertama Ani
yang memang sudah kuduga.
“Hmm... asin banget! Udah mau kawin kali lo ya?”
timpal si Ani gendut itu.
Dasar si gendut itu, mulutnya terus nyerocos tentang
makanan buatanku ini, tapi habis juga dilahap satu piring lebih mie telur
goreng itu. Yap, berarti mie telur gorengku kali ini memang enak, hanya Ani
saja yang memang tidak mau memujinya. Senangnya..
Jam 11 siang tepat dia datang. Ya, memang dia ini
selalu tepat waktu kapanpun ia bilang akan datang jam berapa. Seorang yang
berkomitmen dengan kata-katanya.
Setelah mengobrol beberapa lama, kutawarkan padanya
hasil karya pertamaku hari ini, mie telur goreng ala-ku. Ya, sebagai tamu dia
memang sangat jarang sekali kujamu, jangankan makanan, terkadang air putih pun
tak kusajikan. Maka kali ini kusajikan untuknya sepiring mie telur goreng
buatanku dengan saus yang kusertakan di sampingnya kalau-kalau dia hendak
menambahkannya ke dalam mie telur goreng ini. Walau aku tahu, dia bukanlah
penikmat makanan pedas, namun mungkin cukup manjur untuk menutupi rasa asin di
mie telur gorengku ini seperti komentar pertama dari Ani tadi.
“Ini, silakan dicobain dulu..” kali ini aku lebih
ramah menawarkan dibanding ketika menawarkan untuk Ani tadi.
“Wah, akhirnya belajar masak juga nih? Aku tumbal
pertama nih ceritanya?” respons pertama yang aku dapat darinya.
“Ah, nggak kok. Tadi si Ani udah nyobain juga.”
“Oh, oke, aku makan ya.” Jawabnya sambil kulihat
bibirnya berkomat kamit seperti mengucap basmallah.
“Hmm.. sebenernya kalau pun ibuku yang buat ini, aku
gak akan memakannya, karena aku gak suka mie telur, aneh rasanya sih. Hahaha,”
lagi-lagi respon seperti ini yang kudapat darinya.
”Gak ada rasanya, hambar, kamu gak pake bumbu kali
ya?” dia malah bertanya, yang justru berkebalikan dengan respons Ani. Siapa
yang benar dan siapa yang salah ya? Atau aku mengaduknya tidak rata? Duhh..
aneh-aneh saja ya pengalaman pertama kali aku memasak ini.
“Nih cobain aja!” dia menghentikan lamunan sejenakku
itu dan menyuapiku mie itu. Dan kami tertawa terbahak-bahak, ternyata memang hambar
sekali rasanya, hahahahahahaaa...
Ah, memang dasar pengalaman pertama memasak, ada-ada
saja komentar orang lain. Dari mulai asin dan dikira mau kawin, sampai hambar
seperti ini. Tapi tetap saja seperti Ani, mie itu pun habis juga dimakannya.
Dasar..
“Gak apa-apa hambar, namanya juga baru pertama kali,
nanti kan bisa belajar lagi,” aku hanya bisa diam, teringat janjiku dahulu
untuk belajar memasak dengan serius, yang sampai sekarang selalu kutunda-tunda.
Dua jam sudah kami berbincang, bercanda, dan bercerita
satu sama lain, dan akhirnya dia pamit pulang, dengan kata penutup yang masih
berkaitan dengan makanan, “Besok besok masakin lagi ya, asin atau pedas gak
apa-apa deh, asal jangan hambar lagi. Hahaha..” Jleb, masih saja dia mengejekku
sebelum pulang.
Kini, di hari spesialku, aku telah berhasil membuat
makanan lagi. Sebuah kudapan bernama Puding ala-ku (lagi). Menurut beberapa
sahabatku yang datang hari ini, rasa puding ini sangat enak, “It’s delicious,
sweet, and cool” katanya.
Tapi dia tak datang untuk menikmati puding ini karena
ada sebuah hal yang tak bisa ditinggalkan.
Untuk kamu, semoga satu saat kamu bisa benar-benar
merasakan puding manis ini, setelah kamu hanya merasakan yang hambar dariku.
